Cinta Itu Kamu

Cinta Itu Kamu
Rindu Padanya


__ADS_3

Pria selingkuhan Sekar nampak terkejut dan tak percaya kalau Miko ternyata masih berada di sekitar rumah sakit ini karena ia berpikir kalau mungkin saja Miko sudah pulang namun dugaannya tersebut tentu saja salah.


Miko berjalan menghampiri pria itu yang masih berdiri di tempatnya dengan kaku, semakin dekat jarak di antara mereka membuat pria ini berkeringat dingin.


“Kenapa kamu begitu takut padaku?”


“Saya minta maaf.”


“Untuk apa kamu minta maaf? Kamu menikmatinya juga kan?”


“Apa?”


“Kamu menikmati kekayaan yang diberikan oleh wanita itu dan asal kamu tahu aku bisa memberikan lebih dari apa yang wanita itu berikan padamu, tentu saja jika kamu mau bekerja sama denganku.”


“Kerja sama?”


“Iya, kalau kamu mau bekerja sama denganku maka aku bisa memberikan yang lebih dari pada wanita itu.”


****


Miko pulang ke rumah dengan hati riang gembira, ia begitu bahagia karena sudah berhasil mempengaruhi pikiran pria selingkuhan mama tirinya, kini ia sangat yakin bisa dengan mudah menyingkirkan Sekar.


“Selamat malam, Ma.”


“Malam, kamu pulang rupanya,” ujar Marinka yang sejak beberapa hari lalu menginap di rumah ini untuk ikut menjaga Ruth.


“Apakah Renata sudah tidur?”


“Sepertinya sudah, aku tidak tahu karena sejak tadi dia ada di kamar.”


“Kalau begitu, aku masuk ke kamar dulu, selamat malam.”


“Selamat malam.”


Miko pergi ke kamarnya dan Renata, di sana ia menemukan Renata belum tidur dan tengah memandang keluar jendela. Renata mendengar suara pintu terbuka dan melihat pantulan bayangan Miko dari jendela namun ia tidak berniat untuk membalikan tubuhnya saat ini.


“Hari sudah larut dan kamu belum tidur?”


“Aku takut kalau ada orang jahat yang akan mengambil Ruth lagi dariku.”


“Hal tersebut tidak akan pernah terjadi lagi, percayalah.”


“Bagaimana bisa kamu begitu yakin akan hal itu, Miko?”

__ADS_1


“Karena sumber dari masalah itu sudah aku bereskan maka kamu tidak perlu khawatir.”


Renata kali ini membalikan tubuhnya dan menatap kedua mata Miko untuk mencari kejujuran di sana dan ia mendapatkannya.


“Bagaimana? Aku sama sekali tidak berbohong padamu kan?”


****


Kondisi Ruth sudah mulai pulih seperti sedia kala, gadis kecil itu sudah akan pergi ke sekolah mulai hari ini walaupun sejujurnya Renata masih agak khawatir kalau kejadian serupa akan kembali terulang jika putrinya ini pergi ek sekolah.


“Jangan terlalu mengkhawatirkan Ruth, Mama yakin kejadian seperti itu tidak akan kembali terulang,” ujar Marinka.


“Apa yang Mama katakan benar, Renata. Ruth harus kembali bersekolah supaya dia tidak tertinggal pelajaran,” ujar Miko.


Akhirnya dengan berat hati Renata memberikan izin bagi putrinya untuk pergi ke sekolah, namun ia meminta sopir yang mengantarkan Ruth tidak meninggalkan sekolah sampai anak itu pulang dan ia harus memberikan


laporan setiap saat. Renata mengantarkan putrinya itu sampai ke teras, Ruth nampak melambaikan tangan pada sang mama dari dalam mobil.


“Aku pergi dulu, Ma.”


“Iya Nak, belajar yang rajin ya.”


Ruth melambaikan tangan pada Renata dan wanita itu melambaikan tangan pada putrinya, Renata masih berdiri di teras sampai mobil yang membawa putrinya itu menghilang di balik gerbang.


“Kamu tenang saja, sudah aku katakan semalam bahwa tidak akan terjadi apa pun pada Ruth, kamu tenang saja,” ujar Miko yang kembali mencoba menenangkan istrinya.


“Baiklah, aku akan mencoba untuk percaya dengan apa yang kamu katakan barusan.”


****


Sementara itu di rumah Miley, nampak wanita itu sedang di dalam kamar dan merasa bosan karena ia tidak boleh bepergian keluar rumah sebabnya adalah statusnya sebagai tahanan rumah. Miley sudah mencoba bicara


dengan pengacaranya supaya mendesak polisi agar segera mencabut statusnya sebagai tersangka. Pengacaranya bilang saat ini dia sedang mencoba untuk mengusahakannya, Miley pun akhirnya jalan-jalan di halaman rumah dan di saat itu ia mendengar suara satpam yang seperti tengah berbicara dengan seseorang di pintu gerbang.


“Ada apa itu?”


Miley yang penasaran pun mendatangi gerbang dan melihat siapa yang datang, ia begitu terkejut karena di sana terdapat dua orang berpakaian perawat yang mencarinya.


“Ada apa ini?”


“Anda pasti Nona Miley, kami dari rumah sakit jiwa, kami akan membawa anda ke sana.”


“Apa maksudmu? Rumah sakit jiwa? Siapa yang sakit?”

__ADS_1


“Tentu saja anda.”


“Apa katamu? Berani sekali kamu mengatakan bahwa aku ini tidak waras, aku ini masih waras tahu!”


Namun kedua perawat itu tidak mengindahkan apa yang dikatakan oleh Miley, mereka tetap membawa Miley masuk ke dalam mobil walaupun Miley memberontak dan meminta supaya ia dilepaskan saat ini.


“Lepaskan aku! Kalian tidak dapat melakukan ini padaku, aku masih waras!”


****


Marinka mengajak putrinya untuk jalan-jalan sebentar di luar untuk menghirup udara segar karena belakangan ini selepas kejadian penculikan yang menimpa Ruth, putrinya seperti begitu tertekan sekali dan mengurung diri di dalam rumah yang tentu saja itu tidak baik untuk kesehatan mentalnya.


“Aku sama sekali tidak tertarik untuk jalan-jalan keluar, Ma.”


“Ruth sedang sekolah dan dia akan pulang sekitar 3 jam lagi.”


“Aku tetap akan menunggunya di rumah.”


“Kita bisa menjemputnya di sekolah nanti supaya kamu tidak lagi khawatir.”


Mendengar ucapan sang mama membuat Renata agak bersemangat untuk keluar dari rumah, Marinka tentu saja bahagia karena akhirnya ia bisa membawa putrinya jalan-jalan keluar rumah.


“Bukankah menyenangkan berjalan-jalan di luar rumah seperti ini? Kamu mau pergi ke mana? Mall atau salon?”


“Aku tidak tahu mau pergi ke mana.”


“Kalau begitu kita pergi saja ke mall untuk belanja lalu ke salon, kamu butuh releksasi sayang.”


Mobil yang membawa mereka berjalan melalui depan kantor Miko dan secara tidak sengaja saat itu lampu lalu lintas berubah menjadi merah dan membuat semua kendaraan harus berhenti. Karena letak kantor Miko


tidak jauh dari lampu merah maka Renata bisa melihat para karyawan yang sedang keluar gedung untuk mencari makan siang dan salah satu di antara mereka ada Novian. Seketika Renata merasa rindu pada pria itu, andai saja saat ini dia pergi sendiri maka mungkin ia bisa turun dan meminta Novian untuk menemaninya.


“Kamu melihat apa sih dari tadi?” tanya Marinka penasaran.


“Bukan apa-apa.”


“Itu kantor suamimu, Mama tahu.”


“Iya, aku tahu itu.”


Lampu lalu lintas berubah menjadi hijau, mobil perlahan bergerak meninggalkan lampu lalu lintas dan di saat itu Novian berjalan keluar dari kantor menuju sebuah warung yang menjual makanan.


“Renata, kamu kenapa sih? Kok seperti melihat sesuatu di luar? Apa yang sebenarnya kamu lihat?”

__ADS_1


__ADS_2