
Diam-diam rupanya Renata memperhatikan apa yang terjadi dari balik jendela kamarnya, untungnya saja saat ini Ruth tengah tidur siang hingga ia tidak mendengar keributan yang baru saja dibuat oleh Miko,
Renata tahu bahwa jalannya untuk berpisah dengan Miko tidaklah mudah namun ia yakin kalau dia berusaha maka pasti Tuhan akan membantunya berpisah dari pria itu. Marinka datang ke kamar Renata untuk memastikan kalau putrinya itu baik-baik saja saat ini.
“Kamu tidak apa-apa kan?”
“Iya Ma, aku baik-baik saja.”
“Syukurnya tadi Ruth tengah tidur siang jadinya ia tidak mendengar teriakan Miko barusan.”
“Iya, syukurnya begitu.”
“Kamu tenang saja, kami akan berusaha menjagamu dari Miko.”
“Terima kasih banyak, Ma.”
****
Ketika Miko kembali ke rumahnya, ia dibuat terkejut ketika Tuan Andra sudah menunggunya di ruang tamu, ketika Miko masuk ke rumah maka Tuan Andra langsung menatapnya tajam seraya menghampiri putranya itu.
“Kenapa Papa datang ke sini?”
“Bukankah sebelumnya Papa sudah mengatakan padamu untuk tidak mengusik Sekar lagi?!”
“Apakah wanita itu mengadu pada Papa?”
“Kamu ini memang pembuat masalah, Miko! Kamu berani berselingkuh dengan wanita lain sementara di lain sisi kamu juga ingin membunuh istriku!”
“Aku akui bahwa aku salah soal perselingkuhanku dengan Miley, namun tujuanku untuk melenyapkan wanita itu demi keluarga kita, Pa.”
“Tutup mulutmu Miko, Sekar adalah wanita yang aku cintai, dia sama sekali tidak seperti apa yang kamu pikirkan!”
“Oh benarkah? Jadi Papa masih berpikiran kalau wanita itu sangat mencintai Papa? Papa sudah dibutakan oleh cinta sampai-sampai tidak bisa melihat kenyataan yang seharusnya Papa lihat?!”
“Kalau kamu masih berani mengusik Sekar, maka Papa akan melakukan sesuatu hal yang buruk padamu dan soal perceraianmu dengan Renata, Papa mendukungnya.”
“Sampai kapan pun aku dan Renata tidak akan berpisah, Pa!”
“Itu kan menurutmu, Tuan Arjuna akan melakukan segala cara untuk membuat kalian bercerai dan Papa mendukungnya.”
Selepas mengatakan itu, Tuan Andra pergi dari rumah dan hal tersebut membuat Miko marah dan melempar semua barang yang ada di hadapannya.
“Renata, awas saja kamu!”
****
__ADS_1
Elhora menjenguk putrinya di rumah sakit jiwa, untungnya saja saat ini Elhora sudah diizinkan untuk menjenguk Miley karena kondisi kejiawaan Miley sudah stabil dan Elhora bisa menjenguk putrinya itu di taman rumah sakit karena Miley sedang ada di sana. Elhora memperhatikan Miley dari jauh, putrinya itu nampak tengah duduk sendirian di kursi taman sambil menatap lurus ke depan. Elhora kemudian berjalan perlahan menghampiri putrinya
dan duduk di sebelahnya, merasa kalau ada seseorang yang duduk di sebelahnya membuat Miley segera menengok ke sebelah, ia mendapati sang mama tengah duduk di sebelahnya.
“Mama?”
“Iya Nak, Mama bahagia sekali bisa menjengukmu di sini.”
Miley kemudian memeluk sang mama dengan erat, Elhora membalas pelukan Miley dengan mata yang berkaca-kaca, selepas berpelukan beberapa saat akhirnya mereka melerai pelukan, Miley langsung menceritakan
mengenai kondisinya saat ini yang sedang mengandung anak Miko.
“Ma, saat ini aku sedang hamil.”
“Apa katamu? Hamil?”
“Iya, tidak lama lagi aku dan Miko akan segera memiliki anak dan Mama akan menjadi seorang nenek.”
“Apa maksudmu, Nak? Kamu jangan bercanda seperti ini.”
“Siapa yang bercanda? Aku serius, saat ini aku sedang hamil anaknya Miko.”
****
Renata sedang ada di dalam kamarnya dan bertelpon dengan Novian, ia menceritakan pada pria itu bahwa untuk sementara waktu ia tinggal di rumah kedua orang tuanya sekaligus menceritakan bahwa sebentar lagi ia dan Miko akan segera bercerai.
“Tidak semudah itu, namun aku yakin cepat atau lambat dia pasti akan mau bercerai denganku.”
“Semoga saja kalian bisa segera bercerai dan tidak ada lagi drama yang muncul.”
“Iya, aku pun berharap demikian.”
Mereka terus mengobrol sampai lupa waktu, akhirnya Novian mengakhiri telepon hari itu dan Renata baru saja meletakan ponselnya di nakas dekat tempat tidur, namun alangkah terkejutnya ketika ia melihat sang mama tengah berdiri di dekat pintu kamarnya.
“Mama?”
“Kamu habis bertelpon dengan siapa?”
“Apa? Oh bukan siapa-siapa, itu barusan temanku.”
“Benarkah hanya temanmu?”
“Iya Ma, memangnya kenapa sih Mama menanyakan itu?”
“Soalnya tadi Mama sempat dengar kalau kamu seperti mesra sekali dengan temanmu itu.”
__ADS_1
“Mama terlalu berpikiran buruk padaku, itu barusan benar-benar temanku, kok.”
“Baiklah mungkin saja Mama tadi yang salah dengar, ayo makan malam semua sudah menunggu di bawah.”
“Baik, Ma.”
Marinka kemudian pergi dari kamar Renata dan saat itulah Renata bisa menghela napasnya lega karena sang mama tidak mau memperpanjang kecurigaannya.
****
Rupanya Miko tidak pantang menyerah, ia mencoba menghubungi Renata lagi dan mengajak wanita itu bertemu namun tentu saja Renata menolaknya. Miko kini mengancam akan melakukan sesuatu hal yang buruk pada
Novian kalau Renata tidak mau bertemu dengannya.
“Kamu pikir aku akan tergerak dengan ancamanmu itu?”
“Oh jadi kamu berpikir kalau aku sedang main-main saja? Baiklah, aku harap kamu tidak menyesali keputusan yang sudah kamu ambil, Renata.”
“Baiklah ayo kita bertemu, di mana?”
“Baguslah kalau kamu akhirnya berubah pikiran.”
Miko menyebutkan sebuah alamat di mana mereka berdua akan bertemu hari ini, Renata setuju dan segera bergegas pergi ke tempat itu. Namun ketika ia sampai di lantai bawah, ia menemukan sang mama sedang duduk di sofa sambil menonton televisi.
“Kamu mau pergi ke mana?”
“Aku mau mencari udara segar di luar sebentar.”
“Baiklah, kamu jangan lama-lama pergi keluarnya, Mama takut kalau sesuatu hal yang buruk terjadi padamu.”
“Iya Ma.”
Kemudian Renata pun pergi dari rumah menuju lokasi di mana ia dan Miko sudah janjian bertemu, rupanya Miko memilih sebuah taman sebagai lokasi tempat mereka bertemu. Ketika Renata tiba, Miko sudah terlebih
dahulu tiba, wajah pria itu nampak berseri ketika melihat Renata datang namun Renata sama sekali tidak bahagia bertemu dengan pria ini.
“Akhirnya kamu mau datang juga menemuiku.”
“Aku datang ke sini hanya untuk mengatakan bahwa aku tetap ingin bercerai denganmu.”
Raut wajah Miko yang cerah awalnya berubah menjadi gelap, kedua mata Miko menatap Renata tajam dan kemudian kedua tangan pria itu mencengkram kencang kedua bahu Renata.
“Kenapa begitu sulit sekali untuk bicara denganmu?!”
“Keputusanku sudah bulat Miko, tolong kamu hargai keputusanku.”
__ADS_1
“Aku tidak akan membiarkan kita bercerai, tidak akan! Kalau aku tidak bisa membuat kita tetap bersama, maka lebih baik kita mati saja berdua!”