Cinta Itu Kamu

Cinta Itu Kamu
Amarah Tak Terkendali


__ADS_3

Renata nampak terkejut ketika papanya menanyakan hal tersebut padanya, ia berpikiran bahwa mungkin saja papanya ini tidak menyetujui hubungannya dengan Novian.


“Kenapa kamu hanya diam saja dan tidak menjawab pertanyaan dari Papa?”


“Apakah ini artinya kalau Papa tidak menyetujui hubungan kami?”


“Papa hanya berusaha mengingatkanmu untuk jangan menyesali keputusan yang sudah kamu ambil.”


“Aku yakin dengan keputusan yang aku ambil ini.”


“Baiklah kalau memang itu adalah keputusan yang kamu ambil, maka kamu harus siap dengan segala konsekuensi yang akan kamu dapatkan setelahnya.”


“Iya Pa.”


Selepas itu, Tuan Arjuna pergi dari kamar Renata dan ketika pintu kamar Renata terbuka, Marinka terkejut karena tidak sempat menghindar atau bersembunyi ketika sang suami keluar dari kamar Renata.


“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Tuan Arjuna.


“Apa? Oh, bukan apa-apa,” jawab Marinka.


****


Keesokan harinya, sikap Tuan Arjuna agak berbeda pada Renata, Marinka sendiri tidak berani banyak bicara untuk bertanya pada sang suami mengapa sikapnya agak berbeda pada Renata hari ini. Selepas Tuan Arjuna


pergi bekerja, kini Marinka mengajak putrinya itu untuk bicara.


“Apa yang terjadi pada papamu?”


“Aku sendiri tidak tahu.”


“Nak… apakah kamu berselingkuh selama ini?”


“Kenapa Mama menanyakan hal itu padaku?”


“Katakan saja yang sebenarnya pada Mama, apakah selama ini diam-diam kamu juga berselingkuh di belakang Miko?”


“Tidak benar, aku sama sekali tidak pernah berselingkuh di belakang Miko walaupun aku tidak pernah mencintainya sejak awal.”


Marinka bisa melihat kejujuran di kedua mata Renata, ia pun akhirnya mempercayai apa yang putrinya katakan barusan. Renata kini giliran bertanya pada sang mama kenapa bisa sang mama menanyakan hal itu


padanya.

__ADS_1


“Tidak, sebenarnya kemarin Mama secara tidak sengaja mendengarkan obrolanmu dengan papa.”


“Benarkah? Sejauh mana Mama mendengarkan obrolan kami?”


“Tidak banyak, namun kalau Mama pikir mungkin saja sebenarnya papamu tidak setuju kalau kamu menjalin hubungan lagi dengan mantan kekasihmu.”


“Dan apakah Mama juga tidak setuju?”


“Apa?”


“Mama pasti sudah dengar kan kalau mantan kekasihku itu seperti apa.”


“Mama akan kembalikan semuanya padamu, Nak.”


****


Lagi-lagi pihak rumah sakit jiwa berusaha untuk membawa paksa Miley dari rumahnya menuju rumah sakit jiwa karena saat ini Miley belum dinyatakan sembuh, namun lagi-lagi upaya mereka dihalangi oleh satpam yang berjaga di depan pagar rumah. Pihak rumah sakit mengancam akan membawa kasus ini pada polisi karena satpam menghalangi tugas mereka untuk membawa pasien yang seharusnya belum boleh keluar dari rumah sakit jiwa.


“Ada apa lagi ini?” tanya Elhora yang baru saja tiba di rumah dan mendapati adanya keributan di sana.


“Nyonya, kalau anda masih mencoba menghalangi kami untuk membawa anak anda ke rumah sakit jiwa, maka kami akan melaporkan anda ke polisi karena sudah mencoba menghalangi tugas kami.”


“Aku sama sekali tidak takut dengan ancaman kalian, apakah kalian yakin bisa menang denganku di pengadilan nanti? Justru harusnya kalian yang jangan sembarangan melakukan ancaman padaku karena aku bisa saja yang malah menjebloskan kalian ke penjara.”


Akhirnya terjadilah keributan di sana hingga Miley keluar dari dalam rumah untuk melerai perdebatan di antara kedua belah pihak.


“Ma, tolong hentikan, aku akan ikut dengan mereka.”


“Apa?”


****


Tuan Andra sudah menggugat cerai Sekar karena perbuatan wanita itu yang hendak membunuh kemudian menguasai seluruh hartanya, walaupun Sekar sudah membela dirinya tidak bersalah dalam hal ini namun


sepertinya hal tersebut tetap saja membuat Tuan Andra tidak bergeming, ia tetap pada keputusannya yaitu menceraikan Sekar.


“Mau apa lagi kamu ke sini?” tanya Tuan Andra ketika melihat Sekar masuk ke dalam ruangan kerjanya.


“Aku datang ke sini karena aku mau menjelaskan semuanya padamu.”


“Sepertinya sudah tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan, walaupun kita bercerai namun kamu tetap akan mendapatkan sesuatu dariku, apakah nominal yang aku berikan padamu tidaklah cukup?”

__ADS_1


“Sayang tolong jangan seperti ini, aku tidak mau bercerai denganmu, aku sangat mencintaimu.”


“Maafkan aku Sekar kalau harus mengatakan hal ini padamu namun sejujurnya aku sama sekali tidak percaya dengan apa yang kamu katakan barusan.”


“Kamu tidak mempercayaiku? Yang benar saja, kamu pasti sudah dipengaruhi oleh anak-anakmu yang membenciku dan menentang pernikahan kita sejak awal kan?”


“Berhenti menyalahkan anak-anakku, Sekar. Aku akui bahwa selama ini aku sudah dibutakan oleh cinta sampai-sampai tidak menyadari adanya sesuatu yang ganjil darimu, andai saja anak-anak tidak memberitahuku


mungkin saja kamu sudah berhasil membunuhku.”


****


Sekar masih berusaha mencoba membujuk suaminya supaya tidak menceraikannya namun keputusan Tuan Andra nampak sudah bulat dan tidak dapat diganggu gugat lagi. Tuan Andra mengatakan bahwa sebaiknya Sekar segera


pergi dari ruangan kerjanya kalau memang tidak ada lagi yang ingin bicarakan.


“Tidak sayang, kamu tidak bisa melakukan hal ini padaku.”


“Kenapa aku tidak bisa melakukannya? Ini kan perusahaanku aku berhak melakukan apa pun yang aku inginkan, jadi selagi aku masih bicara baik-baik padamu, sekarang juga silakan tinggalkan ruangan ini.”


“Kamu mengusirku?”


“Silakan keluar sebelum aku memanggil satpam untuk mengeluarkanmu dari sini.”


“Andra, kamu tidak bisa melakukan ini padaku, aku sangat mencintaimu, tolong kamu jangan lakukan ini, jangan percaya dengan anak-anakmu.”


Namun Tuan Andra akhirnya tetap memanggil satpam untuk membawa Sekar pergi dari ruangan kerjanya, ketika satpam tiba dan hendak membawanya keluar, Sekar tetap saja meronta dan meminta supaya Tuan Andra mau


mendengarkan apa yang ia katakan namun nyatanya Tuan Andra tetap diam dan tak bergeming, ia bahkan menyuruh satpam untuk segera membawa Sekar pergi dari ruangan kerjanya saat ini juga.


“Tidak, jangan lakukan ini padaku!”


Sekar masih saja berusaha meronta meminta dirinya dilepaskan, namun tentu saja sang satpam sama sekali tidak melakukan hal itu, ketika mereka sudah sampai di lobi, mereka berpapasan dengan Miko yang baru saja


pulang dari pertemuan penting dengan salah satu investor baru di perusahaan mereka. Miko nampak menyeringai pada Sekar dan hal tersebut rupanya membuat Sekar naik pitam.


“Kamu pikir dapat melakukan hal ini padaku, hah?! Kamu pikir dapat menang dengan mudah melawanku?!”


“Pak satpam lebih baik anda segera bawa wanita ini ke rumah sakit jiwa karena dia sepertinya juga mengalami gangguan jiwa.”


“Berani sekali kamu mengatakan bahwa aku mengalami gangguan jiwa, aku akan membunuhmu!”

__ADS_1


__ADS_2