Cinta Itu Kamu

Cinta Itu Kamu
Akhir Untuk Mereka


__ADS_3

Miko menatap pantulan dirinya di cermin, tatapan matanya nampak begitu kosong dan wajahnya menyiratkan banyak sekali masalah yang sedang menimpa hidupnya. Miko kemudian pergi dari rumah untuk menuju suatu


tempat, ia tidak memberitahu siapa pun saat ini ketika dirinya pergi. Rupanya tujuan Miko adalah rumah kedua orang tua Renata, pria itu memberhentikan mobilnya tepat di depan gerbang namun ia tidak turun dari kendaraannya melainkan hanya mengamati rumah itu dari dalam, Miko kemudian mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celananya dan mencoba menelpon Renata malam ini juga walaupun ia sendiri tidak yakin apakah Renata akan menjawab telepon darinya atau tidak.


“Halo?”


****


Renata terkejut ketika melihat nama Miko terpampang di layar ponselnya saat ini, ia mengira bahwa Miko menelpon untuk mengajaknya bertengkar hingga ia sebenarnya ingin menolak panggilan dari pria itu, namun entah kenapa ada bisikan dari luar yang mengatakan bahwa ia harus menjawab telepon dari Miko ini hingga akhirnya Renata pun menjawab panggilan dari suaminya.


“Halo?”


“Apakah aku mengganggumu?”


“Kenapa kamu menelponku malam-malam begini?”


“Apakah Ruth sudah tidur?”


“Iya, dia sudah tidur, kamu belum menjawab telepon dariku.”


“Tolong sampaikan padanya, aku minta maaf karena belum menjadi papa yang baik baginya, dan aku juga meminta maaf padamu untuk semua kesalahan yang telah aku perbuat selama ini.”


Renata mengerutkan keningnya heran dengan ucapan Miko yang amat sangat tidak biasa malam ini, bahkan Renata sendiri justru ragu apakah orang yang menelponnya ini benar-benar Miko atau justru ini bukanlah Miko.


“Kamu salah minum obat, ya?”


“Tidak, aku sama sekali tidak salah minum obat, aku hanya sedang memikirkan semua hal yang sudah aku perbuat selama ini terutama mengenai hal yang membuatmu tidak bahagia.”


“Sudahlah, aku tidak mau membahasnya lagi.”


“Mulai sekarang kamu bisa bebas, Renata. Aku tidak akan memaksamu untuk tetap bersamaku, ikuti hal yang menurutmu bisa membuatmu bahagia.”


“Kamu sebenarnya kenapa, sih?”


“Tidak apa, aku pamit dulu, ya?”


Setelah mengatakan itu Miko langsung menutup sambungan teleponnya dan hal tersebut membuat Renata bingung karena tidak biasanya pria itu mengatakan hal seperti yang ia katakan di telepon.


“Jangan-jangan dia ingin melakukan sesuatu hal yang buruk lagi?”


****


Semalaman Renata tidak bisa tidur karena memikirkan kata-kata serta pesan yang disampaikan oleh Miko padanya, ia khawatir kalau semalam itu adalah salam perpisahan dan saat ini Miko sudah melakukan sesuatu

__ADS_1


hal yang membahayakan dirinya sendiri.


“Nak, kenapa kamu nampak berbeda sekali hari ini?” tanya Marinka.


“Apa? Aku baik-baik saja, kok.”


“Benarkah?”


“Iya, sungguh.”


Namun tidak lama kemudian Kenzo datang ke meja makan dan membawa kabar mengejutkan yaitu Miko pagi ini ditemukan meninggal dunia setelah menembak kepalanya sendiri. Bak disambar petir di tengah siang bolong,


Renata terkejut bukan main bahkan sampai menjatuhkan sendok yang sebelumnya tengah ia pegang ke lantai.


“Ya Tuhan, apakah kamu tidak berbohong?” tanya Marinka.


“Untuk apa aku berbohong pada hal semacam ini, Ma.”


“Ya Tuhan Miko.”


“Nak, kamu baik-baik saja?” tanya Tuan Arjuna pada putrinya.


“Aku harus segera pergi ke sana, sekarang Miko ada di mana?”


“Dia sedang ada di rumah duka saat ini.”


****


Di rumah duka, Renata langsung pergi menghampiri peti jenazah mendiang suaminya, di sana Renata langsung terduduk lemah dan memeluk peti jenazah itu, Renata menangis sesegukan dan masih tak percaya kalau yang


terbaring kaku di dalam peti jenazah itu adalah orang yang semalam menelponnya dan meminta maaf atas semua kesalahan yang pernah ia lakukan padanya.


“Renata.”


“Hiks, apakah ini sungguhan?” isak Renata.


“Iya, Miko sudah pergi untuk selama-lamanya,” ujar Nesa.


Renata dan Nesa kemudian saling berpelukan dengan berlinang air mata, suasana semakin sedih ketika Ruth tiba bersama keluarga Renata, anak itu langsung berlari menghampiri peti jenazah yang mana di dalam sana jenazah sang papa sudah terbaring kaku.


“Tidak Papa!” jerit Ruth histeris.


Renata berusaha memeluk dan menenangkan anaknya yang nampak begitu sedih dan terpukul dengan kepergian papanya untuk selama-lamanya, tangis pilu anak itu membuat semua pelayat yang hadir di rumah duka itu turut

__ADS_1


merasakan kesedihan dan kepahitan yang tengah Ruth alami.


“Tidak mungkin papa sudah tidak ada, Ma. Suruh papa untuk bangun sekarang juga.”


Renata tidak dapat mengatakan apa pun untuk menenangkan putrinya karena ia sendiri pun sama-sama terguncangnya dengan sang putri perihal kenyataan yang harus mereka hadapi saat ini.


****


6 tahun berlalu dengan cepat, nampak Renata menaruh sebuket bunga di atas pusara mendiang suaminya dan ia kini sedang memanjatkan doa dengan penuh kekhusyukan hingga setelahnya ia mengusap batu nisan yang


bertuliskan nama Miko di sana.


“Tidak terasa 6 tahun sudah kamu pergi meninggalkanku dengan Ruth, Miko, rasanya baru kemarin kita saling bertengkar dan memperebutkan Ruth namun kini kamu sudah damai di atas sana.”


Entah kenapa Renata selalu gagal untuk membendung air matanya untuk tidak tumpah ketika pergi ke makam mendiang suaminya ini, semua kenangan baik suka maupun duka seolah kembali muncul dalam ingatannya hingga ia tidak bisa menahan diri untuk menangis.


“Maafkan aku yang kembali menangis di hadapanmu, aku tahu kamu tidak suka namun rasanya aku masih tak percaya kalau saat ini kamu sudah tiada.”


Renata kemudian menghapus sisa air mata yang barusan menetes dari kedua matanya, ia berusaha untuk tetap tegar di sebelah makam mendiang Miko.


“Sebentar lagi Ruth akan lulus SMA, dia akan kuliah di universitas yang dulu menjadi tempat kita berdua kuliah, dia tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik kalau kamu masih hidup sampai saat ini maka kamu mungkin akan sependapat denganku kalau dia tumbuh menjadi gadis yang cantik dan bersahaja. Dia selalu menyayangimu sampai saat ini, terkadang aku memergokinya menangis sendirian di dalam kamarnya di tengah malam karena merasa rindu padamu. Dan soal diriku sendiri, aku tidak tahu apakah kamu akan sedih atau bahagia mendengar berita ini, aku dan Novian sudah menikah tahun lalu, saat ini aku tengah mengandung buah cinta kami, aku berharap sampai hari itu tiba maka anak kami berdua bisa lahir ke dunia dengan selamat dan Ruth bisa memiliki


seorang adik.”


Sebenarnya Renata ingin berlama-lama berbicara dengan Miko di sini namun ketika melihat langit di atas sana sudah berubah menjadi gelap dan petir mulai menyambar, maka Renata pun berpamitan pada Miko.


“Miko, sepertinya hujan sebentar lagi hujan akan segera turun, aku pamit dulu, ya? Aku pasti akan datang lagi ke sini bersama dengan Novian dan juga Ruth.”


Kemudian Renata buru-buru pergi dari area pemakaman umum itu untuk masuk ke dalam mobilnya dan bertepatan dengan hujan yang mulai turun membasahi bumi. Ketika Renata baru saja hendak pergi, ponselnya berdering dan ia segera meraih benda itu untuk melihat siapa orang yang menelponnya, rupanya saat ini Novian yang menelponnya.


“Halo?”


“Kamu ada di mana?”


“Aku baru mau pulang dari makamnya Miko.”


“Hati-hati dalam mengemudi karena hujan, aku tidak mau kamu dan bayi kita kenapa-kenapa.”


“Iya, aku akan berhati-hati.”


“Sampai bertemu di rumah.”


“Sampai bertemu di rumah.”

__ADS_1


Renata menutup sambungan teleponnya dan kemudian segera melajukan kendaraan tersebut untuk pergi dari tempat pemakaman umum itu menuju rumahnya dan Novian karena suaminya itu saat ini sudah menunggunya.


T A M A T


__ADS_2