Cinta Itu Kamu

Cinta Itu Kamu
Sesuatu yang Membuat Kesal


__ADS_3

Novian tentu saja tidak percaya begitu saja dengan ibunya karena ia tahu saat ini ibunya sedang berbohong maka ia pun mendesak pada ibunya supaya mengatakan kejujuran padanya.


“Benar, Ibu sama sekali tidak berbohong padamu.”


“Apakah begitu sulit bagi Ibu untuk mengatakan yang sejujurnya padaku?”


Pada awalnya memang sang ibu begitu ngotot tidak ingin memberitahu Novian mengenai masalah yang sedang ia hadapi saat ini, namun karena Novian yang terus mendesak supaya ibunya ini mengatakan yang sejujurnya maka apa boleh buat, ia pun mengatakan yang sejujurnya pada Novian.


“Apa? Jadi ibu memiliki utang?”


“Iya Ibu memiliki utang dan orang itu sudah menagih utang Ibu harus segera dibayar karena kalau tidak, dia akan mengambil sertifikat rumah ini.”


****


Novian tidak bisa tidur nyenyak akibat memikirkan masalah yang tengah dihadapi oleh sang ibu saat ini, utang dalam jumlah yang banyak itu tentu saja tidak cukup untuk ia lunasi dengan uang tabungannya. Novian jadi berpikir mengenai tawaran yang diberikan oleh Elhora padanya, namun buru-buru ia menolak pikiran buruk itu.


“Tidak, aku tidak boleh sampai merendahkan diriku seperti itu.”


Namun semakin Novian berpikir, sepertinya tidak ada jalan yang lain untuk melunasi utang yang dimiliki oleh ibunya selain melakukan seperti yang diinginkan oleh Elhora. Keesokan harinya, Novian berniat untuk bertemu dengan Elhora namun tanpa ia duga justru malah bertemu dengan Renata yang sedang dalam perjalanan menuju rumahnya.


“Novian?”


“Renata?”


“Kamu mau pergi ke mana?”


“Anu… aku mau pergi ke suatu tempat.”


“Di mana? Biar aku antarkan.”


“Tidak perlu, aku bisa sendiri.”


Renata merasa kalau ada sesuatu yang janggal dari Novian saat ini, ia meminta pria itu masuk ke dalam mobilnya. Pada awalnya Novian menolak namun karena Renata terus memaksa, maka Novian pun akhirnya menuruti apa yang Renata katakan.


“Sekarang katakan apa yang sebenarnya terjadi.”


“Sudah aku katakan padamu bahwa tidak ada apa-apa kan?”


“Novian, aku tahu bahwa kamu saat ini tengah menyembunyikan sesuatu, tidak apa, kamu bisa bicara padaku.”


Novian nampak terdiam beberapa saat seraya memikirkan apakah ia harus mengatakan masalah yang tengah ia hadapi pada Renata atau tidak.


****

__ADS_1


Renata masih menunggu sampai Novian mengatakan masalah apa yang saat ini tengah menimpanya, hingga akhirnya Novian pun mengatakan sesuatu padanya yaitu masalah yang sedang ia hadapi.


“Sebenarnya aku memang ada sedikit masalah, namun aku tidak mau merepotkanmu.”


“Katakan saja, barang kali aku bisa membantumu.”


Novian malah jadi tidak enak untuk mengatakan masalahnya, namun karena sudah kepalang tanggung maka ia bercerita saja pada Renata mengenai masalah apa yang saat ini tengah menimpanya.


“Jadi ibumu terlilit utang dan utang tersebut harus segera dilunasi?”


“Begitulah.”


“Berapa banyak?”


“Tidak perlu Renata.”


“Ayolah, kamu tidak perlu merasa tidak enak begitu, aku ikhlas ingin menolong keluargamu.”


“Tidak perlu Renata, aku bisa mencari pinjaman yang lain.”


“Namun itu akan lebih berisiko, aku tidak mau kalau kamu malah terlibat masalah yang lain.”


Novian terdiam memikirkan ucapan Renata barusan, tangan wanita itu kini menggenggamnya dengan lembut. Novian pun menatap ke arah Renata yang saat ini tengah menatapnya, dari kedua sorot matanya saja Novian


“Katakan saja semuanya padaku, aku akan mencoba membantu sebisaku.”


“Tapi aku… aku ….”


“Sudahlah, kamu tidak perlu terlalu banyak berpikir, katakan berapa nominalnya aku akan segera memberikannya padamu.”


****


Miko pergi ke pemakaman umum tempat di mana sang mama terbaring untuk selama-lamanya, air mata pria itu tumpah ketika bersimpuh di sebelah makam sang mama. Miko mengusap batu nisan itu dan nampak masih tak


percaya dengan apa yang papanya katakan padanya barusan.


“Katakan padaku bahwa itu semua tidak benar, Ma. Tolong katakan kalau semua yang papa katakan padaku tidak benar.”


Miko menangis tersedu-sedu di sana, ia mengeluarkan semua emosi yang tersisa di dalam tubuhnya hingga perlahan tangis itu mereda dan ia mulai menghapus sisa air mata yang barusan mengalir di kedua pipinya.


“Papa tahu bahwa ini begitu berat untukmu untuk menerimanya, namun itulah kenyataannya, Nak.”


Miko terkejut dan tak menyangka kalau papanya kini sudah berdiri di sebelahnya, Miko masih menggelengkan kepalanya tanda bahwa ia menolak dengan penjelasan yang sudah papanya katakan padanya barusan.

__ADS_1


“Tidak, aku masih tidak mempercayai Papa, aku yakin kalau saat ini Papa hanya sedang berbohong supaya aku mau menceraikan Renata, Papa tidak menyayangiku!”


“Papa menyayangimu, karena Papa menyayangimu itulah maka Papa mengingatkan supaya kamu tidak salah dalam mengambil keputusan seperti yang sudah pernah Papa alami sebelumnya.”


“Tidak, aku tidak akan percaya dengan apa yang Papa katakan saat ini, bagiku Papa adalah seorang penipu!”


****


Miley sedang ada di taman rumah sakit jiwa, ia duduk sendirian melihat tanaman yang tumbuh di taman ini hingga akhirnya ia melihat ada seorang wanita yang baru saja diturunkan dari mobil, sepertinya wanita itu


adalah pasien baru di rumah sakit jiwa itu. Wanita itu meronta dan berteriak histeris ketika dibawa masuk ke dalam rumah sakit jiwa dan hal tersebut mengingatkannya dulu ketika pertama kali ia menginjakan kaki di rumah sakit


jiwa. Ia melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh wanita itu, sampai akhirnya Miley memutuskan untuk kembali ke ruangan inapnya untuk beristirahat, ketika ia sudah sampai di ruangan inapnya nampak seorang perawat membawakannya minuman.


“Ini untukmu.”


“Untukku?”


“Iya, silakan diambil, dokter bilang kamu harus lebih banyak minum air putih dan kemudian jangan lupa minum obatnya setelah makan.”


“Baiklah terima kasih banyak.”


Perawat itu keluar dari ruangan inap Miley, Miley merasa heran kenapa perawat itu memberikannya minuman hingga ia berpikir bahwa minuman itu adalah sesuatu yang sudah diberikan racun oleh perawat atas suruhan


Miko.


“Pasti ini ulah Miko.”


Miley mendapatkan tamu yaitu mamanya, ketika datang ke ruangan inapnya ini nampak Elhora begitu kesal dan Miley tidak paham apa yang membuat mamanya itu kesal ketika datang ke ruangan inapnya.


“Mama mau minum?” tawar Miley.


Elhora menerima minuman yang disodorkan oleh Miley itu dan meneguknya dalam sekali teguk, Miley memperhatikan reaksi mamanya selepas meneguk minuman itu.


“Kenapa kamu memperhatikanku?”


“Tidak, apa yang membuat Mama datang ke sini?”


“Mama hanya merindukanmu, memangnya tidak boleh kalau Mama datang ke sini?”


“Mama tidak dapat membohongiku, saat ini pasti ada sesuatu hal yang membuat Mama kesal kan?”


“Sejujurnya memang ada hal yang membuat Mama kesal, namun Mama tidak mau membahasnya denganmu mengenai masalah itu.”

__ADS_1


__ADS_2