
Renata pergi untuk menjemput Ruth di sekolah putrinya, rupanya saat ia baru saja tiba di sana, Ruth nampak sudah masuk ke dalam mobil Miko, tentu saja Renata langsung buru-buru turun dari dalam mobilnya dan
berlari ke arah mobil tersebut sebelum mobil itu melaju.
“Tunggu!”
Renata langsung menahan tangan Ruth yang hendak masuk ke dalam mobil, Ruth nampak tidak suka dengan kedatangan mamanya, ia berusaha meronta dan meminta mamanya melepaskannya.
“Ayo ikut pulang bersama Mama.”
“Aku tidak mau pulang bersama Mama! Aku mau pulang ke rumah!”
“Nak, tolong dengarkan Mama, kita tidak bisa pulang ke rumah itu lagi.”
“Kenapa? Itu kan rumah kita.”
“Pokoknya mulai sekarang kita tidak akan tinggal di rumah itu lagi.”
“Tidak mau, aku tidak mau tinggal di rumah kakek dan nenek.”
****
Setelah memalui perdebatan yang lama akhirnya Renata bisa juga membawa Ruth untuk ikut bersamanya pulang ke rumah kedua orang tuanya, Ruth sepanjang jalan menangis namun Renata tidak mempedulikan tangisan
anaknya dan fokus mengemudi.
“Aku tidak mau pulang ke rumah kakek dan nenek.”
Namun tentu saja Renata sama sekali tidak bergeming dengan apa yang dikatakan oleh putrinya barusan hingga akhirnya mereka tiba di rumah kedua orang tuanya, Marinka sudah menunggu kepulangan mereka, wanita itu berjalan membukakan pintu mobil untuk membantu Ruth turun namun anak itu nampak tidak suka.
“Aku tidak suka tinggal di sini, aku ingin pulang!”
“Ruth, mulai sekarang ini adalah rumah kita, kamu harus mulai membiasakan dirimu!” bentak Renata.
Bentakan Renata itu membuat Ruth tambah menangis, Marinka barusaha untuk menenangkan cucunya dengan membawanya masuk ke dalam rumah. Renata benar-benar pusing harus menghadapi Ruth yang selalu berontak ketika dibawa ke rumah ini. Ketika Renata baru saja masuk ke dalam rumah, ponselnya berdering dan ketika ia melihat layar ponselnya nampak nama Miko tertera di sana.
“Ada apa lagi?”
“Kenapa kamu membawa Ruth ke rumah orang tuamu?”
“Sebab ini adalah rumahku, Ruth tidak boleh tinggal denganmu.”
“Kamu jangan egois, Ruth sudah memilih bahwa dia ingin tinggal di rumah kita, jadi seharusnya kamu menghormati keputusannya.”
“Rumah kita? Tidak lama lagi tidak ada kata ‘kita’ lagi di rumah itu!”
****
Renata menutup sambungan telepon Miko dengan jengkel, tidak lama kemudian Marinka turun dari lantai dua, Renata bertanya pada sang mama mengenai keadaan Ruth saat ini.
__ADS_1
“Dia sudah tidak lagi menangis.”
“Syukurlah kalau begitu.”
“Apakah Miko barusan menelponmu?”
“Iya, dia barusan menelponku, dia mengatakan bahwa seharusnya aku tidak memaksakan kehendakku pada Ruth.”
“Astaga pria itu benar-benar.”
“Aku semakin muak dengan pria itu, sepertinya jalanku untuk berpisah dengannya tidaklah mudah.”
“Tidak mudah bukan berarti tidak bisa sayang, Mama dan Papa pasti akan membantumu sampai kamu bisa bercerai dengan Miko.”
“Terima kasih banyak, Ma. Aku mau ke kamar dulu.”
“Iya Nak.”
Renata kemudian pergi ke kamarnya, setelah ia sampai di kamar ia mendapatkan telepon dari Novian, dengan segera Renata menjawab telepon dari Novian ini.
“Ada apa? Kok tumben sekali kamu menelponku jam segini?”
“Aku hanya ingin memberitahumu bahwa saat ini aku sudah dipecat dari perusahaan suamimu.”
“Dia benar-benar memecatmu?”
“Iya, namun aku menerimanya, anggap saja ini adalah konsekuensi yang harus aku hadapi ketika memperjuangkan cinta kita.”
“Tidak Renata, tolong kamu jangan lakukan itu, aku ingin mencarinya sendiri.”
****
Miko mendapatkan laporan dari orang suruhannya selepas kejadian kebakaran rumah sakit jiwa kala itu, sampai detik ini Miley belum juga ditemukan. Miko menyuruh orang suruhannya untuk mencari di mana keberadaan
Miley dan kalau ia sudah menemukan wanita itu, maka harus segera diserahkan ke rumah sakit jiwa lagi.
“Miley, semoga saja dia sudah mati terpanggang di dalam rumah sakit itu.”
Tidak lama setelah ia usai menelpon orang suruhannya, Miko mendapatkan telepon lagi namun kali ini dari orang lain, ia segera menjawab telepon dari nomor ini.
“Ada apa kamu menelponku?”
“Tuan Miko, saya memiliki informasi penting untuk anda.”
“Informasi penting soal apa?”
“Sekar sepertinya sedang merencanakan pembunuhan terhadap papa anda.”
“Benarkah? Apakah kamu memiliki buktinya?”
__ADS_1
“Iya, saya sudah memiliki buktinya.”
“Baguslah, segera serahkan bukti itu padaku.”
“Baik Tuan.”
Tidak lama kemudian orang itu memberikan bukti percakapan dengan Sekar perihal keinginan mama sambungnya itu membunuh sang papa, Miko nampak menyeringai puas setelah ia mendapatkan apa yang ia inginkan
ini. Dengan bukti ini maka kejahatan Sekar akan terbongkar dan papanya akan sangat membenci wanita itu.
“Dengan bukti ini, aku akan menghancurkan hidupmu! Kamu tidak akan dapat lagi berkelit.”
****
Renata jadi uring-uringan selepas mendengar kabar bahwa Novian sudah tidak lagi bekerja di perusahaan Miko karena suaminya itu memecatnya, Renata jadi merasa bersalah pada Novian karena gara-gara dirinya
maka pria itu harus kehilangan pekerjaannya. Namun di sisi yang lain, Renata juga bahagia karena itu artinya Novian benar-benar ingin memperjuangkan cinta mereka walaupun jalan yang mereka lalui tidaklah mudah.
“Nak, waktunya makan malam,” ujar Marinka yang datang ke kamarnya.
“Iya Ma, aku akan segera turun.”
“Apakah ada sesuatu yang terjadi? Sepertinya kamu sedang memikirkan sesuatu, ya?”
“Ah tidak kok, aku akan segera turun ke bawah.”
“Baiklah, Mama tunggu kamu di bawah, ya?”
Selepas itu Marinka kemudian pergi dari kamar Renata, sebelum keluar dari dalam kamarnya, Renata menghela napasnya panjang dan kemudian barulah ia melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar menuju lantai bawah di
mana keluarganya sudah menunggu untuk makan malam. Renata duduk di kursinya, ia melihat Ruth masih cemberut dan nampak tidak mau menyentuh makan malamnya.
“Ruth, ayo makan,” ujar Renata.
“Aku tidak mau makan, aku mau pulang,” ujar anak itu.
“Pulang ke mana? Ini kan rumahmu juga.”
“Ini bukan rumahku, aku mau bertemu papa.”
“Sudahlah Renata, biarkan saja dia, nanti Mama akan coba bicara dengannya,” ujar Marinka yang berusaha menenangkan Renata yang nampak kesal pada anaknya karena tidak mau menuruti apa yang ia katakan.
Selepas makan malam, Marinka mengajak cucunya itu untuk naik ke atas menuju kamarnya, sementara itu Renata duduk di kursi halaman belakang sambil menghirup udara malam dalam-dalam melalui hidungnya. Kenzo
rupanya mengikutinya dari tadi dan kini adiknya itu duduk di sebelahnya.
“Aku perhatikan kamu jadi lebih galak pada anakmu belakangan ini.”
“Aku tahu itu, aku belakangan ini merasa tertekan sebab Miko.”
__ADS_1
“Sepertinya dia tidak mau berpisah denganmu, ya?”
“Iya, namun aku pasti akan menemukan cara supaya kami bisa berpisah.”