Cinta Itu Kamu

Cinta Itu Kamu
Pekerjaan Datang


__ADS_3

Sekar akhirnya dibawa keluar dari kantor itu walaupun ia tak terima diperlakukan dengan hina seperti ini, namun ia tidak dapat melawan karena semua ini adalah perintah dari Tuan Andra. Sekar tersungkur di pinggir trotoar dengan disaksikan oleh manusia yang berlalu lalang dengan pandangan beragam dan hal tersebut membuatnya benar-benar marah.


“Apa yang kalian semua lihat dariku?!”


Orang-orang yang barusan menatapnya dengan berbagai ekspresi itu nampak terkejut dan buru-buru pergi meninggalkan Sekar yang sedang mengamuk. Sekar nampak masih begitu sedih sekaligus marah karena statusnya sebagai istri dari Tuan Andra akan segera lenyap padahal dirinya belum melakukan misinya.


“Aku bahkan belum menyelesaikan misiku namun aku sudah ditendang dari rumah itu, aku tidak akan membiarkan Miko memang, awas saja kamu Miko!”


****


Di koridor, Miko bertemu dengan Nesa, ia sempat menyapa adiknya itu yang beberapa hari ke depan akan resmi menikah dengan Kenzo. Nesa bertanya pada Miko apakah barusan ia bertemu dengan Sekar dan Miko pun menceritakan kejadian di lobi.


“Wanita itu malah berteriak dan menuduhku dalang dari semua ini, lucu sekali bukan?”


“Bukankah memang kamu yang merencanakan supaya wanita itu keluar dari rumah kita?”


“Iya, namun aku bukan yang mengusirnya dari kantor ini, namun sejujurnya aku puas sekali saat dirinya yang biasanya angkuh kini terkulai lemas tak berdaya bagaikan wanita yang menyedihkan.”


“Aku harap selepas ini dia tidak melakukan hal yang buruk pada keluarga kita.”


“Tentu saja dia tidak akan bisa melakukan apa pun, aku akan membuatnya masuk rumah sakit jiwa supaya tidak mengganggu keluarga kita.”


“Ngomong-ngomong, bagaimana rumah tanggamu dengan Renata?”


“Kenapa tiba-tiba kamu menanyakan itu?”


“Tidak, hanya saja aku penasaran mau sampai kapan kamu mempertahankan rumah tanggamu dengan Renata padahal sepertinya kalian hanya saling menyakiti diri sendiri.”


“Nesa, aku peringatkan padamu untuk jangan ikut campur terlalu dalam untuk urusan rumah tanggaku, urus saja masalahmu sendiri, oke?”


Setelah mengatakan itu Miko bergegas meninggalkan sang adik untuk menuju ruangan kerjanya, Nesa menghela napasnya karena sulit sekali untuk bicara dengan Miko.


“Aku harap dia bisa segera berubah pikiran dan membiarkan Renata memilih jalan hidupnya sendiri.”


****


Miko yang baru saja tiba di dalam ruangan kerjanya menerima telepon dari rumah sakit jiwa bahwa saat ini Miley sudah berhasil mereka bawa kembali ke rumah sakit jiwa. Tentu saja Miko begitu bahagia mendengar itu, selain itu juga ia meminta rumah sakit itu untuk menjemput Sekar dan membawanya juga ke rumah sakit jiwa agar wanita itu tidak lagi mengganggu keluarganya.


“Baik Tuan Miko, kami akan melakukannya.”


“Terima kasih banyak.”


Miko menutup sambungan teleponnya dan kemudian kembali fokus pada pekerjaannya hingga tidak terasa sudah jam pulang sekolah Ruth, ia meminta sopir pribadinya segera menjemput putrinya itu dan jangan sampai Renata


keduluan menjemput Ruth.


“Kamu mengerti perintahku kan?”

__ADS_1


“Iya Tuan.”


“Bagus segera laksanakan perintahku.”


Sementara itu di tempat yang lainnya nampak Renata sudah menunggu Ruth di pintu gerbang sebelum sopir Miko datang menjemput Ruth, Renata tidak akan membiarkan putrinya itu untuk pulang bersama dengan Miko ke


rumah pria itu. Ketika bel pulang berdering, para siswa dan siswi sekolah berhamburan keluar dari gerbang dan Renata mencari di mana putrinya berada.


“Jangan-jangan Ruth sudah pulang lagi,” curiganya.


Renata kemudian masuk ke dalam gedung sekolah untuk mencari di mana Ruth karena sejak tadi ia tidak menemukan Ruth keluar dari pintu depan.


“Nyonya Renata mencari siapa?”


“Saya tentu saja mencari anak saya, apakah anda tahu di mana Ruth?”


“Oh bukankah dia sudah pulang tadi?”


“Sudah pulang?”


“Iya, barusan dia sudah pulang.”


“Apakah ada yang menjemputnya?”


“Kalau soal itu saya kurang tahu.”


****


memberitahu perihal ini pada Renata.


“Pasti anda mengetahui sesuatu kan?” tuduh Renata pada


sang wali kelas.


“Saya tidak tahu apa pun, Nyonya,” jawab wali kelas Ruth itu.


“Saya tidak percaya dengan apa yang kamu ucapkan, saya mau lihat kamera CCTV.”


Renata kemudian menuju ruang pengendali untuk memeriksa kamera CCTV namun niatnya untuk memeriksa rekaman kamera CCTV tersebut tidak terjadi karena dihalangi oleh petuhas yang berjaga di sana.


“Kenapa kalian malah menghalangiku untuk melihat rekaman kamera CCTV-nya?”


****


Novian berusaha mencari pekerjaan yang baru selepas ia dipecat dari perusahaan Miko, ia sudah mencoba melamar pekerjaan ke berbagai perusahaan namun hasilnya selalu nihil, ia selalu ditolak di awal dan hal


tersebut membuat Novian jadi teringat perkataan Miko sebelum ia dipecat.

__ADS_1


“Kamu tidak akan bisa menemukan pekerjaan lain setelah dipecat dari tempat ini, ingat itu baik-baik.”


Ucapan dan gaya bicara Miko serta ekspresi bagaimana pria itu mengucapkan kalimat tersebut padanya masih diingat dengan baik oleh Novian dan hal tersebut membuatnya begitu kesal pada Miko.


“Mentang-mentang dia memiliki uang dan kuasa, dia seenaknya bisa melakukan hal ini padaku.”


Novian memutuskan untuk pulang ke rumah dengan raut wajah lelah dan marah, ia sudah hampir menyerah namun karena ingat Renata maka ia tidak boleh menyerah dan harus terus mencari pekerjaan. Hingga ketika ia


sedang berjalan kaki, sebuah mobil menepi di sebelahnya dan si pengemudi menurunkan kaca jendela hingga membuat Novian bisa melihat siapa orang yang mengemudi.


“Hai.”


“Oh Nyonya.”


“Kamu dari mana dan mau ke mana?”


“Saya mau pulang.”


“Oh mau pulang? Ayo masuklah, biar aku antar.”


“Tidak perlu, saya bisa jalan kaki saja.”


“Sudahlah masuk saja ke dalam, aku akan mengantarkanmu pulang.”


Novian awalnya ragu ketika disuruh masuk ke dalam mobil itu, namun akhirnya ia pun mau masuk ke dalam setelah wanita yang tidak lain adalah Elhora itu memaksanya untuk masuk.


“Kamu tidak pergi bekerja?”


“Saya sudah dipecat dari perusahaan lama saya.”


“Dipecat? Memangnya kenapa kamu dipecat?”


“Saya tidak tahu alasan pasti kenapa dipecat.”


“Mana bisa perusahaan memecatmu kalau kamu tidak memiliki salah.”


“Entahlah, sepertinya pimpinan perusahaan itu begitu benci pada saya.”


“Jadi saat ini kamu sedang tidak memiliki pekerjaan?”


“Begitulah.”


“Saya bisa membantumu untuk mendapatkan pekerjaan.”


“Benarkah?”


“Iya tentu saja.”

__ADS_1


“Kalau begitu, apakah pekerjaan itu, Nyonya?”


“Saya akan beritahu kamu nanti.”


__ADS_2