Cinta Itu Kamu

Cinta Itu Kamu
Hati yang Berbunga


__ADS_3

Marinka merasa kalau putrinya sejak tadi memperhatikan sesuatu yang ada di luar mobil namun ketika dirinya menanyakan apa yang sebenarnya sedang dilihat oleh Renata, putrinya itu selalu berkelit kalau tidak ada apa


pun yang ia lihat di luar sana.


“Kenapa kamu tidak mau jujur pada Mama? Mama jelas sekali melihat kalau kamu sejak tadi melihat keluar jendela seperti ada sesuatu yang membuatmu tertarik.”


“Sudah aku katakan tidak ada apa-apa, Ma.”


Akhirnya Marinka tidak lagi bertanya mengenai apa yang sebenarnya dilihat oleh putrinya, mereka sampai di mall namun Renata sama sekali tidak menikmati jalan-jalan mereka di mall karena masih terbayang-bayang


oleh Novian, ia ingin sekali bertemu dengan pria itu dan menceritakan apa yang ia rasakan saat ini.


“Ma, sepertinya aku mau pulang saja.”


“Apa? Kita saja baru sampai dan kamu sudah mau pulang?”


“Kalau Mama masih mau jalan-jalan di sini, silakan saja, aku mau pulang saja.”


****


Renata pulang menggunakan taksi, ia sama sekali tidak mengindahkan Marinka yang memanggil-manggil namanya, namun tentu saja tujuan Renata bukan kembali ke rumah melainkan ke kantor karena ia ingin menemui


Novian, ia melihat arloji yang ia kenakan berharap ia bisa sampai di kantor sebelum jam istirahat selesai. Akhirnya Renata tiba di kantor, ia turun dari taksi itu dan mengedarkan pandangan ke sekitar untuk mencari di mana keberadaan Novian, namun ia belum menemukan di mana keberadaan pria tersebut.


“Nyonya mencari siapa?” tanya seorang satpam yang menghampirinya.


“Kamu jangan bilang-bilang pada suami saya kalau saat ini saya ada di sini.”


“Iya Nyonya, saya tidak akan mengatakan apa pun pada Tuan Miko.”


Renata namun tidak mengatakan apa kepentingannya di kantor ini, ia memutuskan untuk pergi karena tidak menemukan Novian setelah ia menunggu cukup lama di dekat lobi kantor.


“Ingat jangan katakan apa pun pada suamiku kalau barusan aku datang ke sini.”


“Iya Nyonya, saya tidak akan mengatakan apa pun pada Tuan Miko.”


Renata kemudian pulang dengan menggunakan taksi sementara selepas Renata masuk ke dalam taksi dan kendaraan itu mulai melaju meninggalkan kantor, Novian nampak memasuki halaman parkir kantor.


****


Bukanlah perkara yang sulit bagi Renata untuk mendapatkan nomor telepon Novian, walaupun ia sudah mendapatkan nomor telepon pria itu namun sampai saat ini Renata belum berani menelpon Novian, ia hanya


memandangi deretan angka yang ada di layar ponselnya.


“Apakah aku harus menghubunginya atau tidak, ya?”

__ADS_1


Setelah menimbang cukup lama, akhirnya Renata memutuskan untuk mencoba menghubungi Novian. Setelah bunyi dering cukup lama akhirnya pria itu menjawab telepon darinya.


“Halo, siapa ini?”


“Ini aku.”


Setelah itu tidak terdengar suara Novian dari ujung sana, mungkin saja pria itu terkejut ketika mendengar suara Renata saat ini.


“Apakah kamu masih di sana?”


“Iya, aku masih di sini, kenapa kamu bisa mendapatkan nomor ponselku?”


“Itu tidak penting, kamu ada di mana sekarang?”


“Tentu saja aku sedang ada di kantor, kenapa menelponku?”


“Hum, aku ingin mengajakmu bertemu akhir pekan ini,  apakah kamu memiliki waktu?”


“Aku ….”


“Aku mohon Novian.”


“Aku akan mengabarimu lagi nanti.”


“Baiklah, aku tunggu kabar baik darimu, kalau begitu aku tutup teleponnya, ya?”


“Semoga saja dia segera menghubungiku.”


****


Keesokan harinya, Novian memberikan kabar bahwa ia bisa bertemu akhir pekan ini dan jawaban dari Novian membuat senyum di bibir Renata terukir lebar, rupanya sikap Renata yang tidak biasa itu menarik


perhatian Miko. Pria itu begitu penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada istrinya ini.


“Apa yang terjadi padamu?”


“Tidak ada yang terjadi padaku, kenapa kamu menanyakan pertanyaan aneh seperti itu?”


“Tidak, hanya saja sepertinya kamu tersenyum terus kalau aku perhatikan seperti ada sesuatu yang membuat kamu senang.”


“Memangnya aku tidak boleh tersenyum senang?”


“Apakah ada sesuatu?”


“Tidak ada, sudahlah Miko jangan ikut campur mengenai masalah pribadiku!”

__ADS_1


Sikap Renata yang tidak biasa itu membuat Miko penasaran, namun ketika pria itu mencoba bertanya baik-baik pada Renata, justru malah respon buruk yang ia terima dari istrinya itu. Miko pun tidak mau lagi menanyakan hal tersebut namun ia akan mencari tahu sendiri apa yang sebenarnya membuat Renata bahagia saat ini.


“Aku pergi ke kantor dulu.”


“Baiklah.”


Miko kemudian pergi dari rumah dan masuk ke dalam mobilnya, di dalam mobil Miko memikirkan segala kemungkinan yang mungkin saja bisa membuat sikap Renata aneh dan kini pikirannya justru tertuju pada mantan


kekasih Renata.


“Apakah semua ini berhubungan dengan pria itu?”


****


Elhora begitu terkejut ketika mendapatkan kabar bahwa putrinya dibawa ke rumah sakit jiwa, ia pergi ke rumah sakit jiwa untuk membuat putrinya bisa keluar dari tempat itu. Namun ia tidak mendapatkan izin dari perawat yang bertugas di sana karena menurut pemeriksaan memang saat ini Miley mengalami gangguan jiwa dan harus segera disembuhkan.


“Siapa sebenarnya yang sudah tega membuat putriku masuk rumah sakit jiwa?”


Elhora kemudian berpikir menganai segala kemungkinan dan pikirannya tertuju pada Miko, mungkin saja pria yang dekat dengan Miley itu bisa memberikan penjelasan padanya. Elhora sudah mencoba bertemu dengan


putrinya namun ia tidak diizinkan oleh perawat dengan alasan saat ini Miley sedang tidak boleh dikunjungi oleh siapa pun karena dapat membahayakan orang lain. Akhirnya Elhora pun pergi ke kantor Miko untuk bicara dengan pria itu.


“Miko, awas saja orang itu!”


Elhora akhirnya tiba di kantor Miko, ia langsung masuk ke dalam gedung namun langkah kakinya dihentikan oleh satpam yang berjaga di depan pintu masuk.


“Maaf Nyonya ada kepentingan apa datang ke sini?”


“Saya ingin bertemu dengan Miko, dia ada di dalam kan?”


“Maaf, namun tidak sembarang orang bisa bertemu dengan Tuan Miko kecuali anda sudah membuat janji sebelumnya dengan beliau.”


“Aku pokoknya ingin bertemu dengan Miko sekarang, jangan halangi aku untuk masuk!”


Namun tentu saja satpam tidak memberikan izin Elhora untuk masuk dan terjadilah keributan di sana, saat terjadi keributan itu Tuan Andra baru saja tiba di kantor selepas melakukan pertemuan dengan rekan


bisnisnya, pria itu nampak heran ketika melihat keributan di pintu masuk lobi.


“Ada apa ini?”


“Tuan Andra, wanita ini memaksa masuk ke dalam dan mengatakan ingin bertemu dengan Tuan Miko padahal wanita ini sebelumnya tidak memiliki janji apa pun untuk bertemu dengan beliau.”


“Bukankah kamu istrinya Tuan Yunus?”


“Iya saya memang istri Tuan Yunus, tolong izinkan saya masuk ke dalam, Tuan Andra.”

__ADS_1


“Apa kepentingan anda bertemu dengan putra saya?”


“Saya ….”


__ADS_2