
Elhora nampak tidak mau terburu-buru mengatakan pekerjaan apa yang akan ia berikan pada Novian, wanita itu mengantarkan Novian sampai ke rumah dan masih belum mau memberitahu pekerjaan apa yang akan
diberikan pada pria itu.
“Pokoknya kalau saatnya sudah tepat maka aku akan segera memberitahumu.”
“Baiklah Nyonya, terima kasih banyak.”
“Tidak masalah.”
“Saya permisi dulu.”
Novian keluar dari dalam mobil Elhora, pria itu nampak
melambaikan tangan pada Elhora sebelum masuk ke dalam rumah itu. Selepas Novian masuk ke dalam rumah, Elhora melajukan kendaraannya menuju suatu tempat yang tidak lain adalah rumah sakit jiwa tempat di mana Miley dirawat, kali ini ia langsung diizinkan untuk bertemu Miley oleh perawat dan bahkan perawat itu mengantarkan Elhora sampai ke tempat di mana Miley dirawat.
“Terima kasih banyak.”
****
Ketika Elhora datang, nampak Miley sedang menatap keluar jendela ruangan inapnya dan mendengar suara pintu terbuka membuat Miley menoleh sekilas dan begitu mengetahui bahwa yang datang mengunjunginya saat ini
adalah sang mama membuatnya begitu bahagia dan langsung membalikan seluruh tubuhnya.
“Mama.”
“Bagaimana kabarmu, Nak? Kamu baik-baik saja kan selama ada di tempat ini?”
“Seperti yang Mama lihat saat ini, aku nampak baik-baik saja kan?”
“Syukurlah kalau begitu, Mama takut kalau kamu mengalami hal yang buruk saat kamu kembali dirawat di rumah sakit jiwa ini.”
“Namun nyatanya tidaklah seperti itu kan?”
“Mama datang ke sini karena ingin membicarakan sesuatu padamu.”
“Apa yang ingin Mama bicarakan padaku?”
“Kenapa saat orang-orang dari rumah sakit jiwa ingin menjemputmu kembali ke rumah sakit ini kamu sama sekali tidak menolak, bahkan kalau Mama perhatikan kamu cenderung mengiyakan saja apa yang mereka inginkan
bukankah kamu tidak suka tempat ini?”
“Siapa yang suka rumah sakit walaupun fasilitasnya mewah dan lengkap, alasan kenapa aku mau dibawa ke sini adalah untuk membuat Miko percaya kalau aku sudah sembuh dan bisa dikeluarkan dari tempat ini.”
“Kamu terlalu naif, Nak.”
__ADS_1
“Iya, bicaralah apa pun yang Mama ingin katakan, namun aku yakin kalau dengan cara seperti ini maka Miko sudah tidak lagi memiliki alasan untuk memasukanku kembali ke rumah sakit jiwa.”
“Apakah kamu yakin kalau keselamatanmu akan terjamin di tempat ini? Terutama anak yang ada di dalam kandunganmu itu?”
“Aku yakin sekali.”
****
Sekar nampak kecewa saat pria yang menjadi selingkuhannya itu tidak mau lagi berhubungan dengannya karena sekarang dia sudah jatuh miskin, walaupun Sekar sudah memohon dan meminta padanya untuk tidak pergi meninggalkannya namun nyatanya hal tersebut sama sekali tidak membuat pria itu bergeming.
“Sekarang kamu sudah bukan siapa-siapa lagi, aku tidak mau berhubungan dengamu lagi.”
“Tega sekali kamu mengatakan itu padaku, apakah kamu tidak ingat kalau dulu aku selalu memberikan apa pun yang kamu inginkan? Kenapa sekarang kamu menjadi orang yang sama sekali tidak tahu berterima kasih?”
“Itu kan dulu, dulu ketika kamu masih menjadi istri Tuan Andra yang kaya raya, sekarang setelah kejahatanmu terbongkar dan suamimu tahu, dia ingin menceraikanmu dan kamu tidak akan bisa mendapatkan apa yang
kamu inginkan, kamu sudah jatuh miskin sekarang.”
Hati Sekar begitu sakit saat mendengar hinaan yang keluar dari mulut pria ini, ia benar-benar marah dan kecewa pada pria ini karena dulu ketika dirinya kaya bisa memberikan apa pun yang diinginkan olehnya namun saat ia sudah jatuh miskin maka semua yang sudah pernah ia berikan seolah tidak lagi berharga.
“Kalau sudah tidak ada lagi yang ingin kamu bicarakan denganku, aku pergi dulu.”
“Tidak, kamu tidak boleh pergi dulu, aku belum selesai bicara denganmu!”
****
mereka nantikan itu akhirnya akan datang juga.
“Sejujurnya aku gugup namun tidak sabar menunggu sampai hari pernikahan kita tiba,” ujar Nesa.
“Iya aku pun begitu,” ujar Kenzo.
“Ngomong-ngomong bagaimana keadaan kakakmu saat ini?”
“Begitulah, dia masih tinggal di rumah kedua orang tuaku, namun ada sedikit masalah dengan Ruth.”
“Ada apa dengan Ruth?”
“Miko dan Renata sepertinya saling memperebutkan Ruth, Miko tahu bahwa cara membuat Renata tetap bersama adalah dengan membuat Ruth terus tinggal bersamanya namun di sisi yang lain, kakakku itu tetap ingin bercerai dari kakakmu dan ingin agar hak asuh Ruth jatuh ke tangannya.”
“Hubungan mereka jadi semakin pelik saat ini.”
“Begitulah, yang satu tetap ingin mempertahankan rumah tangga walaupun tanpa cinta yang satu lagi ingin berpisah sekuat tenaga.”
“Aku tidak mau kita berdua harus berakhir seperti itu, Kenzo. Kalau ada masalah apa pun dengan kita, lebih baik kita bicarakan sejak awal agar tidak menjadi masalah yang besar di kemudian hari.”
__ADS_1
“Aku pun juga tidak mau sampai ada masalah di kemudian hari yang membesar, semoga saja pernikahan kita dijauhkan dari pertengkaran hebat seperti yang sedang melanda Renata dan Miko.”
****
Ketika Nesa dan Kenzo baru saja selesai makan dan hendak pulang ke rumah masing-masing, ponsel Nesa berdering menandakan ada panggilan masuk saat ini, ia buru-buru meraih ponselnya yang ada di dalam tas untuk
melihat siapa orang yang menelponnya saat ini, ketika ia melihat layar ponselnya rupanya orang yang menelponnya saat ini adalah Renata.
“Siapa yang menelpon?” tanya Kenzo.
“Kakakmu yang menelpon,” jawab Nesa.
“Untuk apa dia menelponmu?”
“Mana aku tahu.”
Nesa kemudian menjawab telepon dari Renata itu, Kenzo nampak penasaran apa yang saat ini sedang dibicarakan oleh mereka berdua.
“Ada apa kamu menelponku?”
“Nesa, apakah kamu tahu di mana rumah Miko yang lain?”
“Rumah Miko yang lain?”
“Iya, bukan rumah yang kami tempati, aku tahu kamu pasti tahu di mana rumah Miko yang lain kan?”
“Iya, memang ada sih memangnya kenapa kamu bertanya itu?”
“Bisakah tolong kamu berikan alamatnya padaku, aku sangat membutuhkan alamat itu sekarang.”
“Baiklah, aku akan segera mengirimkan alamatnya padamu.”
“Terima kasih banyak.”
Nesa kemudian menutup sambungan teleponnya dan mengirimkan alamat di mana rumah Miko yang lain, Kenzo pun bertanya pada Nesa apa yang barusan mereka berdua bicarakan.
“Kakakmu bertanya di mana rumah Miko yang lain, sepertinya kakakku itu membawa Ruth ke rumahnya yang satu lagi.”
“Astaga.”
“Semoga saja masalah yang sedang menimpa mereka bisa segera menemui jalan keluarnya.”
“Amiin, aku pun berdoa seperti itu.”
“Kalau begitu, aku pulang dulu.”
__ADS_1
“Hati-hati di jalan.”