Cinta Itu Kamu

Cinta Itu Kamu
Huru Hara Rumah Tangga


__ADS_3

Ruth yang sejak tadi sedang mengerjakan PR di dalam ruangan kerja Miko rupanya menguping pembicaraan antara sang papa dengan seseorang yang ia duga adalah mamanya, selepas Miko menutup sambungan


teleponnya kini Ruth bertanya pada sang papa mengenai siapa orang yang barusan ditelepon olehnya.


“Pa, siapa yang barusan Papa telepon?”


Sontak saja Miko menoleh ke arah putrinya itu, ia menjawab bahwa barusan ia menelpon Renata, raut wajah Ruth nampak bahagia dan ia bertanya apakah mereka akan pulang ke rumah dan Miko mengiyakan pertanyaan


dari Ruth barusan.


“Kamu senang, sayang?”


“Iya Pa, aku senang bisa kembali ke rumah.”


“Selepas ini ingat pesan Papa, kamu harus bujuk mama untuk tetap tinggal bersama kita di rumah.”


“Iya Pa.”


Miko mengusap rambut putrinya sebelum kembali ke tempat duduknya, diam-diam ia menyeringai karena rencananya untuk membuat Renata tidak bisa melarikan diri darinya akan berjalan dengan lancar, kini


saatnya ia membereskan satu orang lagi yang menjadi sumber masalah di dalam hidupnya.


****


Elhora mendapatkan kabar bahwa saat ini rumah sakit yang menjadi tempat di mana putrinya dirawat mengalami kebakaran, sontak saja ia pergi ke sana untuk memastikan apakah putrinya selamat dari musibah ini atau


tidak. Ketika Elhora tiba di rumah sakit itu, nampak asap sudah membumbung tinggi dan api sudah membesar, pemadam kebakaran berusaha untuk memadamkan api sementara para dokter dan perawat sibuk mengevakuasi para pasien rumah sakit ini menuju sebuah kendaraan khusus yang sudah mereka siapkan.


“Suster, apakah ada yang masih tertinggal di dalam sana?” tanya Elhora panik pada seorang perawat yang kebetulan melintas di dekatnya.


“Saya tidak tahu pasti, namun bisa saja masih ada yang terjebak di dalam.”


“Lalu apakah salah satu di antara mereka ada anakku?”


“Maaf Nyonya, namun kami belum mendata siapa saja yang sudah dievakuasi dan siapa saja yang belum dievakuasi.”


Mendengar ucapan sang perawat barusan membuat lutut Elhora menjadi lemas, kedua kakinya seperti mendadak tidak sanggup menopang berat tubuhnya, ia hendak jatuh ke aspal jalan karena mendengar kabar yang


membuatnya begitu sedih dan hancur, ia tak bisa membayangkan kalau Miley tidak selamat dari kejadian kebakaran ini.


“Kalau Miley tidak selamat, maka aku tidak akan pernah memaafkanmu Miko!”

__ADS_1


****


Miko membawa Ruth pulang ke rumah dan ketika mereka baru saja tiba di rumah, rupanya Renata sudah menunggu kepulangan mereka di depan rumah, Ruth langsung turun dari dalam mobil dan memeluk mamanya dengan erat sementara Miko nampak melenggang keluar dari mobil dengan santainya sambil


memberikan sebuah seringai pada Renata.


“Ayo kita pulang,” ujar Renata yang mengajak putrinya untuk pulang namun Ruth menolaknya.


“Kita kan sudah pulang, Ma,” ujar anak itu.


“Namun rumah ini sudah bukan lagi jadi rumah kita.”


“Kenapa? Papa bilang rumah ini tetap menjadi rumah kita dan kita akan tinggal selamanya di sini, jadi kenapa kita harus pergi? Aku tidak mau tinggal di rumah kakek dan nenek.”


“Renata, kamu sudah dengar sendiri kan apa yang Ruth inginkan? Dia ingin tinggal di rumahnya, ini adalah rumahnya, tempat dia tinggal sejak masih kecil hingga sekarang, kenapa kamu begitu ingin membawanya


tinggal di rumah kedua orang tuanya padahal dia merasa tidak nyaman?”


“Aku tahu bahwa kamu sudah mempengaruhi pikiran Ruth, aku tidak akan membiarkanmu memisahkanku dengan anakku sendiri!”


“Aku sama sekali tidak ada niatan untuk memisahkanmu dengan Ruth, justru aku ingin kita tetap bersama sebagai sebuah keluarga yang lengkap.”


****


“Sudahlah Renata, Ruth sudah memilih untuk tinggal di sini.”


“Lihat saja nanti, aku akan membalasmu, Miko!”


“Kamu ini kenapa? Sepertinya sangat tidak suka kalau Ruth memilih tinggal di sini? Ini kan rumahnya.”


“Namun tidak lama lagi kita akan bercerai!”


“Siapa yang bilang seperti itu? Sampai kapan pun kita tidak akan pernah bercerai, Renata.”


“Kamu sakit Miko, aku tidak mau mempertahankan rumah tangga ini, hal itu hanya membuatku semakin tersiksa saja.”


“Kamu merasa tersiksa karena tidak bisa bertemu dengan pria mantan kekasihmu itu kan kalau tinggal di rumah ini?”


“Kenapa kamu malah mengungkit masalah itu?”


“Karena memang itu adalah alasan yang sebenarnya kamu ingin bercerai dariku, kan?!”

__ADS_1


“Sudah aku bilang berulang kali padamu bahwa aku ingin bercerai denganmu karena aku sudah tidak sanggup lagi bertahan bersamamu, kamu membuatku muak dan tidak pernah ada rasa cinta di antara kita berdua hingga


saat ini, jadi dari pada harus menyiksa diri sendiri kenapa tidak kita akhiri saja semua sampai di sini?”


****


Renata memutuskan untuk bermalam di rumah ini walaupun semalam ia dan Miko tidak tidur satu kamar karena ia tidak mungkin meninggalkan Ruth sendirian di rumah ini. Saat pagi menjelang, Renata sudah menyiapkan


sarapan seperti biasa untuk Ruth namun ia tidak membuatkan sarapan untuk Miko, pagi ini tidak seperti biasanya Miko bangun lebih pagi dan ikut duduk di meja makan bersama mereka.


“Kamu tidak membuatkan sarapan untukku?” tanya Miko.


“Aku pikir kamu akan bangun siang jadinya aku tidak membuatkanmu sarapan,” jawab Renata ketus.


Akhirnya setelah Ruth selesai makan, Renata hendak mengantarkan putrinya itu untuk berangkat sekolah namun ketika Ruth mencium tangan papanya, Miko menanyakan sesuatu pada putrinya itu.


“Sayang, nanti sepulang sekolah kamu mau kembali ke rumah ini atau ke rumah kakek dan nenek?”


“Tentu saja ke rumah ini.”


Renata yang mendengar pertanyaan Miko itu sontak saja menatap tajam Miko namun pria itu justru tersenyum bahagia seolah mengejek bahwa ia yang berhasil memenangkan hati putri mereka.


“Kalau begitu kamu harus bilang pada Mama bahwa nanti saat pulang sekolah kamu ingin pulang ke rumah ini,” ujar Miko.


“Ma, aku mau pulang ke rumah ini nanti sepulang sekolah,” ujar Ruth pada mamanya.


“Nak, sebaiknya kita tidak perlu kembali lagi ke rumah ini,” ujar Renata.


“Kenapa? Ini kan rumah kita,” ujar Ruth.


“Ruth sayang, pokoknya kamu harus mendengarkan Mama, nanti sepulang sekolah kamu akan pulang ke rumah kakek dan nenek!”


“Tidak mau, aku tidak mau pulang ke sana, di sana bukan rumahku!”


“Ruth, jangan membantah Mama!”


“Renata, hargai pilihan Ruth, dia sudah memilih untuk pulang ke rumah ini.”


“Papa, aku tidak mau nanti pulang ke rumah kakek dan nenek.”


“Tenang saja sayang, nanti saat pulang sekolah Papa akan menjemputmu dan membawamu kembali ke rumah ini.”

__ADS_1


__ADS_2