Cinta Itu Kamu

Cinta Itu Kamu
Perebutan Hak Asuh


__ADS_3

Karena rasa tidak percaya yang tinggi dengan ucapan satpam yang berjaga di depan pintu pagar, Renata merangsek masuk ke dalam sembari mencari di mana keberadaan putrinya.


“Ruth!”


Ia terus berteriak dan memanggil nama putrinya, ia menyusuri setiap sudut rumah namun hasilnya nihil, ia tidak menemukan putrinya di rumah ini.


“Di mana Ruth saat ini?”


Kemudian satpam yang tadi sempat menghalangi Renata masuk ke dalam rumah menghampirinya, satpam itu mengatakan bahwa ia sudah memberitahu Renata kalau tidak ada siapa pun di rumah ini.


“Kamu pasti tahu kan di mana Miko menyembunyikan anakku?”


“Saya benar-benar tidak tahu Nyonya.”


****


Sementara itu di tempat yang lain Miko membawa Ruth ke sebuah rumah miliknya yang tidak diketahui oleh Renata, ia sengaja membawa Ruth ke rumah ini supaya Renata tidak mudah menemukannya. Ruth bertanya pada sang papa kenapa ia harus dibawa ke rumah ini dan Miko pun menjelaskan bahwa saat ini untuk sementara waktu mereka akan tinggal di rumah ini dulu sebelum kembali ke rumah lama mereka.


“Memangnya kenapa kita tidak tinggal saja di rumah yang lama, Pa?”


“Karena rumah lama itu hendak direnovasi, jadinya untuk sementara waktu kita akan tinggal di sini.”


“Oh begitu.”


“Ruth tidak masalah kan kalau untuk sementara waktu tinggal di sini?”


“Iya Pa.”


“Anak baik.”


“Pa, apakah mama akan datang?”


“Papa tidak tahu sayang.”


“Kalau begitu bolehkah aku mengabari mama kalau aku ada di sini?”


“Lebih baik nanti saja kamu kabari Mama, sekarang kamu makan malam dulu.”


“Tapi aku sudah kenyang.”


“Baiklah, kalau begitu kamu tidur saja di kamar, besok pagi kita akan telepon mama.”


“Baik, Pa. Selamat malam.”


“Selamat malam, sayang.”


Ruth mencium pipi Miko sebelum pergi ke kamarnya, selepas Ruth sudah masuk ke dalam kamarnya, Miko baru bisa bernapas lega karena ia tidak harus mencari alasan lagi supaya Ruth tidak menghubungi Renata.


“Renata pasti saat ini sedang mencari di mana Ruth berada, rasakan kamu.”


****

__ADS_1


Renata tidak tahu harus mencari Ruth ke mana lagi, akhirnya tujuan akhirnya adalah ke rumah mertuanya. Ketika ia tiba di sana, ia tidak menemukan Ruth dan yang ada hanyalah Nesa dan papa mertuanya yang nampak


terkejut ketika mendapati Renata datang ke rumah ini.


“Kenapa kamu datang ke sini, Renata?” tanya Tuan Andra pada menantunya.


“Pa, apakah Ruth ada di sini?”


“Ruth? Dia sama sekali tidak ada di sini, bukankah dia bersamamu?”


“Ruth tadi dijemput oleh Miko di sekolah dan saat ini aku tidak tahu mereka ada di mana.”


“Apakah kamu sudah mencoba menelpon Miko?” tanya Nesa.


“Aku sudah mencobanya, namun dia tidak mengaktifkan ponselnya,” jawab Renata panik.


Nesa kemudian mencoba menelpon nomor kakaknya dan memang nomor Miko sedang tidak aktif saat ini.


“Bagaimana?” tanya Tuan Andra.


“Nomor teleponnya memang tidak aktif, Pa,” jawab Nesa.


“Ya Tuhan sebenarnya anak itu ada di mana sekarang ini.”


“Begini saja, nanti kalau kami sudah tahu kabar mengenai Ruth dan Miko, kami akan segera mengabarimu sekarang kamu pulang saja ke rumah dan beristirahat,” ujar Nesa.


“Apa yang dikatakan oleh putriku ada benarnya, lebih baik kamu pulang dan istirahat di rumah,” ujar Tuan Andra.


****


telepon darinya namun sampai saat ini nomor Miko masih tidak aktif dan hal tersebut membuatnya semakin stres.


“Di mana sebenarnya mereka berada?” gumam Renata.


Semalaman Renata tidak bisa tidur karena memikirkan Ruth, ketika pagi hari tiba, wanita itu buru-buru pergi dari rumah dan melewatkan sarapannya.


“Renata mau ke mana kamu pagi-pagi begini?” tanya Marinka.


“Aku harus mencari Ruth, Ma,” jawab Renata.


“Kamu memangnya mau mencari Ruth di mana?” tanya Tuan Arjuna.


“Ke sekolahnya, Miko pasti akan mengantarkan Ruth ke sekolahnya pagi ini, aku akan bicara dengannya,” jawab Renata yang kemudian berpamitan pada kedua orang tuanya sebelum masuk ke dalam mobil.


“Kali ini aku pasti akan menemukanmu,” tekadnya sebelum melajukan kendaraan itu keluar dari pekarangan rumah.


Sepanjang perjalanan Renata berusaha fokus mengemudi walaupun pikirannya sedang kacau saat ini, namun ketika suasana lalu lintas sedang padat ia secara tidak sengaja menabrak seorang pejalan kaki.


“Ya Tuhan.”


Buru-buru Renata keluar dari dalam mobilnya untuk melihat apakah pejalan kaki yang ia tabrak barusan mengalami luka serius atau tidak.

__ADS_1


“Anda baik-baik saja?”


“Iya, saya baik-baik saja.”


****


Renata baru menyadari bahwa orang yang ia tabrak barusan adalah selingkuhan mama tirinya Miko, Renata sebenarnya ingin mengobrol banyak dengan pria itu namun karena mengejar Miko, maka ia tidak memiliki


banyak waktu dengan pria ini.


“Kamu baik-baik saja kan?”


“Iya, saya baik-baik saja.”


“Ini untukmu.”


“Tidak perlu.”


“Sudahlah ambil saja, aku sedang buru-buru.”


Akhirnya pria itu menerima uang yang disodorkan oleh Renata, selepas itu Renata langsung kembali masuk ke dalam mobil dan melajukan kendaraan itu menuju sekolah Ruth, ketika ia tiba di sekolah Ruth ternyata


bertepatan dengan mobil Miko juga tiba di sana. Ruth turun dari dalam mobil dan Renata ikut turun dari dalam mobilnya, Renata memanggil nama Ruth dan membuat anak itu menoleh padanya.


“Ruth!”


“Mama.”


Renata buru-buru berlari menghampiri Ruth dan memeluk putrinya dengan erat, ia bertanya semalaman ke mana Ruth pergi, anak itu menjawab bahwa semalaman ia bersama dengan Miko di rumah.


“Rumah yang mana? Semalam Mama pergi ke rumah namun kalian tidak ada.”


“Bukan rumah itu, rumah yang lain.”


“Rumah yang lain.”


Miko keluar dari dalam mobil dan meminta Ruth masuk ke dalam sekolah sekarang juga, Ruth pun berpamitan pada kedua orang tuanya sebelum masuk ke dalam sekolah.


“Kamu bawa ke mana anakku kemarin?!”


“Aku tidak membawanya ke mana pun.”


“Katakan di mana kamu tinggal sekarang.”


“Aku tidak akan memberitahumu di mana kami tinggal kecuali kamu mau tinggal bersamaku dan Ruth.”


“Omong kosong, bukankah aku sudah mengatakan bahwa sampai kapan pun aku tidak akan pernah mau kembali padamu? Keputusanku untuk berpisah darimu sudah bulat, jadi tolong kamu hargai keputusanku.”


“Apakah kamu yakin tidak akan menyesali keputusanmu?”


“Iya, aku sama sekali tidak akan menyesali keputusanku.”

__ADS_1


“Baiklah, jangan menangis kalau hak asuh Ruth akan jatuh ke tanganku.”


“Itu tidak akan pernah mungkin terjadi!”


__ADS_2