Cinta Ketua Geng Motor

Cinta Ketua Geng Motor
Bab 44. Lain di mulut lain di hati


__ADS_3

Sepulang dari gathering, Shella langsung mandi dan beristirahat. Dia ingin melupakan semua yang terjadi hari ini. Hari dimana dia sangat kesal pada Galang, yang menyerah begitu saja saat dia menolaknya.


Kini, menyesal pun tidak ada gunanya lagi. Seharusnya dia bisa jujur mengakui bahwa dia masih mencintai Galang. Tetapi rasa sakit hatinya dulu, masih terus mendominasi hatinya.Shella ingin Galang mengejarnya seperti dulu, tanpa pantang menyerah.


Galang dulu tidak seperti sekarang. Mungkin karena dia sekarang telah menjadi orang berkuasa dan dia merasa bisa mendapatkan gadis lain yang lebih segalanya dari Shella. Seperti yang Shella pikirkan saat ini.


Shella mencoba memejamkan mata dan mencoba melupakan kesedihannya. Dia terlelap setelah beberapa jam berlalu.


Keesokan harinya, dia berusaha bersikap seperti tidak terjadi sesuatu. Dia mencoba berpikir realistis saja. Jika memang mereka berjodoh, pasti akan ada jalan untuk bersatu.


Sampai di perusahaan, Shella berjalan cepat untuk segera absen. Karena waktu masuk kerja, tinggal beberapa menit lagi. Kamu sudah kesiangan, semua karyawan akan saling berebut lift. Mereka tidak ingin bonus bulanan mereka dipotong jika tiga kali terlambat masuk kerja.


Semua sudah berbondong-bondong masuk lift. Sementara Shella dan Meilana bergegas ikut masuk juga. Sayangnya, saat mereka berdua masuk lift, ternyata lift tidak bisa beroperasi karena kelebihan beban.


Mereka saling berpandangan satu sama lain. Sedangkan Meilana menatap Shella dengan pandangan mematikan. Sungguh sangat disayangkan, wajah cantik itu telah berubah menjadi serigala. Shella berusaha menarik napas panjang, diapun akhirnya mengalah, setelah Meilana menunjuknya.


"Shella, kamu tadi yang terakhir masuknya, jadi harusnya kamu yang keluar. Betul tidak," ucap Meilana manja-manja menggoda.


"Benar-benar. Shella, ayo cepetan keluar. Apa kamu mau mengganti jika bonus bulanan kami semua ini dipotong?" ucap karyawan pria membenarkan ucapan Meilana diikuti yang lain.

__ADS_1


Dengan agak sedikit kecewa, Shella keluar dengan hati kesal. Mereka semua hanya melihat dari segi fisik saja. Mentang-mentang Meilana lebih menarik dan cantik, juga memiliki pekerjaan yang dekat dengan Presdir, mereka seolah menutup mata. Padahal jelas-jelas tadi Meilana yang paling terakhir.


Shella hanya bisa pasrah, jika nanti akan mendapatkan surat peringatan dari pihak personalia karena terlambat. Shella berdiri di luar lift sambil menundukkan kepalanya dan menunggu yang berikutnya.


Tiba-tiba, sebuah tangan menarik tangan Shella, menuju lift khusus Presdir. Shella penasaran, dan dia tersenyum malu saat melihat Galang yang menariknya. Galang juga tersenyum malu. Mereka seperti sepasang remaja yang sedang diam-diam jatuh cinta.


Sampai di dalam lift, Shella berusaha melepaskan pegangan Galang. Shella berpura-pura tidak senang dengan perlakuan Galang padanya.


"Kenapa aku dibawa kemari?" tanya Shella dengan wajah cemberut.


Galang merasa sedikit kesal dengan sikap Shella. Tetapi dia tidak tahan lagi jika harus mengikuti keinginan Shella untuk menjauh darinya. Cinta itu butuh perjuangan.


Galang perlahan mendekati Shella yang mulai gugup. Apalagi saat melihat tatap mata Galang yang sangat tajam menatapnya. Di dalam lift hanya ada mereka berdua.


Shella sudah tidak bisa bergerak lagi, ketika tangan kekar Galang menekan dinding lift tepat di samping kepalanya. Adegan ini seperti adegan dalam drama idola.


Shella tidak ingin terjebak dalam adegan itu. Dia berusaha menunduk untuk keluar dari zona tidak nyaman itu. Alhasil, Galang malah lebih mendekatkan tubuhnya pada tubuh Shella yang mulai gemetar.


Untunglah, pintu lift segera terbuka dan Shella sekuat tenaga mendorong tubuh Galang. Galang mundur selangkah hingga Galang memberi Shella jalan untuk keluar dari lift tersebut.

__ADS_1


Shella berlari kecil menuju mesin absen sidik jari. Shella hampir saja terlambat karena waktu tepat menunjukkan jam 8 pagi. Shella bisa bernapas lega setelah berhasil absen dekat waktu. Dia berjalan santai menuju meja kerjanya.


Sejak hari itu, Shella tidak pernah berangkat kerja kesiangan. Dia tidak ingin bertemu Galang lagi seperti kejadian hari itu. Shella tidak memberi kesempatan bagi Galang untuk bisa mendekatinya lagi.


Sampai suatu hari, Shella mendengar sebuah berita yang membuat hatinya hancur. Galang dan Meilana menjalin hubungan. Meskipun Shella di bibirnya selalu bilang tidak peduli dengan Galang, tetapi di dalam hatinya dia selalu merindukannya.


"Kalian sudah dengar gosip terbaru?" tanya Mila di sela-sela waktu kerjanya.


"Ini, di group besar ada. Presdir kita rupanya jatuh cinta pada salah satu karyawannya. Menurut kalian, benarkah itu Meilana?" tanya Tanti sambil menunjukkan rasa tidak percaya.


"Shella, bagaimana menurutmu?" tanya Mila sambil menatap Shella.


"Aku tidak tahu. Kenapa kalian mesti mengurusi urusan pribadi Bos kita. Biarkan saja dia mau pacaran dengan Meilana atau gadis manapun. Itu bukan urusan kita," jawab Shella sinis.


Rekan-rekan kerja Shella menatap Shella kaget. Mereka melihat seolah Shella tidak peduli dengan gosip tentang Presdir mereka.


"Shella, kamu ini kenapa, dingin banget kalau soal Presdir kita. Tapi menurutku, Meilana bakalan sombong kalua itu beneran. Kita harus hati-hati sama dia. Wajahnya cantik dan dia hanya baik sama bos-bos kita. Kalau sama karyawan rendahan seperti kita, dia itu seolah jijik," ucap Tanti dibenarkan yang lain.


"Aku berharap, pacar bos itu bukan dia. Shella, kamu pernah dekat sama Presdir. Menurut kamu, gadis seperti apa yang Presdir sukai?" tanya Tanti.

__ADS_1


Shella tidak bisa menjawab pertanyaan Tanti. Dia harus menjawab apa? Haruskah dia menjawab kalau gadis yang Galang sukai adalah dia? Apa nanti reaksi teman-temannya? Lagipula, beberapa hari ini mereka sedang pernah dingin. Jadi siapapun pacar Galang, tidak ada hubungannya dengan dia.


...****************...


__ADS_2