
Setelah berbicara dengan Pak Darman, hati Galang mendadak dilema. Dia bergegas masuk ke kamarnya dengan perasaan sedih. Dilemparkannya tas ke atas tempat tidurnya. Galang duduk di tepi ranjang sambil sesekali menghela napas panjang
Perkataan Pak Darman terus terngiang di telinga Galang. Apa yang diucapkan, memegang hampir semua benar. Semua peristiwa yang terjadi pada Shella, memang karena dirinya.
Galang akhirnya menyadari jika kehadirannya telah membuat hidup Shella tidak bahagia dan bahkan mengalami banyak kesulitan. Galang sangat mencintai Shella dan dia tidak akan tega melihat Shella menderita.
Galang akhirnya mengambil keputusan untuk pergi meninggalkan Shella. Dia menulis sebuah surat perpisahan untuk Shella yang disembunyikan di bawah ranjang.
Galang yakin, saat Shella menemukan surat itu, dia sudah jauh pergi. Biarlah sampai saat itu tiba, Shella akan membencinya dan menganggap dia sebagai pria yang jahat. Meninggalkan kekasihnya tanpa pesan dan tanpa kata perpisahan.
"Maafkan aku, Shella. Ini demi kebaikanmu," gumam Galang.
Galang mulai merapikan barang pribadinya yang memang tidak terlalu banyak. Karena semua pakaian yang ada adalah milik kakaknya Shella. Dia hanya memiliki beberapa potong pakaian ganti yang merupakan miliknya sendiri.
Setelah semua beres, Galang berjalan keluar menuju ke tempat Pak Darman berada. Pak Darman cukup kaget melihat Galang sudah bersiap pergi.
"Paman, semua yang paman katakan memang benar. Semua karena Galang. Semua salah Galang. Tetapi, meskipun saat ini aku pergi, bukan berarti aku akan menyerah. Suatu saat, aku pasti akan kembali dengan Galang yang baru," ucap Galang lalu pergi tanpa menunggu jawaban pak Darman.
Galang berjalan menuju sepeda motornya yang terparkir di depan Resto Gaul. Dia segera menghidupkan motornya dan melaju dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
Pak Darman hanya menghela napas panjang. Setelah kepergian Galang, Pak Darman baru menyadari, jika apa yang sudah dia katakan pada Galang sedikit keterlaluan. Tidak seharusnya dia menyalahkan Galang atas apa yang terjadi pada Shella.
Sementara itu, Galang menghentikan laju motornya dan berhenti di halaman parkir sebuah perusahaan milik ibunya. Galang bergegas memarkir motornya dan berjalan menuju ke lobi.
Di lobi, dia dihentikan oleh salah satu karyawan yang tidak mengenalinya sebagai anak dari pemilik perusahaan.
"Kamu siapa dan mau apa?" tanya Didi pada Galang yang berjalan santai seolah perusahaan ini miliknya.
"Aku Galang. Aku ingin bertemu Mami," jawab Galang dengan gaya arogan.
"Mami, Mami siapa? Anak orang miskin saja pakai panggilan Mami. Apa jangan-jangan, kamu simpanan Mami-mami?" tanya Didi meledek Galang.
"Jaga mulut kamu, jika tidak ingin mulut kamu yang buruk itu dirobek orang!" ucap Galang kesal dan marah.
Orang-orang mulai berdatangan karena mendengar pertengkaran mereka. Saat itulah, Pak Varo, ayah tiri Galang, melihat Galang yang hendak memukul Didi. Dia bergegas mendekati Galang dan berusaha menghentikannya.
"Galang, hentikan!" teriak Pak Varo sambil memegang tangan Galang.
Suasana menjadi tegang dan Galang menatap tajam ayah tirinya tersebut.
__ADS_1
"Kalian semua bubar! Didi, kamu temui Pak Varo, di ruang kerjanya!" teriak Hata, asisten Bu Mila.
Semua orang bergegas menuju ke meja kerjanya masing-masing. Pak Varo melepaskan tangan Galang yang masih tampak kesal karena ucapan Didi.
"Galang, Mamimu ada di kantornya. Pergilah, Mamimu pasti senang, kamu mau datang ke kantor," ucap Pak Varo lembut tetapi berwibawa.
Tanpa sepatah katapun, Galang bergegas menuju kantor ibunya. Sementara Didi mendengar bisik-bisik dari teman kerjanya jika Galang adalah anak ketiga dari pemilik perusahaan tempatnya bekerja. Didi semakin panik dan dia mulai ketakutan jika Pak Varo akan memecatnya.
Pak Varo menatap tajam Didi yang terlihat cemas dan tangannya gemetar.
"Pak Didi, apa anda tahu apa kesalahan anda?" tanya Pak Varo dingin.
"Saya, saya tahu Pak Varo. Tolong maafkan saya," jawab Didi gugup dan suaranya bergetar.
"Apa yang telah kamu ucapkan. Juga tuduhan yang kamu lontarkan pada anak ketigaku sungguh sudah sangat keterlaluan. Apalagi kamu telah menghina istriku yang juga pemilik perusahaan ini. Kami tidak akan mempekerjakan orang-orang yang sombong dan tidak bermoral seperti kamu. Mulai hari ini, kamu saya pecat. Silahkan bereskan barang-barangmu dan pergi dari perusahaan ini," ucap Pak Vero mantap. Pak Varo memang tidak bisa mentolerir orang-orang yang telah menyakiti keluarganya.
"Pak Varo, tolong maafkan saya. Saya janji tidak akan mengulangi lagi," rengek Didi.
Tetapi keputusan Pak Varo sudah final dan tidak bisa di ganggu gugat lagi.
__ADS_1
Meskipun dia hanya ayah dan suami sambung, tetapi dia ingin melindungi seluruh keluarganya tanpa pilih kasih.
...****************...