
Renata berusaha mencari di mana keberadaan putrinya dan kali ini ia akan membawa Ruth bersamanya bagaimanapun caranya, ketika Renata tiba di rumah itu, ia sama sekali tidak menemukan di mana keberadaan
Miko dan Ruth karena rumah itu nampak begitu sepi dan tidak berpenghuni. Renata kemudian mencoba berpikir kira-kira ke mana Miko akan membawa pergi Renata bersamanya hingga akhirnya Renata berpikir untuk mencari keberadaan mereka di rumah yang dulu mereka tempati bersama, namun ketika ia sampai di rumah itu, ia
sama sekali tidak menemukan siapa pun.
“Baiklah, berarti hanya ada satu tempat lagi yang pasti mereka ada di sana.”
Buru-buru Renata memacu kendaraannya menuju rumah mertuanya, di sana ia dihadang oleh satpam yang berjaga di depan pintu.
“Lepaskan aku dan jangan halangi aku, aku mau bertemu dengan putriku, dia pasti ada di dalam sana kan?”
“Maaf, namun anda tidak boleh masuk saat ini.”
****
Tuan Andra melihat dari dalam rumah ketika Renata dan satpam yang berjaga di depan pagar rumah sedang terlibat pertengkaran karena satpam tersebut tidak memberikan izin supaya Renata masuk, akhirnya Tuan Andra
sendiri yang turun tangan untuk menemui Renata.
“Ada apa ini?”
“Tuan Andra, Nyonya Renata memaksa masuk ke dalam rumah tadi, namun kata Tuan Miko dia tidak boleh masuk.”
“Kamu sebenarnya bekerja untuk siapa di rumah ini?”
“Untuk Tuan Andra.”
“Kalau begitu kenapa kamu malah mendengarkan ucapan anak itu dari pada perintahku?”
“Maafkan saya.”
“Apakah saat ini Ruth ada di dalam, Pa?”
“Iya, dia saat ini ada di dalam.”
“Aku ingin menemuinya.”
“Silakan, masuk saja ke dalam.”
Tanpa membuang banyak waktu Renata langsung masuk ke dalam rumah untuk menemui Ruth, Miko yang melihat kedatangan Renata tentu saja tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini padahal sebelumnya ia sudah
berpesan pada satpam untuk tidak memberikan izin Renata masuk ke dalam rumah.
“Di mana Ruth?!”
__ADS_1
“Kenapa kamu bisa masuk ke dalam sini?”
“Itu tidak penting, aku datang ke sini untuk menemui Ruth!”
“Dia tidak ada di sini.”
****
Renata sama sekali tidak mempercayai apa yang Miko katakan, ia berusaha mencari di mana keberadaan Ruth namun Miko mencoba menghalanginya, bahkan saat ini Miko malah berusaha mengusirnya dari rumah ini.
“Aku tidak mau pergi sebelum membawa Ruth ikut bersamaku.”
“Ruth tidak akan pernah ikut denganmu karena Ruth akan selalu bersamaku!”
“Aku tidak akan membiarkan Ruth tinggal bersamamu, aku ibunya.”
“Kalau kamu mau bertemu Ruth maka batalkan rencanamu untuk bercerai denganku.”
“Sudah ratusan bahkan jutaan kali aku mengatakan bahwa aku tidak mau melanjutkan pernikahan ini, apakah begitu sulit bagimu untuk melepaskanku?!”
“Aku tidak akan membiarkan kita bercerai! Ini semua demi perusahaan!”
“Hentikan itu Miko!” bentak Tuan Andra.
“Papa tidak paham dengan apa yang sedang kami alami saat ini.”
“Lalu apa yang harus aku lakukan saat ini? Membiarkan dia bercerai denganku dan kemudian menggandeng mantan kekasihnya di publik?”
“Hargai keputusannya, Miko. Dia sudah memilih dan kamu harus menghargai keputusannya.”
“Papa mengatakan ini karena masih benci padaku kan? Papa jadi memihak dia karena Papa tidak pernah menyukakiku!”
“Siapa yang bilang Papa tidak menyukaimu?!”
“Buktinya Papa malah mendukung Renata untuk berpisah denganku? Kalau Papa memang menyayangiku, maka tidak seharusnya Papa melakukan ini padaku!”
****
Tuan Andra akhirnya mengatakan sesuatu hal yang membuat mereka berdua terkejut, Tuan Andra menceritakan masa lalunya bersama dengan mendiang sang istri yang kini sudah tiada.
“Dulu pernikahan kami tidaklah bahagia karena kami juga dijodohkan oleh orang tua masing-masing demi urusan bisnis, namun di tengah perjalanan, kami menemukan banyak sekali ketidak cocokan satu sama lain
dan mendiang mamamu menginginkan supaya kami berpisah namun Papa menolak hal tersebut sampai akhirnya kami selalu bertengkar setiap hari, puncaknya saat itu mendiang mamamu melakukan bunuh diri di sebuah villa karena tidak tahan dengan semua tekanan yang Papa berikan padanya.”
“Tidak, aku sama sekali tidak mempercayai apa yang Papa katakan, itu semua pasti tidak benar, Papa hanya mengarang cerita supaya aku terbawa suasana dan kemudian ingin menceraikan Renata kan?”
__ADS_1
“Apakah raut wajah Papa ini nampak sedang berbohong di kedua matamu?”
Hati Miko bergejolak saat ini, sebuah kebenaran yang tersingkap dari masa lalu membuatnya bimbang sekaligus sedih, ia marah pada sang papa karena rupanya dulu papanya adalah orang yang membuat mamanya meninggal dunia.
“Untuk sebab itu Papa ingin supaya kamu tidak mengulang kesalahan yang pernah Papa lakukan, tolong dengarkan apa yang Renata inginkan, Miko.”
“Tidak, aku sama sekali tidak percaya dengan apa yang Papa katakan!”
Selepas mengatakan itu, Miko langsung pergi keluar rumah dengan mobilnya, sementara itu Renata juga masih nampak terkejut dengan cerita yang baru saja diceritakan oleh papa mertuanya.
****
Novian tiba di rumahnya setelah bertemu dengan Elhora, ia sama sekali tidak menyangka kalau wanita itu memintanya untuk melakukan pekerjaan yang menjijikan itu, pekerjaan yang sama selama ini dilakukan oleh
kakaknya. Novian masih yakin kalau ia akan mendapatkan pekerjaan tanpa harus melakukan seperti apa yang diinginkan oleh wanita itu.
“Tidak, aku tidak boleh tergiur dengan apa yang dikatakan oleh wanita itu, ingat Renata.”
Novian kemudian meraih ponselnya dan mencari kontak Renata di sana, ia nampak agak ragu ketika ingin menekan tombol panggil di ponselnya untuk menghubungi Renata. Namun pada akhirnya setelah terdiam
beberapa saat dan menenangkan dirinya, Novian pun menelpon Renata.
“Halo?”
“Hai, apakah saat ini aku mengganggumu?”
“Sama sekali tidak, memangnya ada apa kamu menelponku?”
“Tidak, aku hanya… merindukanmu.”
“Begitu, ya?”
“Sepertinya dari suaramu saat ini kamu sedang ada masalah?”
“Begitulah, ini menyangkut soal rumah tanggaku dengan Miko.”
“Apakah dia masih belum mau berpisah darimu?”
“Iya, dia masih belum mau berpisah denganku, namun aku yakin dia pasti akan mau berpisah denganku karena papanya sendiri juga mendukung keinginanku untuk berpisah darinya.”
Novian dan Renata kemudian membicarakan beberapa hal sampai akhirnya pria itu mengakhiri panggilan dari Renata, tidak lama kemudian Elhora menelponnya. Novian nampak tidak mau menjawab telepon dari wanita itu dan
kemudian menon aktifkan ponselnya supaya tidak diganggu olehnya. Namun sayup-sayup dari luar ia mendengar percakapan ibunya dengan seseorang, Novian yang penasaran akhirnya keluar dari dalam kamar dan menghampiri ibunya yang sedang duduk di ruang tamu namun orang yang barusan berbicara dengan ibunya
sudah tidak ada.
__ADS_1
“Bu, tadi itu siapa?”
“Bukan siapa-siapa, Nak.”