Cinta Ketua Geng Motor

Cinta Ketua Geng Motor
Bab 9. Pertolongan kedua


__ADS_3

Shella setuju mendonorkan darahnya kembali untuk Galang. Akan tetapi kali ini dengan syarat tertentu.


Dira membawa Shella dengan sepeda motornya, dengan kecepatan sedang agar tidak membuat Shella berubah pikiran. Yang ada dalam pikiran Dira saat ini adalah membuat Shella setuju.


Sesampainya di rumah sakit, Shella rupanya sudah ditunggu oleh dokter yang merawat Galang. Setetes darah dari Shella, mampu membuat hidup Galang terselamatkan.


Selesai mendonorkan darahnya, Shella segera pamit pulang. Dia tidak ingin Galang tahu dan kembali mengusik hidupnya.


Sayangnya tubuh Shella terasa lemah, sehingga dia memutuskan untuk beristirahat sebentar sambil tiduran. Shella tertidur hingga orang tua Galang datang.


"Bagaimana kondisi Galang, Bagas?" tanya Bu Mila panik. "Dimana dia dirawat?"


"Tante, Om. Kata Dokter, Galang mengalami retak tulang di beberapa bagian tubuhnya. Kaki tangan dan leher. Dia sekarang sudah di tempatkan di ruang rawat inap," Jawab Bagas gugup. "Mari Bagas antar."


"Tunggu, bukankah itu Shella? Kenapa dia berada di sini?" tanya Bu Mila kaget.


"Dia yang mendonorkan darahnya untuk Galang lagi. Sekarang kondisinya lemah dan dia ketiduran di sana," jawab Bagas.


"Dia gadis yang sangat baik. Kamu nanti minta Dira antar dia pulang," kata Bu Mila. "Ayo, bawa kami temui Galang."


Bagas berjalan menuju ruang rawat tempat Galang dirawat diikuti Bu Mila dan Pak Varo. Bagas berhenti di sebuah ruang rawat inap VIP.


"Ini dia tempat Galang di rawat," ucap Bagas sopan.


"Terima kasih, Bagas. Kamu pulang saja. Biar ibu yang jaga Galang," kata Bu Mila sambil menghela napas berat.


"Bagas permisi pulang dulu," pamit Bagas.


"Jangan lupa antarkan gadis itu pulang," pesan Bu Mila.


"Baik, Tante."

__ADS_1


Bagas bergegas pergi meninggalkan Bu Mira sana Pak Varo, yang segera membuka pintu ruang perawatan Galang, setelah Bagas pergi. Mereka sedih saat melihat tubuh Galang lebih parah dari luka yang kemarin.


"Mila, aku tunggu di luar saja. Aku takut jika dia melihatku, akan mempengaruhi kondisi kesehatannya," ucap Pak Varo.


"Mas, maafkan Galang. Sampai saat ini, dia masih saja salah paham dengan kamu. Sebenarnya dia juga membenciku, tetapi aku anggap itu balasan untukku," ucap Bu Mila sedih.


"Jangan berpikir seperti itu. Bagaimanapun kamu ibunya. Dia tidak akan membencimu seperti dia membenciku. Dia masih akan tetap mencintaimu seperti sebelumnya," kata Pak Varo lembut. Dia memeluk istrinya untuk menguatkan hatinya.


"Aku telah berusaha menebus kesalahanku, tapi dia masih belum bisa melupakan semuanya. Dia memang berbeda dari dua kakaknya. Andai dia mau mengerti, bahwa keputusanku saat itu, adalah pilihan yang terbaik untuk kita semua. Banyak hal yang aku pikirkan terutama juga untuk Galang. Aku tidak bermaksud menyakiti dia dengan memilih tetap bersamamu. Tetapi karena aku merasa, kamu adalah ayah terbaik untuk Galang," ucap Bu Mila semakin sedih.


"Terima kasih karena kamu percaya padaku. Meskipun dia bukan anak kandungku, tetapi aku sudah menganggapnya sebagai anakku sendiri. Mereka bertiga adalah kakak dari Valeria. Aku tidak ingin membeda-bedakan mereka. Terlalu ternyata Dimata Galang, aku masih belum pantas menjadi ayahnya," ucap Pak Varo.


"Padahal sejak kecil, dia begitu mencintaimu. Kamu yang membelanya setiap kali aku marah. Kamu yang selalu mencintainya disaat aku membencinya. Sekarang dia jadi seperti ini. Mungkin aku yang salah, telah menumbuhkan kebencian dalam hatinya yang sulit sembuh."


"Sabar, kini saatnya berusaha membuat dia semangat untuk sembuh," kata Pak Varo menyemangati istrinya. "Aku tunggu di luar."


Mila melangkah mendekati Galang yang masih belum sadarkan diri. Mila menatap Galang yang masih belum sadarkan diri dari pengaruh obat bius setelah operasi.Setelah beberapa waktu, akhirnya Galang sadar juga.


Tetapi sangat-sangat sulit untuk bisa membujuk Shella melakukan seperti apa yang dia inginkan. Termasuk kejadian hari ini, adalah salah satu dari sikap Shella yang tidak sesuai arahannya. Dia sudah meminta Shella untuk membiarkan Galang membalas Budi padanya. Pasti karena Shella menolak makanya Galang mengalami kecelakaan.


Atau sebaiknya aku menjauhkan Galang dari Shella, batin Bu Mila.


"Galang, kamu sudah sadar?" tanya Bu Mila.


"Aduh, sakit." Suara Galang merintih kesakitan saat dia berusaha menggerakkan anggota tubuhnya.


"Jangan banyak bergerak dulu. Kamu memiliki banyak luka yang cukup serius," kata Bu Mila lembut.


Galang terdiam melihat sikap Maminya berubah. Tetapi dia menepiskan semuanya dan Kemabli mengingat perlakuan Maminya sewaktu kecil. Dia merasa dikucilkan dari saudara-saudaranya yang lain hanya karena dia memiliki wajah yang mirip dengan pria yang dibenci Maminya yaitu ayah kandungnya.


Galang merasa setiap kali Maminya berbuat baik, pasti hanya karena merasa bersalah padanya bukan karena dia tulus mencintainya. Hal itu yang membuat Galang haus akan kasih sayang yang tulus dari seorang wanita. Hal itu dia temukan dari diri Shella yang mau mendonorkan sebagian darahnya meskipun dia tidak mengenalnya.

__ADS_1


Wanita seperti itulah yang Galang inginkan untuk menjadi ibu dari anak-anaknya.


Tetapi sayang sekali, Shella tidak memiliki perasaan yang sama padanya. Galang teringat janjinya saat kecelakaan semalam. Bahwa jika dia diberi kesempatan untuk hidup lagi, dia akan mengejar cintanya sampai titik darah penghabisan.


"Galang, Mami akan membawamu berobat ke luar negeri. Fokuslah untuk penyembuhan kamu," kata Bu Mila.


"Mami, Galang ingin berobat di sini saja. Galang nggak akan kemana-mana," jawab Galang kecewa.


"Galang. Maaf jika Mami akan berbuat yang tidak sesuai keinginanmu. Tetapi semua ini Mami lakukan untuk kebaikan kamu. Mami akan tetap membawamu berobat ke luar negeri, dengan atau tanpa persetujuannya," kata Bu Mila tegas.


"Sama, Galang tetap tidak akan mau pergi apapun yang terjadi," sahut Galang tidak mau kalah.


"Kamu istirahatlah dulu. Pikirkan baik-baik apa yang Mami katakan. Mami akan pulang dulu untuk menyiapkan semua keperluan kamu dan Mami selama ke luar negeri," ucap Bu Mila lalu melangkah pergi.


"Galang tetap tidak mau pergi!" teriak Galang keras.


Hatinya sedih, sakit mendengar Maminya begitu gigih ingin membawanya berobat ke luar negeri.


Jika dia pergi, bagaimana dengan Shella. Bagaimana jika saat dia pergi, Shela sudah menjadi milik orang lain? Bagaimana dia bisa hidup tanpa Shella? Tidak, aku harus mendapatkan cinta Shella sebelum ada orang lain yang memilikinya, batin Galang kacau.


Saat Galang sedang galau, seseorang membuka pintu, masuklah Bagas dengan wajah kurang tidur.


"Bagas, kenapa kamu masih di sini, kamu tidak pulang tidur?" tanya Galang kaget.


"Bos, saat mendengar Bos sudah sadar, gue sudah tidak sabar lagi bertemu dengan Bos," jawab Bagas semangat.


"Kebetulan, gue pingin meminta bantuan Lo," kata Galang memiliki harapan.


"Apa?"


"Bantu gue kabur dari sini."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2