
Shella sudah mulai kembali bersemangat setelah satu hari beristirahat. Dia seharian tidak melakukan aktivitas apapun selain kewajibannya kepada Allah. Itupun dia kerjakan di dalam kamarnya.
Seharian tidak bertemu dengan Galang, cukup membuatnya kangen. Apalagi, seharian ini, Galang sama sekali tidak menghubunginya. Pesan satupun tidak ada, apalagi panggilan telepon.
Padahal biasanya, Galang akan mengirimkan pesan, setidaknya satu kali setiap satu jam jika mereka tidak bertemu. Tetapi kali ini, dia tiba-tiba tidak ada kabar.
Untuk pertama kalinya, dia mengirimkan pesan untuk Galang. Pesan lewat aplikasi hijau yang sampai esok paginya masih centang satu. Artinya dia sama sekali tidak membaca pesannya. Sampai akhirnya dia berusaha menghubungi nomor Galang dan hasilnya nomor itu sudah tidak aktif lagi.
Karena rasa penasaran yang tinggi, Shella memberanikan diri untuk bertanya tentang Galang pada ayahnya saat sarapan.
"Ayah, apakah Galang baik-baik saja?" tanya Shella ragu.
Pak Darman menghentikan makannya. Beliau mengusap mulutnya dengan tisu. Tampak raut mukanya berubah serius. Pak Darman menatap tajam Shella yang mulai cemas dengan reaksi ayahnya.
"Galang, sudah pergi meninggalkan resto. Apa dia tidak bilang padamu?" tanya Pak Darman.
__ADS_1
"Apa, dia pergi? Tapi, dia tidak pernah bilang padaku. Tidak mungkin dia meninggalkan Shella," tanya Shella kaget.
"Shella, ayah sudah bilang, dia tidak bisa diandalkan. Kalau memang dia peduli padamu, dia harusnya berunding denganmu. Atau setidaknya, pamit padamu. Dia tidak sebanding dengan Rafael. Lebih baik kamu lupakan dia," kata pak Darman sambil menatap Shella.
Shella terdiam dan tenggelam dalam pikirannya sendiri. Sementara, sang ibu yang tidak mengerti akan permasalahan yang mereka bicarakan, hanya menatap suami dan anaknya berbicara. Tetapi, Bu Rasti mulai mengerti jika suaminya bermaksud menjodohkan Shella dengan Rafael.
"Pak, menurut ibu, Shella itu jangan dibebani dengan masalah perjodohan. Biarkan dia selesai kuliah dulu. Bukankah itu sudah kita putuskan bersama?" tanya Bu Rasti mencoba membantu Shella. Karena terlihat jelas jika Shella tidak suka dijodohkan.
"Ibu benar. Tetapi dia duluan yang malah melakukan kesalahan. Dia berani berpacaran di belakang kita," kata Pak Darman kecewa. "Sekalian saja, kita pilihkan dia pria yang baik untuknya agar dia tidak salah pilih."
"Shella, selama kamu masih berhubungan dengan Galang, maka ayah akan tetap menjodohkan kamu dengan Rafael. Shella, semua pilihan ada padamu, pikirkan baik-baik," ucap Pak Darman lalu beranjak pergi.
"Apa Ayah mengusirnya?" tanya Shella kecewa.
Pak Darman menghentikan langkahnya. Pak Darman menarik napas panjang. Dia tidak mengira putrinya akan bertanya seperti itu. Shella bisa meragukan kebaikannya sebagai seorang ayah hanya karena Galang. Walaupun semua yang dituduhkan Shella itu benar.
__ADS_1
"Shella, sebagai seorang ayah, ayah ingin yang terbaik untuk kamu. Tidak ada orangtua yang ingin anaknya menderita. Ayah hanya memintanya untuk sadar diri, kalau kisah masa lalunya belum usai. Ayah tidak ingin kamu celaka hanya karena dia. Dendam dari musuh-musuhnya, kamu ikut menanggungnya," ucap Pak Darman.
"Jadi ayah benar-benar mengusirnya. Shella kecewa pada Ayah," ucap Shella sedih.
Shella bergegas menghentikan aktivitas makannya, lalu pergi menuju ke resto.
Shella sangat sedih, dan akhirnya dia tahu kalau Galang mematikan ponselnya karena dia tidak ingin berhubungan lagi dengannya.
Galang pasti marah dan kecewa karena ayahnya telah mengusirnya dari resto bahkan mungkin telah meminta Galang untuk meninggalkan Shella.
Dengan sepeda motor bututnya, Shella bergegas menuju resto. Sesampainya di resto , dia langsung menuju pintu samping dan segera menuju ke kamar Galang. Dia tampak tertegun saat membuka pintu. Kamar ini sudah kosong dan tidak berpenghuni.
Shella tidak dapat menahan airmatanya yang tiba-tiba menetes dan mulai deras mengalir. Galang adalah cinta pertamanya, dan harus kandas karena keadaan. Shella tidak tahu harus menyalahkan siapa. Ataukah ini memang sudah takdir yang harus dia jalani. Mungkin dia memang tidak seharusnya jatuh cinta. Tetapi, dia sangat bahagia bisa merasakan cinta, dan Shella tidak akan pernah menyesali telah mencintai Galang.
Galang, aku tidak akan pernah menyalahkan kepergianmu. Aku hanya berharap, karena kita tidak pernah berkata putus, maka aku akan menunggumu.
__ADS_1
...****************...