
Angga Masih di toilet membersihkan kemejanya yang terkena cipratan kopi, Perlahan dia usap dengan tangannya menggunakan air dar wastafel di toilet, namun noda itu masih saja masih terlihat.
"Sialan, Harus ada saja yang bikin jengkel" Gumamnya sambil terus megusapi kemejanya.
Hani mulai gelisah dengan laptop Angga yang sudah dia bawa kemejanya, saat Hani buka benar saja Laptop itu mati belum menyala, hani pun membersihkannya terlebih dahulu dengan meminta bantuan Asep ( OB ) yang kebetulan lewat setelah dari gudang.
"Kang, lagi sibuk ga ?" tanya hani kepada Asep
"iya mbak, ada apa?" jawab Asep sambil mendekati Hani.
"Saya mau pinjem lap kang" Ucap hani lagi.
Asep yang selalu membawa lap itu pun segera memberikannya kepada Hani.
"Duh mbak Kenapa ini laptopnya ?" tanya Asep
"Kesiram kopi kang" jawab Hani singkat.
" Ko bisa Mbak ?
"Duh kang saya lagi buru - buru harus bersihin ini, Akang lanjut aja kerjaannya nanti lap nya saya kembalikan" Jawab Hani seeikit kesal dengan pertanyaan pertanyaan tersebut, Asep yang menyadari itu pun pergi meninggalkan Hani.
Angga kini sudah keluar dari toilet, meski noda di bajunya masih terlihat membekas. Angga pun menghampiri Hani lagi, Hani yang melihat Angga sudah kembali semakin gugup, Namun Hani mencoba mengulur waktu saat membersihkannya.
"Sudah selesai ?" tanya Angga
"Belum pak, masih saya bersihkan sela sela keyboardnya" jelas Hani
"Kamu tau saya harus kerja, dan bagaimana saya bisa kerja bila itu masih belum selesai, saya kasih waktu kamu setengah jam untuk membersihkan itu saya tidak mau tau lagi" Ujar Angga dengan nada kesalnya.
Mendengar ucapan itu Hani meski kesal karena di marahinya, tapi dia cukup merasa lega dengan waktu yang diberikan Angga. Angga pun kembali meninggalkan Hani tapi tidak untuk keruangannya melainkan ke kantin.
Setalah Angga melangkah jauh, Hani kembali tergesa - gesa menyalakan Laptop Angga sambil membersihkannya, tak butuh lama laptop pun bersih namun masih load data untuk menyala.
Diruangan lainnya, Armand, puteri dan Ronal masih menunggu kabar dari hani dengan kecemasan mereka, hal yang mereka khawatirkan pun benar saja terjadi. Ya Hendrik meminta Armand dan Puteri datang keruangannya.
**** Tuut ...
**** Tuut ...
__ADS_1
"Iya Pak" Sapa Armand dengan gugup saat menerima panggilan telpon dari Hendrik.
"Kamu sama Puteri keruangan saya sekarang" Ucap Hendrik tegas tanpa berbasa - basi.
Armand pun menyampaikan permintaan Hendrik kepada Puteri dan Ronald. ditengah kekhawatiran mereka Puteri berinisiatif lain.
"Kamu tunggu disini biar aku sendiri yang bertemu Pak Hendrik" Ucap Puteri
"Ga put, biar aku temenin kamu" jawab Armand
"Ar, aku mau mengulur waktu, percayakan sama aku" jelaa puteri sambil melangkah keruangan Hendrik.
Armand pun terdiam mencoba mempercayai puteri dengan tetap duduk bersandar di kursinya.
Laptop Angga sudah menyala, hanya saja Hani tidak bisa mengaksesnya begitu saja, Ya butuh pasword untuk mengaksesnya. seketika itu Puteri pun melewati Hani sebelum menuju Ruangan Hendrik.
" Mbak, gimana ?" Tanya Puteri.
"Tunggu Sebentar lagi" jawab Hani singkat seolah tak mau di ganggu.
Mendengar itu puteri pun mengerti bahwa Hani sedang butuh fokus, Puteri pun melanjutkan langkahnya untuk menemui Hendrik.
**** Tok ...
**** Tok ...
"San, Tinggalkan saya bersama Puteri" Perintah Hendrik
Susan pun hanya memanggut dan beranjak dari ruangan Hendrik. sementara Itu Hendik mengambil Telpon genggamnya dan mengghubungi Yoga.
" Pagi Pak Yoga, Saya ingat undangan anda hari ini, tapi mohon maaf yang sebesar - besarnya saya tidak bisa hadir" Ucap Hendrik
Ya Rupanya Hendrik tak bisa menghadiri undangan dari Perusahaan Yoga, namun entah karena masih kecewa dengan Armand Hendrik pun tidak meminta untuk mewakilinya.
Puteri masih berdiri di hapadapan Hendrik yang masih mengobrol dengan Yoga, Menyadari keberadaan puteri yang menunggu Hendrik pun hanya memberikan Isyarat dengan tangannya untuk tetap menunggunya.
Puteripun menunggu dengan duduk di sofa ruangan Hendrik. setelah cukup Lama Puteri menunggu, Hendrik selesai dengan perbincanganya bersama Yoga. Puteri langsung merayu Hendrik sebeleum hendrik berkata seucappun.
"Sayang, Aku kangen kamu, Makanya sehabis dari toilet aku memutuskan kesini tanpa memberitahumu dulu" Rayu Puteri sambil merangkul Hendrik dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Aku sudah menyuruhmu kesini sama Armand bukan untuk datang sendiri" ucap Hendrik dalam pelukan Puteri
"Aku ga tau kamu meminta Armand untuk aku datang sayang" Ucap Puteri.
"Oh ... ya aku ingat, kamu inginkan bukti itu dari aku sekarang ?, kamu lebih mengharapkan itu dari pad keberdaanku ?" Ucap Puteri lagi menekan hendrik dan melepas peluknya.
"Bukan begitu Maksudnya" Bantah Hendrik.
"Terus Apa? Memang kan selama ini Kamu hanya memperlakukanku dengan baik disaat aku harus mecukupi kemauanmu saja kan?" Ucap Puteri lagi dengan marahnya.
"Puteri cukup, aku ga mau orang lain menngetahui hubungan kita ini, ingat kita dimana ini !" jawab Hendrik mencoba menenangkan Puteri.
"Aku ga peduli, semua jelas ko aku yang melakukan kesalahan itu, dan kamu sendiri tahu pandangan mereka di ruang meeting kamaren dan sekarang kamu mau bukti tentang keasalahanku supaya kamu bisa lebih mempermalukanku ?" ucap Puteri terus menekan.
"Kamu salah paham dengan maksudku Puteri" Bantah Hendrik.
"Sudahlah,, Aku tau keinginanmu sekarang, Aku kasih nanti kamu bukti itu supaya kamu bahagia dengan keinginanmu itu, tapi kamu harus tanggung semua akibatnya sendiri" Jawab Puteri sambil mencoba pergi meninggalkan Hendrik.
Namun rupanya Hendrik tidak membiarkan puteri begitu saja dan menahannya.
"Ok, lupakan dulu permasalahan itu, kamu tak perlu terburu - buru dengan bukti itu, bukankah kamu kesini untuk menemuiku karena perasaanmu ?" Jawab Hendrik menenangkan puteri.
"Terserah kamu sekarang" Ucap puteri sambil meninggalkan Hendrik.
Puteri pun keluar meninggalkan Hendrik di ruangannya untuk kembali menemui Armand.
Hendrik yang telah di buat pusing dengan tingkah puteri pun kembali menelpon Armand.
***** Tut ...
"Armand, kamu tak perlu sekarang keruanganku, nanti aku kasih tau lagi aku masih sibuk" Ucap Hendrik tergesa - gesa.
Armand pun terheran dengan sikap Hendrik, dan bertanya - tanya apa yang sudah dilakukan Puteri sehingga Hendrik berubah pikiran.
Terimakasih sudah membaca.
Jangan Lupa dukung terus dengan Follow, Like Vote dan Komen.
^^xx ^^xx ^^xx ^^xx ^^xx ^^xx ^^ xx^^
__ADS_1