Cinta Itu Kamu

Cinta Itu Kamu
Bersikap Kasar


__ADS_3

Renata akhirnya mengantar Ruth menuju sekolah, sepanjang perjalanan ke sekolah Renata memikirkan cara bagaimana supaya Ruth tidak dibawa oleh Miko kembali ke rumah itu karena terlalu memikirkan hal


tersebut, Renata sampai tidak menyadari bahwa saat ini dia sudah sampai di depan sekolah Ruth.


“Nanti Mama akan menjemputmu.”


“Tidak mau.”


“Kenapa tidak mau?”


“Karena pasti Mama akan membawaku ke rumah kakek dan nenek.”


“Tidak, Mama tidak akan membawamu ke sana.”


“Aku sama sekali tidak percaya dengan apa yang Mama katakan, aku mau nanti papa yang menjemputku.”


Setelah mengatakan itu Ruth langsung turun dari dalam mobil dan masuk ke dalam sekolahnya, Renata menghela napasnya panjang sebelum akhirnya melajukan kendaraannya meninggalkan sekolah putrinya.


****


Elhora merasa bersedih karena sampai saat ini belum ada kabar mengenai putrinya, Elhora sudah berulang kali pergi untuk mencari informasi mengenai di mana keberadaan Miley namun sampai saat ini pihak rumah sakit mengatakan mereka masih mendata pasien yang selamat maupun tidak selamat.


“Miko, awas saja kamu kalau sampai putriku kenapa-kenapa, aku tidak akan memaafkanmu!”


Elhora melihat ke arah ponselnya selepas ponsel tersebut berdering menandakan ada panggilan masuk, ia pikir itu adalah telepon dari pihak rumah sakit untuk memberikan kabar mengenai putrinya namun rupanya


ia salah karena orang yang menelponnya itu justru selingkuhannya.


“Ada apa menelpon?”


“Kamu ada di mana sekarang?”


“Aku tentu saja ada di rumah.”


“Sepertinya kalau dari suaramu, saat ini kamu sedang tidak bersemangat, ya?”


“Aku memang sedang tidak bersemangat saat ini, kamu sudah mendengar soal kebakaran di rumah sakit jiwa itu kan? Putriku sampai saat ini belum diketahui keberadaannya, entah bagaimana nasibnya saat ini.”


“Bagaimana kalau aku datang ke sana dan menghiburmu?”

__ADS_1


“Tidak perlu, aku mau sendiri dulu.”


“Benarkah? Kamu yakin mau sendiri dulu? Apakah di rumah ada suamimu?”


“Tidak, dia sedang tidak ada di rumah hanya saja seperti yang sudah aku katakan padamu barusan, aku mau sendirian saja saat ini.”


****


Renata akhirnya tiba di rumah kedua orang tuanya, ia disambut oleh Marinka yang sejak semalam mengkhawatirkan keadaannya, ia bersyukur karena Renata bisa pulang ke rumah dengan selamat.


“Di mana Ruth? Dia juga baik-baik saja kan?”


“Tentu saja saat ini dia sekolah, Ma.”


“Syukurlah kalau begitu.”


Renata masuk ke dalam rumah masih dengan raut wajah yang stres, Marinka langsung bertanya mengenai apa yang membuat putrinya nampak stres ini.


“Semalam Miko yang menjemput Ruth pulang ke rumahnya, entah apa yang sudah Miko katakan pada Ruth semalam sampai-sampai Ruth seperti tidak mau berpisah dengannya, Ruth tadi bahkan mengatakan ingin pulang ke rumah itu dari pada harus pulang ke rumah ini.”


“Apa? Kamu sudah memberikan pengertian pada anakmu itu kan?”


“Mama curiga bahwa Miko sudah mencuci otak Ruth, Mama khawatir kalau dia sedang menggunakan Ruth supaya kamu dan dia tidak bercerai.”


“Aku pun berpikiran demikian, aku takut kalau ketika kami nanti bercerai hak asuh Ruth akan jatuh ke tangannya.”


“Kita tidak boleh sampai membiarkan hal tersebut terjadi.”


“Iya, aku tahu, maka dari itu akan berjuang sekuat tenagaku supaya Miko tidak mendapat hak asuh atas Ruth.”


****


Ketika Elhora sedang sedih meratapi nasib Miley yang belum diketahui kabarnya saat ini, justru saat itulah sebuah kejutan muncul di rumahnya. Ia menemukan Miley selamat dan tengah berdiri di depan pintu rumah, Elhora langsung memeluk putrinya dengan erat kemudian mengusap wajahnya untuk memastikan bahwa saat ini dia sedang tidak berhalusinasi.


“Saat ini putriku kan yang berdiri di depanku?”


“Tentu saja Ma, memangnya siapa lagi?”


“Ya Tuhan, terima kasih banyak karena akhirnya akhirnya engkau mengabulkan doa hamba.”

__ADS_1


Elhora mempersilakan putrinya masuk ke dalam rumah, mereka kini duduk di sofa ruang tengah sambil menceritakan apa yang selama ini Miley alami selepas kejadian kebakaran di rumah sakit jiwa itu.


“Saat itu aku berhasil melarikan diri dari api, untungnya saja aku bisa selamat dari sana, aku juga bisa melarikan diri dari kejaran para perawat yang saat itu sudah menyadari kalau aku hendak melarikan diri.”


“Ya Tuhan, namun sekarang akhirnya kamu sudah aman di rumah ini, kamu tidak akan bisa dibawa ke rumah sakit jiwa itu lagi.”


“Iya Ma, aku tidak mau lagi dimasukan ke sana, aku tidak suka.”


“Pokoknya kamu tenang saja, Mama akan sekuat tenaga melindungimu dari Miko dan Mama akan memberikan pelajaran pada pria itu karena sudah membuatmu mengalami hal yang buruk ini.”


“Mama jangan lakukan apa pun pada Miko, dia adalah ayah dari anak yang sedang aku kandung saat ini.”


****


Novian sudah menduga bahwa cepat atau lambat, dirinya akan dipecat dari perusahaan ini selepas ia yang bersikukuh untuk mempertahankan hubungannya dengan Renata, kini pria itu dipanggil untuk menghadap Miko di ruangan kerjanya.


“Ada apa anda memanggil saya?”


“Bagaimana? Aku benar-benar tidak bercanda soal pemecatanmu kan? Namun, aku masih berbaik hati saat ini, aku bisa memberikanmu kesempatan untuk tetap bekerja di perusahaan ini tentu saja dengan syarat kamu tidak boleh menjalin hubungan dengan Renata.”


“Jawaban saya tetap tidak, saya lebih memilih untuk dipecat dari perusahaan ini.”


“Apakah kamu yakin? Kamu tidak akan menyesali keputusan yang sudah kamu ambil ini? Aku ingatkan sekali lagi kalau kamu lupa, aku sudah memberitahu semua perusahaan di negara ini supaya tidak mempekerjakanmu, kamu tidak akan dapat pekerjaan selepas keluar dari perusahaan ini jadi pikirkan baik-baik masa depanmu, Novian.”


“Saya sama sekali tidak akan menyesali keputusan yang


sudah saya ambil, saya yakin bisa menemukan pekerjaan untuk melanjutkan hidup.”


“Apakah kamu akan mengemis pada Renata? Menyedihkan.”


“Anda jangan sembarangan bicara, saya tidak akan pernah mengemis pada dia.”


“Kalau begitu baiklah, silakan kamu dengan segala kepercayaan dirimu itu pergi dari perusahaanku, buktikan apakah ucapanku barusan hanya main-main saja atau tidak.”


“Baiklah, saya permisi dulu.”


Novian kemudian pergi dari ruangan kerja Miko dan mulai mengemasi barang-barangnya yang masih tersisa di kantor, ia kemudian berpamitan pada seluruh teman-teman kerjanya yang selama ini sudah banyak membantunya. Suasana haru tidak dapat dibendung di sana, akhirnya dengan berat hati Novian harus pergi dari perusahaan ini untuk mencari pekerjaan yang lain.


“Aku akan buktikan kalau aku akan mendapatkan pekerjaan yang lain,” tekadnya.

__ADS_1


__ADS_2