
Shella mendorong troli barang ya g berisi Galang menuju ke tempat ayahnya menunggu. Galang sama sekali tidak mengeluarkan suara. Dia hanya sesekali tersenyum melihat Shella.
Wajah cantik dan hati yang cantik pula, telah benar-benar membuat Galang jatuh cinta semakin dalam padanya. Galang mulai menyadari jika, dia tidak hanya jatuh cinta pada Shella tetapi dia sudah menganggap Shella sebagai malaikat tak bersayap baginya.
Di mana lagi bisa menemukan gadis seperti Shella? Meskipun Shella tidak menyukainya, tetapi disaat dia membutuhkan, Shella selalu ada dan membantu tanpa pamrih.
"Ayah, ini dia" kata Shella datar.
Pak Darman menatap tajam Galang yang menghentikan senyumannya karena saat ini Pak Darman terlihat serius. Sedangkan Shella hanya menarik napas panjang seolah tidak percaya bahwa Galang yang sedang terluka ada di tempatnya.
"Nak Galang, seharusnya masih di rumah sakit, bukan? Kenapa malah ada di sini, kamu melarikan diri dari rumah sakit?" tanya pak Darman penasaran. "Apa kamu lupa ingatan setelah peristiwa kecelakaan itu?"
"Entahlah. Kalau lupa ingatan, kenapa aku masih ingat Shella, ingat pak Darman?" jawab Galang dengan balik bertanya.
"Kamu ingat orangtuamu?"
"Ingat."
"Lalu kenapa kamu kabur dari rumah sakit?" tanya Pak Darman tambah penasaran.
"Aku ... mereka akan membawa aku berobat ke luar negeri. Tapi, aku tidak mau," jawab Galang gugup.
"Loh, berobat ke luar negeri bukannya itu baik? Perawatannya mungkin lebih maju dan kamu bisa cepat sembuh," kata Shella kaget.
"Nggak. Berobat di kota ini juga bagus, sama saja," kata Galang panik.
Galang agak sedikit khawatir jika Shella dan ayahnya akan menghubungi keluarganya.
"Mau dibawa berobat ke luar negeri kok nggak mau. Malah milih kabur dari rumah sakit," gumam Shella.
"Tolong, bantu aku. Izinkan aku tinggal di sini," ucap Galang memohon.
Shella dan ayahnya saling berpandangan. Raut wajah Shella tampak santai sedangkan ayahnya sedikit kesal. Bagaimana tidak, kehadiran Galang di resto ini sedikit banyak pasti akan mengganggu mereka.
"Om, Shella. Galang tidak akan mengganggu kalian bekerja," kata Galang ditengah suasana hening.
__ADS_1
Shella mendekati ayahnya. Lalu berbisik pelan. Lalu tampak senyuman dari bibir pak Darman.
"Baiklah. Karena kamu ingin tinggal di sini, maka kamu harus menurut pada aturan kami," kata Shella.
"Baiklah. Katakan saja."
"Kamu masih harus menjalani perawatan. Karena kamu tidak ingin tinggal di rumah sakit, maka setiap seminggu sekali, kamu harus pergi ke rumah sakit untuk melakukan check up." Shella menjelaskan dengan jelas apa yang harus Galang lakukan selama tinggal di resto ini.
"Oke."
"Satu lagi. Selama kamu tinggal di sini, aku tidak mau ada anggota geng motor yang ke tempatku. Jika sampai anggota geng motor kamu datang, kami akan mengusir kamu," ucap Shella lagi.
Galang setuju saja semua persyaratan dari Shella. Termasuk untuk tidak membiarkan anak buahnya datang. Galang yakin, mereka tidak akan pernah datang. Karena mereka tidak tahu keberadaan Galang saat ini.
Shella dan ayahnya menurunkan Galang dan membantu memindahkannya ke atas tempat tidur. Sebenarnya Shella sangat khawatir dengan kondisi Galang. Dalam keadaan yang terluka dan kabur dari perawatan rumah sakit tanpa membawa obat. Shella bersepakat dengan ayahnya, untuk memanggil dokter kenalannya.
Suasana resto hari ini cukup ramai. Kebanyakan yang datang adalah pasangan muda mudi dan juga anak-anak. Tetapi Shella tidak bisa membantu ayahnya karena harus memanggil dokter dan merawat Galang.
Dokter datang dan segera memeriksa kondisi Galang.
"Iya, Paman. Terima kasih," jawab Shella.
Shella mengantarkan Dokter Syam hingga keluar resto. Setelah itu, Shella bergegas menebus resep obat dari Dokter Syam. Karena Shella tidak ingin Galang berada di tempatnya tanpa perawatan. Jika terjadi sesuatu pada Galang, Shella dan ayahnya, pasti akan di tuntut oleh keluarga Galang.
Setelah mendapatkan obat, Shella bergegas kembali dan segera memaksa Galang untuk minum obat sesuai anjuran dokter. Galang tidak bisa membantah karena pasti dia akan diusir dari tempat Shella. Dan dia tidak mau itu terjadi. Sudah bagus dia bisa dekat dengan Shella meskipun Galang sendiri tidak tahu alasan Shella dan ayahnya bersikap baik padanya. Shella benar-benar merawat Galang dengan baik, seperti merawat keluarga sendiri.
Setelah resto tutup, Pak Darman dan Shella meninggalkan Galang sendirian di resto. Mereka sengaja membiarkan Galang tinggal di sana, karena tidak mungkin membawa Galang pulang ke rumah.
Meskipun ada rasa khawatir, tentang kesehatan Galang. Tetapi Shella tidak ingin Galang mempengaruhi kehidupannya.
Keesokan harinya, Pak Darman meminta Shella untuk melihat kondisi Galang di resto sekalian mengantarkan sarapan untuknya. Ibunya juga sudah tahu tentang Galang dari ayahnya, sehingga pagi-pagi, sudah menyiapkan sarapan untuk Galang.
Shella mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan sedang menuju resto. Resto memang tampak sepi karena biasa buka saat makan siang hingga malam. Setelah memarkir motornya, Shella bergegas masuk.
Shella langsung menuju ke ruang istirahat, tempat Galang tinggal. Shella sangat terkejut saat melihat Galang tidur di lantai.
__ADS_1
"Galang, kenapa tidur di lantai?" tanya Shella pelan.
Shella membantu Galang kembali ke tempat tidur. Tubuhnya yang agak kurus, memang agak limbung menahan tubuh Galang yang kekar untuk pemuda seusianya.
"Aku bukan sengaja tidur di lantai, tapi semalam aku jatuh saat dari kamar mandi," jawab Galang.
"Jatuh, kok bisa jatuh?" ucap Shella panik.
Shella merasa sedih. Melihat Galang dalam keadaan seperti ini. Dia teringat kakaknya saat meninggal juga seumuran Galang. Masa depan yang masih panjang harus berakhir karena sebuah kecelakaan.
"Bagaimana jika kamu kembali ke rumah sakit atau setujui saja keinginan orangtuamu untuk membawamu berobat ke luar negeri. Semua itu lebih baik daripada kamu di sini menderita," bujuk Shella.
"Tidak, aku tidak menderita di sini. Aku bahkan merasa baik-baik saja," jawab Galang panik mendengar ucapan Shella yang seolah ingin mengusirnya secara halus.
"Ya, sudah. Karena kamu memilih hidup seperti ini, maka jangan sekali-kali mengeluh. Jika kamu mengeluh, lebih baik kamu segera tinggalkan tempat ini," ancam Shella.
"Kamu kejam banget," ucap Galang.
Meskipun Galang mengatakan Shella kejam, sesungguhnya Galang sangat mengagumi Shella. Meskipun Shella tidak menyukai geng motor, tetapi dia masih mau membantunya.
Shella membantu Galang sarapan dengan menyukainya. Lalu membantunya minum obat pereda nyeri yang diresepkan dokter.
Sekitar satu jam kemudian, Pak Darman datang membawa barang-barang belanjaan untuk jualan hari ini.
Shella keluar untuk membantu ayahnya mengangkat barang dagangannya ke dalam resto. Setelah beres semua, Shella dan ayahnya istirahat sambil minum kopi buatan Shella.
"Shella, apa tidak sebaiknya, paksa saja Galang untuk pergi. Ayah takut jika orangtuanya melaporkan kita ke kantor polisi karena dianggap menyembunyikan dia," kata pak Darman khawatir.
"Ayah, Shella kasihan melihatnya. Dia seperti Kak Ferdi saat itu. Dulu, tidak ada seorangpun yang mau menolong Kak Ferdi karena dia anggota geng motor. Mereka takut terlibat dan berurusan dengan polisi. Anggap saja, kita sedang menyelamatkan Kak Ferdi," kata Shella sedih.
"Shella, ayah tahu kamu membenci geng motor karena mereka telah membuat kakakmu ikut menjadi anggota geng motor dan meninggal. Kakakmu hanya salah pergaulan saja. Salahkan ayah, jika kamu ingin menyalahkan seseorang. Ayah yang tidak bisa mendidik kakakmu hingga dia memilih jalan itu," kata pak Darman sedih.
"Ayah, maafkan Shella. Shella tidak bermaksud seperti itu," kata Shella panik melihat ayahnya meneteskan airmata.
...****************...
__ADS_1