
Miko benar-benar penasaran dengan sosok pria yang tadi dekat dengan Renata, ia mencari tahu segala seluk beluk mengenai siapa pria itu dan akhirnya Miko bisa mendapatkan informasi menyeluruh mengenai siapa sosok
Novian. Miko sengaja pergi menuju tempat di mana Novian bekerja, kedatangan wakil CEO membuat para karyawan yang sedang bekerja begitu tegang karena ini kali pertama Miko menginjakan kaki di ruangan kerja mereka. Miko sama sekali tidak mengindahkan karyawan lain yang wajahnya tegang, ia dengan santai
berjalan menuju meja Novian dan mengajak pria itu bicara.
“Namamu Novian, bukan?”
“Iya, ada apa, Pak?”
“Nanti sepulang kerja tolong kamu tunggu saya di lobi, ada sesuatu yang ingin saya katakan padamu.”
“Baik.”
Setelah mengatakan itu, Miko langsung berbalik badan meninggalkan ruangan ini, selepas Miko pergi maka karyawan yang bekerja bisa menghela napasnya lega namun hal sebaliknya dirasakan oleh Novia, ia
benar-benar gugup saat ini, ia penasaran dengan apa yang sebenarnya hendak dikatakan oleh Miko padanya.
****
Selepas jam kerja usai seperti yang Miko katakan tadi, Novian menunggu di lobi kantor sampai Miko tiba di sana, setelah menunggu sekitar 30 menit akhirnya Miko muncul dari balik pintu lift yang terbuka. Novian segera berdiri dan memberikan hormat pada Miko.
“Ikuti aku.”
Novian mengikuti Miko hingga akhirnya mereka sampai di mobil Miko, pria itu meminta Novian untuk masuk ke dalam dan tanpa banyak bertanya Novian segera melakukan seperti yang dikatakan oleh Miko barusan.
Mobil Miko berjalan menuju sebuah jalan yang agak sepi dan di sana Miko meminta sopir untuk berhenti dan keluar dari mobil karena ia ingin bicara empat mata dengan Novian. Selepas sang sopir keluar dari mobil, kini Miko memulai percakapan dengan Novian.
“Kamu pasti bingung kenapa aku mengajakmu ke sini, ya?”
“Iya, memangnya kalau saya boleh tahu apa yang hendak Pak Miko katakan pada saya?”
“Baiklah, kita langsung masuk pada intinya saja, kamu adalah mantan kekasih Renata kan?”
Novian tidak langsung menjawab pertanyaan Miko dan seolah tahu apa yang Novian tengah rasakan sekarang, Miko mengatakan bahwa sebaiknya Novian jujur dan tak perlu takut untuk mengatakan yang sebenarnya padanya.
“Jujurlah padaku, Novian.”
“Iya Pak, saya memang adalah mantan kekasih Renata.”
****
Miko pulang ke rumah selepas bicara dengan Novian, Renata nampak heran kenapa Miko bisa pulang tidak larut malam seperti biasanya atau bahkan mungkin tidak pulang ke rumah.
“Aku sudah bicara dengan Novian.”
Sontak saja Renata terkejut dengan apa yang dikatakanoleh Miko barusan, ia buru-buru menghampiri Miko dan bertanya apa maksud ucapannya barusan.
__ADS_1
“Aku sudah tahu kalau pria itu adalah Novian, dia adalah mantan kekasihmu kan?”
“Dari mana kamu bisa mengetahui hal itu?”
“Tadi siang aku melihatmu terlihat dekat dengan pria itu selepas insiden penembakan yang gagal di kantor, aku sudah mengkonfirmasi langsung pada Novian bahwa memang kalian berdua pernah menjalin hubungan jadi
kamu tidak bisa lagi berkelit padaku, Renata.”
“Apa saja yang kamu dan Novian bicarakan?”
“Aku hanya bertanya apakah dia benar mantan kekasihmu atau tidak dan dia mengakuinya lalu ketika aku bertanya apakah dia akan merebutmu dariku, dia menjawab tidak.”
“Pertanyaan konyol.”
“Apakah kamu masih mencintainya?”
“Untuk apa aku harus menjawab pertanyaanmu barusan?”
“Apakah selama ini diam-diam kamu menemuinya di belakangku?”
“Jangan bicara omong kosong!”
Selepas mengatakan itu, Renata buru-buru pergi meninggalkan Miko dan masuk ke dalam kamar. Miko nampak menyeringai sebelum menyusul Renata masuk ke dalam kamar.
****
“Miko.”
“Ada apa?”
“Kamu tidak akan memecat Novian kan?”
Miko menatap Renata dengan tatapan yang sulit untuk diartikan, Renata nampak tak nyaman dengan tatapan yang Miko berikan padanya hingga Renata memutuskan untuk memalingkan wajahnya dari sang suami.
“Kamu sepertinya peduli sekali padanya.”
“Kami sudah tidak ada hubungan apa pun saat ini, jangan karena cemburu pada mantan kekasihku maka kamu bisa bersikap sewenang-wenang padanya.”
“Apakah menurutmu aku akan memecat pria itu hanya karena dia adalah mantan kekasihmu?”
“Bisa saja begitu.”
“Kamu salah Renata, aku tidak akan memecatnya.”
“Benarkah?”
“Tentu saja, lagi pula tidak ada sesuatu yang bisa membuatnya dipecat kecuali dia melakukan pelanggaran kerja dan orang yang berhak memecatnya tentu saja adalah papaku karena dia adalah CEO perusahaan itu.”
__ADS_1
“Syukurlah kalau begitu.”
Miko kemudian berpamitan pada Renata untuk pergi bekerja, selepas ia sudah masuk ke dalam mobil dan mengenakan sabuk pengaman,Miko nampak menyeringai.
“Aku memang tidak akan memecatnya namun dia bisa aku jadikan alat supaya kamu tidak dapat bercerai denganku.”
****
Sementara itu Ruth baru saja pulang sekolah dan seperti biasa ia dijemput oleh sopir pribadinya, Ruth sudah masuk ke dalam mobil dan dalam perjalanan pulang namun sesuatu hal yang buruk terjadi ketika mobil yang ia tumpangi dihadang oleh sebuah mobil jenis SUV.
“Ada apa, Pak?”
“Nona Ruth tetaplah di dalam mobil.”
“Aku takut.”
“Tenanglah.”
Nampak ada dua orang yang turun dari mobil berjenis SUV itu menghampiri mobil yang ditumpangi oleh Ruth, dua orang itu menggedor kaca jendela bagian sopir dan meminta sopir ini keluar dari dalam mobil hingga
akhirnya sopir Ruth pun keluar dari dalam mobil karena ia tidak ingin membahayakan anak dari majikannya.
“Siapa kalian?”
Namun mereka berdua tidak menjawab pertanyaan dari sopir Ruth, salah satu dari mereka melepaskan pukulan hingga membuat sopir itu terjatuh dan salah seorang dari mereka membuka pintu bagian belakang dan membekap mulut Ruth seraya memasukan gadis malang itu ke dalam mobil SUV itu.
“Tolong!”
Namun sopir Ruth tidak bisa menyelamatkan anak majikannya karena mobil SUV itu sudah melaju meninggalkannya, Ruth nampak berteriak meminta tolong walaupun dia ada di dalam mobil namun tentu saja
teriakan minta tolongnya itu sama sekali tidak dipedulikan oleh kedua orang itu.
“Berisik!”
“Om tolong turunkan aku.”
“Tentu saja kami tidak akan menurunkanmu!”
Akhirnya mereka sampai di sebuah rumah yang jauh dari permukiman penduduk, Ruth dibawa keluar oleh dua orang itu sementara gadis kecil itu berusaha melawan dan melarikan diri namun tentu saja usahanya sia-sia
saja.
“Lepaskan aku! Tolong!”
“Diam kamu! Ayo masuk!”
“Tolong! Tolong!”
__ADS_1