
Shella tersenyum senang setelah mendapatkan pesanannya. Dia bisa bernapas lega karena tanpa bersusah payah pergi sendiri, dia sekarang bisa memenuhi keinginan Presdir. Entah hukuman ini pantas satu tidak, dia tetap harus melakukannya.
Shella bergegas menuju ruangan Galang. Di depan ruangan itu, dia bertemu dengan Meilana yang cantik dan seksi. Meilana tersenyum saat melihat Shella.
"Shella, hati-hati, suasana hati Presdir sedang tidak baik," kata Meilana sambil memberinya semangat.
"Benarkah, apa aku tidak masuk saja?" gumam Riana sambil menghentikan langkahnya.
"Kalau kamu tidak masuk, Presdir akan lebih marah lagi. Masuk saja," kata Meilana mengingatkan.
Shella masih ragu untuk masuk atau tidak. Dia berdiri cukup lama untuk mengumpulkan keberaniannya. Menghadapi Galang yang sejak awal tidak lagi mengenalnya.
"Mungkin dia hilang ingatan," gumam Shella menenangkan diri sendiri.
Shella mengetuk pintu perlahan dan terdengar suara Galang mempersilahkan dia masuk. Langkahnya pelan ketik masuk untuk melihat situasi. Apakah benar Galang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja.
Saat Shella meletakan paper bag di meja kerja Galang, Galang menggebrak meja dengan cukup keras. Hal itu membuat Shella terdiam mematung di tempatnya berdiri. Sorot mata tajam Galang seolah menembus hati Shella.
"Apa makanan ini kamu beli sendiri?" tanya Galang cukup keras.
__ADS_1
Shella yang tahu Galang seperti apa dulunya, tidak terlalu kaget. Hanya saja, Shella merasa mungkin dia sedang menguji kejujuran Shella. Shella memberanikan diri untuk berkata jujur. Paling-paling resikonya adalah dipecat. Kalau sudah kepepet tidak ada pekerjaan, dia bisa belajar mengelola Resto dan menjadi penerus Resto ayahnya.
"Maaf, saya memesannya. Karena saya takut anda akan terlambat makan siang," ucap Shella membuat alasan.
"Apa, kamu memesannya?" tanya Galang.
Shella sudah kehilangan kesabaran karena melihat Galang marah-marah padanya. Walaupun mereka sudah bukan kekasih lagi, setidaknya Galang juga pernah mencintainya. Tetapi melihat sikap Galang, Shella sangat kesal.
"Kenapa, bukankah itu sama saja? Aku membelinya sendiri atau memesannya,masih sama rasanya. Tetep fried chicken, nggak akan berubah jadi siomai. Aneh, bikin emosi saja," jawab Shella kesal.
Galang terdiam mendengar Omelan Shella. Lama tidak bertemu, Shella telah banyak berubah. Dia seolah tidak bisa mengontrol emosinya.
"Kenapa kamu yang lebih galak dari aku? Kamu yang salah kenapa aku yang jadi tersangka?" tanya Galang kaget.
Shella tersenyum dalam hati. Puas rasanya dia bisa meluapkan emosinya pada Galang. Shella tidak menjawab pertanyaan Galang. Galang sedikit kesal. Tetapi dia sungguh tidak tega melihat Shella tertekan. Cukup sandiwaranya kali ini.
Galang berdiri dan mendekati Shella dengan tatapan tajam. Shella mulai merasa terancam.
"Kenapa, mau membunuhku? Jangan keterlaluan, jika ingin memecat aku, pecat saja. Jangan membuat aku panik," ucap Shella sambil mundur beberapa langkah.
__ADS_1
Galang tidak peduli dengan ucapan Shella. Dia terus mendekati Shella, hingga Shella terpojok di dinding. Shella merasa salah tingkah. Wajah tampan yang selalu bersemayam di di hatinya itu, sangat dekat dengan wajahnya. Tatapan mata yang tajam dan jernih itu membuatnya menelan ludah.
"Ingin dipecat? Ingin bekerja di perusahaan Rafael? Tidak semudah itu," ucap Galang sambil tersenyum.
"Si-siapa yang ingin bekerja di perusahaan Rafael?" ucap Shella gugup. Shella tidak mampu membalas tatapan Galang.
"Tidak ingin bekerja di perusahaannya tetapi masih bisa bermesraan di depan perusahaanku," ucap Galang penuh rasa cemburu.
"Kamu melihatnya? Dia hanya datang untuk melihatku. Tapi, untuk apa aku menjelaskannya padamu. Apa hubungan kita?" tanya Shella sinis.
"Apa hubungan kita? Kamu bertanya apa hubungan kita? Apa pernah salah satu diantara kita mengatakan putus? Jadi, bukankah seharusnya kamu tahu hubungan kita itu apa?" jawab Galang dengan banyak pertanyaan.
Shella hanya diam saja. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Ingin membantah, takutnya akan menimbulkan huru hara di kantor Galang. Dan tiba-tiba, Galang mencium pipi Shella. Wajah Shella berubah merah merona karena malu.
Saat itu, sebuah ketukan pintu membuat Shella panik. Shella mendorong tubuh Galang dan dia bergegas membuka pintu. Dia tidak sempat melihat siapa yang datang karena dia sangat malu dan panik.
Ternyata yang datang adalah pak Indar. Dia kaget melihat Shella keluar dari ruangan Presdir dengan keadaan panik seperti itu. Lebih kaget lagi, saat melihat Galang yang bergegas duduk sambil tersenyum senang.
Galang tidak peduli dengan rasa penasaran Pak Indar. Kalaupun dia tahu, itu lebih baik. Pak Indar pergi setelah dokumen ditangannya ditanda tangani oleh Galang.
__ADS_1