Cerita Inneke

Cerita Inneke
Eps.24


__ADS_3

Matahari pun sudah memancarkan kilau sinarnya yang begitu cerah.


Suasana dikediaman pak Adi pun ramai berdatangan para pelayat. Terlihat diwajah Inneke begitu sendu dengan rasa kesedihan yang begitu dalam menyelimutinya.


Wajah yang selalu terlihat ceria setiap harinya itu pun sama sekali tidak terlihat untuk hari ini.


Jenazah yang sudah dimandikan kini siap dikafankan, Inneke yang sudah sedikit tenang melihat proses pengafanan kedua orang tuanya bersama keempat saudaranya.


Sebelum seluruh tubuh ditutupi, Ilham sang kakak meminta ijin pada petugas. Ia ingin mencium wajah kedua orangtua nya yang terakhir kalinya terlebih dahulu.


"Neng, sekarang giliranmu" ucap ilham setelah ketiga adiknya mencium orang tua mereka.


Dengan didampingi kakak sulungnya, Inneke pun mendekatkan wajahnya pada wajah sang ibunda lalu ia menciumnya.


"Selamat jalan bu, semoga bahagia disana" ucap Inneke lirih


Ilham tersenyum melihat adik perempuannya yang sudah bisa menerima kenyataan itu.


Lalu ia memapah adiknya itu untuk mendekat kejenazah sang Ayah.


"Ayah... Salamat jalan" ucap Inneke lalu mencium bagian wajah ayahnya.


Setelah pengkafanan sudah selesai, kedua jenazah itu pun segera dibawa kemasjid untuk disholatkan.

__ADS_1


Perjalanan menuju tempat pengistirahatan terakhir menempuh jarak yang lumayan jauh sehingga perlu menggunakan kendaraan setelah sholat selesai dilaksanakan beberapa menit yang lalu.


Adit dan Doni yang kebetulan membawa kendaraan roda empat.


"Mas Ilham, ikut barengan kita aja" tawar Doni pada Ilham


"Mmmm, Mas mau titip neng sama kalian ya" ucap Ilham


Karena ia ingin satu mobil dengan jenazah orang tuanya tapi tidak memungkinkan jika ia mengajak adik perempuannya itu.


"Oh boleh, ucap Doni lalu membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Inneke masuk


"Neng mau kan ikut sama Doni, soalnya Mas ikut mobil ambulan" ucap Ilham pada adik perempuannya itu.


Inneke hanya menuruti apa yang di perintah kakaknya.


"Mas, titip Inneke ya. Kalian hati-hati dijalannya" ucap Ilham


"Iya siap mas" balas Doni.


Mobil yang dikendarai Doni pun melaju perlahan mengikuti mobil yang ada didepan.


Selama 15 menit dalam menempuh perjalanan kini para rombongan yang mengantarkan jenazah pak Adi dan istri pun tiba diTPU terdekat dan jenazah mulai dimakamkan.

__ADS_1


Inneke yang menyaksikan jenazah kedua orangtuanya dimakamkan itu pun menangis kembali. Ia benar-benar sedih harus kehilangan kedua orangtuanya secepat ini.


"Ayah... hiks hiks hiks. Ibu... " ucap Inneke menangis


Ilham sang kakak sulung pun menenangkan adiknya itu


"Neng harus kuat ya. "Neng nggak boleh sedih terus-terusan" ucap Ilham merangkul sang adik dan meletakan kepala adiknya pada dada bidang miliknya.


Hanya Ilham lah yang terlihat kuat, tapi sebenarnya yang ia rasakan sama halnya dengan keempat adiknya itu hanya saja ia menutupi itu.


Bagaimana jadinya jika ia pun sama halnya dengan keempat adiknya itu lalu siapa yang akan menenangkan keempat adiknya itu jika bukan dirinya. Pikirnya


Satu persatu para pelayat meninggalkan tempat pemakaman itu, terlihat hanya beberapa anggota keluarga saja yang masih berada disana tak terkecuali Doni dan Adit.


Mereka masih setia disana menemani keluarga yang ditinggalkan itu.


"Ibu maafkan neng yang belum bisa membahagiakan ayah dan ibu hiks.. hiks" ucap Inneke menangis yang memeluk nisan sang ibu.


"Sudah ya neng, yuk kita pulang" ajak Ilham pada Inneke yang masih terlihat sangat sedih sedangkan ketiga adik laki-lakinya itu, mereka sudah tidak terlalu bersedih.


Lalu mereka pun beranjak dan meninggalkan tempat pemakaman itu.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa tinggalkan likeny ya


__ADS_2