Cinta Ketua Geng Motor

Cinta Ketua Geng Motor
Bab 10. Kabur dari Rumah sakit


__ADS_3

Galang tahu jika Bagas pasti bingung dengan apa yang dia katakan. Karena itu, dia berniat menjelaskan lebih rinci apa yang sebenarnya dia inginkan saat ini.


"Bagas, Mami gue pingin gue berobat ke luar negeri. Tapi gue nggak mau. Gue nggak mau pisah sama kalian dan geng gue," ucap Galang menambahkan.


"Geng Lo, apa Dewi penyelamat Lo?" canda Bagas.


"Dua-duanya," sahut Galang.


"Serius, Bos mau kabur?"


"Iya. Bantu gue keluar dari rumah sakit ini dulu. Setelah itu baru gue pikirkan langkah selanjutnya," jawab Galang semangat.


Galang dan Bagas mulai menyusun rencana. Mereka bingung memikirkan cara meninggalkan rumah sakit tanpa sepengetahuan pihak rumah sakit.


Dengan kondisi Galang yang terluka seperti ini, dia masih butuh perawatan intensif di rumah sakit. Tetapi, Galang sama sekali tidak peduli dengan kondisinya. Yang ada dalam pikirannya saat ini adalah segera pergi dari tempat ini sebelum ibunya datang.


Bagas mengambil kursi roda dari luar dan segera dibawanya ke dalam ruangan Galang. Bagas membantu Galang dengan susah payah hingga bisa naik ke kursi roda yang di siapkannya.


Galang merintih kesakitan, karena lukanya masih baru. Tetapi, dia masih bertekad dan tidak ingin menyerah. Selang infus juga masih dia pakai karena takut ketahuan. Bagas mendorong kursi roda, dengan hati yang berdebar-debar karena takut ketahuan pihak rumah sakit.


"Mau dibawa kemana, pasien ini?" tanya salah satu perawat yang memergoki mereka.


"Suster, gue bosan tinggal di ruangan itu. Gue pengen menikmati udara pagi," sahut Galang.


"Sus, hanya sebentar saja, nanti akan segera saya bawa kembali ke ruangannya," jawab Bagas setengah merayu.


"Tidak bisa. Pasien harus banyak istirahat supaya cepat sembuh. Bawa kembali ke dalam!" perintah Suster tegas.


"Baiklah, kami akan kembali," sahut Bagas.


Galang kecewa karena dia tidak bisa kabur hari ini.


"Bos, kita kembali dulu. Nanti kita atur lagi," bisik Bagas.


Galang setuju dengan ucapan Bagas. Mereka bergegas kembali masuk kedalam ruangan rawat inap Galang.


Bagas kembali mengatur siasat. Dia memastikan bahwa tidak ada perawat di luar ruangan Galang. Setelah itu, dia kembali membawa Galang dengan cepat menuju lift.


Kali ini, semua aman. Bagas bisa membawa Galang keluar dari rumah sakit dan Bagas mengantar Galang menuju taksi yang sudah di pesannya secara on line. Sebelum pergi, Galang melepas selang infus yang ada di tangannya. Galang meringis merasakan sakit ditangannya, akibat bekas suntikan jarum infus.


Bagas dan Pak sopir membantu Galang masuk ke dalam taksi. Sebelum Bagas menutup pintu, Galang meminta Bagas mendekat.


"Terima kasih, Gas. Gue bisa pergi sendiri. Lo bantu gue hadapi orangtua gue. Kalau ditanya, bilang aja, Lo nggak tahu," pesan Galang.

__ADS_1


"Sebenarnya, Bos mau kemana?" tanya Bagas.


"Entahlah, gue sendiri tidak tahu mau kemana. Yang penting keluar dulu dari rumah sakit," jawab Galang.


"Jaga diri baik-baik," pesan Bagas.


Bagas menutup pintu taksi dan taksi yang ditumpangi Galang siap berangkat.


"Mau kemana?" tanya Pak sopir sambil melihat ke arah kaca spion yang ada diatasnya.


"Jalan saja dulu, Pak. Nanti saya akan beritahu," jawab Galang bingung.


Taksi melaju dijalanan yang cukup padat karena ini sudah jam makan siang. Galang sama sekali tidak memiliki tujuan. Taksi yang di tumpangi Galang melewati Resto Gaul milik Shella. Tiba-tiba, dia teringat Shella.


"Pak, berhenti di resto Gaul!" teriak Galang.


Entah apa yang ada di dalam pikiran Galang saat ini, yang pasti dia ingin mengejar cinta Shella, meskipun dia dalam kondisi terluka.


Taksi berhenti didepan Resto Gaul. Saat itu Resto Gaul masih belum buka.


"Pak, bisa tunggu sebentar? Saya lagi nunggu seseorang," tanya Galang.


"Bisa, tapi meteran jalan terus," jawab Pak sopir.


Galang menunggu sampai Shella datang dengan sepeda motornya. Galang tidak memikirkan apapun yang akan dipikirkan Shella.


"Pak, tolong minta uang taksi sama dia," ucap Galang sambil menunjuk Shella.


"Beneran, aku harus minta uang taksi sama dia?" tanya Pak sopir bingung.


"Bilang saja, saya temannya," ucap Galang lagi.


Pak sopir bergegas turun mendekati Shella yang sedang memarkir sepeda motornya.


"Permisi, Mbak," sapa Pak sopir agak gugup. Dia takut dikerjai Galang.


"Ada apa, Pak? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Shella lembut. Kebiasaan melayani pelanggan toko.


"Saya mau menagih uang taksi."


"Uang taksi. Bapak lihat sendiri, saya naik motor. Kok Bapak nagih ubah taksi ke saya?" jawab Shella bingung.


"Bukan Mbak yang naik taksi saya, tapi di dalam taksi saya itu ada teman Mbak. Katanya saya di suruh nagih uang taksi sama Mbaknya," jawab Pak sopir sambi menunjuk ke arah taksinya.

__ADS_1


"Teman saya, Pak? Kenapa dia tidak turun?" tanya Shella.


"Boro-boro turun, untuk menggerakkan tubuhnya saja, susah" jawab Pak sopir lagi.


Shella merasa penasaran dengan penumpang taksi yang mengaku sebagai temannya.


"Berapa Pak?"


"200 ribu."


Shella mengeluarkan dompet dari dalam tasnya dan memberikan dua lembar uang merah pada Pak sopir.


"Terima kasih, Mbak. Mari saya bantu turunkan dia," ucap Pak sopir.


Shella mengikuti langkah Pak sopir ke arah taksi yang berhenti di depan restonya. Saat Pak sopir membuka pintu, Shella seperti disambar petir. Dia melihat Galang sedang tersenyum padanya dalam kondisi yang masih menggunakan pakaian rumah sakit. Apakah dia kabur?


"Mari, temanmu sudah membayar tagihannya. Sekarang saatnya turun," ucap Pak sopir.


Pak sopir membantu Galang turun tetapi melihat kondisi Galang yang salah satu kaki dan tangannya di gip, membaut Shella memikirkan sebuah ide.


"Tunggu sebentar, Pak. Saya ambil alat bantu dulu," ucap Shella yang bergegas lari masuk ke dalam resto.


Shella mengambil sebuah alat dorong barang yang dia miliki di restonya, yang biasa digunakan untuk memindahkan barang. Pak sopir mendudukkan Galang di alat dorong tersebut.


"Saya permisi, Mbak. Semoga temannya cepat sembuh. Sepertinya dia kabur dari rumah sakit," ucap Pak sopir sebelum akhirnya masuk kembali ke dalam taksinya.


"Terima kasih, Pak," ucap Shella.


Taksi segera melaju pergi meninggalkan Shella yang masih tidak percaya jika saat ini ada Galang di restonya.


Shella mendorong alat bantu untuk barang menuju ke dalam resto. Sampai di dalam resto, pak Darman dan beberapa karyawan kaget melihat apa yang dibawa oleh Shella.


"Shella, ikut Bapak!" titah ayahnya saat melihat Galang.


Shella mengikuti langkah ayahnya menuju ke sebuah ruang tempat istirahat. Dia meninggalkan Galang bersama karyawan lain.


"Shella, apa maksudmu membawa dia ke resto kita?" tanya pak Darman sedikit emosi.


"Ayah, Shella tidak membawa Galang ke sini. Tapi dia tadi datang dengan taksi dan Shella yang harus membayar biaya taksinya. Apa mungkin dia hilang ingatan, dan hanya ingat kita?" jawab Shella lalu balik bertanya.


"Mungkin saja, itu bisa saja terjadi. Coba kamu bawa dia ke sini. Biar Bapak bertanya pada dia, apa yang terjadi," perintah pak Darman.


Shella mengangguk pelan dan bergegas keluar untuk membawa Galang menemui ayahnya. Tentu saja mau diinterogasi.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2