
Sepulang kuliah, Shella langsung menuju ke resto. Sebuah sepeda motor warna merah, terparkir di depan resto. Motor yang tidak asing bagi Shella, karena sudah beberapa kali dia melihat motor itu. Dia tidak pernah menyangka jika hari ini, dia akan melihat Galang kembali di resto.
Hari ini, ayahnya memang ada sedikit urusan, sehingga akan terlambat membuka resto. Tetapi, Shella sengaja langsung datang ke sana untuk beristirahat sambil belajar.
Untuk memastikan keberadaan Galang, Shella segera memarkir motornya dekat motor tersebut. Dia berjalan ke arah pintu samping yang masih terkunci. Perlahan Shella membuka pintu samping. Suasana masih tampak sunyi dan Shella bergegas menuju ke kamar Galang.
Shella berhenti sejenak, tepat di depan pintu kamar. Perlahan dia mengetuk pintu karena Shella berharap, Galang benar-benar ada di dalam.
"Tunggu sebentar, aku lagi ganti baju!" Suara teriakan Galang membuat hati Shella kacau. Perasaan senang, jantung yang berdetak kencang serta hati yang berdebar-debar membuat seluruh tubuhnya terasa lemas.
Pintu perlahan terbuka dan tampak Galang dengan wajah tampannya berdiri tepat di depannya. Dengan senyum khas yang bisa menghipnotis para gadis.
"Kangen, tidak?" tanya Galang.
"Nggak. Aku malah senang kalau kamu udah bisa berbaikan dengan keluargamu?" jawab Shella.
"Sedih aku. Jadi, kamu senang kalau aku pergi? Benar-benar kejam," ucap Galang sambil menghela napas berat.
__ADS_1
"Bukan begitu, aku ...."
"Jadi, kamu pasti takut aku pergi dan tidak kembali lagi bukan? Kamu pasti sudah jatuh cinta padaku. Bahagianya hatiku," sahut Galang.
"Aku, mana ada aku bilang begitu," ucap Shella malu.
"Kenapa wajahmu memerah, kalau itu tidak benar? Shella, duduklah. Ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu," ajak Galang.
"Kita duduk di luar saja," ucap Shella.
Mereka duduk di kursi pelanggan seperti keinginan Shella. Padahal biasanya, Shella dan Galang belajar di kamar Galang tanpa ada rasa sungkan.
Seberapapun Shella berusaha menghindari perasaan itu, tetap saja dia tidak bisa. Perasaan itu tumbuh dan berkembang tanpa Shella sadari dan kini sudah berbunga. Shella hanya menunggu pernyataan cinta dari Galang untuk kedua kalinya.
Jika dulu dia menolak pernyataan cinta dari Galang, karena saat itu perasaaan cinta ini dihatinya untuk Galang, belum tumbuh. Baru berupa biji yang tertanam pada kesan pertama.
"Shella, aku menyadari, saat kamu di culik, aku sangat panik sekali. Aku takut mereka menyakitimu. Bagaimana aku akan bisa hidup tanpa kamu. Beberapa hari ini saja, aku berusaha meyakinkan diri, seberapa besar arti dirimu bagiku. Seberapa besar perasaan yang aku miliki untuk kamu." Galang berhenti sesaat.
__ADS_1
"Shella, aku mencintaimu. Bukan hanya sekedar ingin balas budi. Aku mencintaimu karena hatimu. Mungkin aku belumlah menjadi seseorang yang sempurna di depanmu, tetapi aku akan berusaha untuk menjadi pria yang seperti kamu harapkan. Shella, bersediakah kamu menjadi cahaya di hidupku, mendampingiku belajar untuk menjadi lebih baik?" tanya Galang.
Shella terdiam. Harapannya mendengar pernyataan cinta dari Galang, telah kesampaian. Tidak alasan lagi baginya untuk melewatkannya. Karena belum tentu Galang akan mengatakannya lagi, jika kali ini Shella menolak.
"Galang, aku bersedia menjadi cahaya di hidupmu, mendampingimu belajar," jawab Shella.
Galang seakan tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Dia menatap Shella, seolah ingin memastikan, jika apa yang dia dengar itu nyata.
Shella agak kesal saat melihat reaksi Galang. Dia sudah memberanikan diri, untuk menjawab bersedia, dan Galang hanya menatapnya tidak percaya.
Shella berdiri untuk karena kesal dan dia ingin pergi. Baru satu langkah, Galang meraih tangannya.
"Shella ...."
...****************...
Sambil menunggu up selanjutnya, baca juga karya teman aku.
__ADS_1