
Shella menikmati pemandangan air terjun, dengan penuh kegembiraan. Karena dia merasa, jika Galang masih mencintainya. Galang juga sudah menjelaskan kenapa dulu dia tidak pernah menemuinya.
Shella yang tampak ceria, membuat Galang semakin ingin mengabadikan momen itu. Selama tiga tahun, dia hanya bisa melihat Shella dari jauh. Kini, setelah mereka bertemu kembali, Galang ingin selalu berada disampingnya.
Kebahagian itu sangatlah sederhana untuk Galang. Hanya dengan melihat orang yang dicintai tersenyum bahagia, Galang juga akan ikut bahagia.
Setelah dari air terjun, mereka kembali segera kembali ke parkiran untuk makan siang. Setelah semua masuk bis, termasuk Galang dan Shella, bis segera melaju menuju ke sebuah rumah makan.
Di rumah makan itu, sudah tersedia makan siang prasmanan dan acara musik untuk menemani makan siang mereka. Mereka mengantri untuk mengambil jatah makan siang mereka.
Shella dan Galang duduk di kursi paling depan. Shella sangat senang karena mereka lebih dekat dengan acara musiknya. Shella menikmati acara itu dengan senyum manisnya.
"Aku ambilkan makan siang, ya?" tanya Shella saat karyawan lain sudah menikmati makan siang mereka.
"Boleh," jawab Galang singkat.
Shella bergegas mengambil makan siang untuk Galang dan untuk dia sendiri. Saat itu Mila dan Tanti datang menghampirinya.
"La, bagaimana keadaan kamu?" tanya Mila penasaran.
"Maksudmu apa, Mil. Aku baik-baik saja," jawab Shella heran dengan pertanyaan Mila.
"Maksud Mila, apa Presdir merundung kamu? Contohnya memperlakukan kamu seperti pembantu. Contohnya ini, disuruh ambilkan makan siang," kata Tanti menjelaskan maksud pertanyaan Mila.
"Nggak, Presdir nggak jahat, kok. Ini tadi aku yang menawarkan diri untuk mengambilkan makan siang untuknya," jawab Shella sambil tersenyum.
"Syukurlah, kalau begitu. Kami kembali melanjutkan makan siang dulu. Kamu harus hati-hati dan jaga sikap saat bersama Presdir," pesan Mila.
__ADS_1
Shella tersenyum lalu mengangguk perlahan. Shella sangat senang memiliki sahat dan teman kerja seperti Mila dan Tanti. Mereka sangat perhatian padanya.
Shella membawa dua buah piring menuju ke meja tempat Galang menunggunya. Ternyata, di situ sudah ada Meilana duduk di samping Galang. Sepertinya mereka tengah sibuk membicarakan hal penting.
Shella tidak ingin mengganggu pekerjaan mereka, apalagi Meilana bersikap sinis padanya. Padahal, Shella tidak merasa memiliki salah padanya. Kalau memang dia mau dekati Galang, Meilana lebih memiliki banyak waktu dan kesempatan karena dia sekretaris Galang.
Shella berbalik badan untuk mencari tempat duduk lain. Inilah cara Shella untuk bisa bebas dari Galang. Tetapi, Galang belum makan siang. Shella merasa galau.
Akhirnya dia memutuskan untuk memberikan jatah makan siang Galang. Shella kembali berbalik badan dan menuju ke meja Galang. Shella mencoba untuk bersikap sebisa mungkin.
"Maaf mengganggu. Ini makan siang anda Presdir. Silakan," ucap Shella sambil meletakkan piring berisi makan siang Galang.
"Shella, makanan apa ini? Kamu memberikan ini untuk Presdir?" tanya Meilana cukup keras sehingga membuat beberapa karyawan yang duduk di dekat mereka minta kearah mereka.
"Maaf, tapi makanan ini juga yang kita semua makan," jawab Shella apa adanya.
"Iya, itu untuk kita, bukan untuk Presdir. Harusnya kamu pesankan sendiri makanan yang lebih baik dari ini," ucap Meilana sok berkuasa.
"Meilana, karna pembicaraan kita sudah selesai, sebaiknya kamu bergabung dengan yang lain. Saat ini, tugas Shella belum berakhir. Jadi biarkan dia melakukan tugasnya," ucap Galang mengusir Meilana.
Shella tersenyum dalam hati, mendengar ucapan Galang. Dia tidak perlu berdebat dengan Meilana lebih lama. Tetapi melihat wajah Meilana yang tampak kesal, membuat Shella merasa jika Meilana menyukai Galang.
"Shella, duduklah," ucap Galang santai.
Shella duduk di depan Galang sambil memperhatikan makanan di depan Galang. Makanan sederhana yang biasa dimakan para karyawan saat ada gathering semacam ini.
"Presdir, jika tidak suka dengan makanan ini, tidak perlu dimakan. Aku akan mencarikan yang lain, seperti yang Meilana inginkan," kata Shella berpura-pura merasa bersalah.
__ADS_1
"Jangan dengarkan kata Meilana. Apapun yang kamu berikan, aku akan menyukainya. Bukankah dulu, aku juga makan apa adanya?" kata Galang sambil mulai memasukan sesuap nasi ke mulutnya. "Enak, ayo makan bersama."
Shella tersenyum melihat Galang masih bersikap sederhana seperti dulu. Makan apa adanya di resto bersamanya. Kenangan indah itu tiba-tiba muncul dibenaknya dan membuat hati Shella berdebar.
Apa mungkin aku masih mencintai Galang? batin Shella.
Saat itu, pesan masuk di ponsel Galang berbunyi. Galang tampak serius membacanya. Meskipun Shella penasaran tetapi Shella tidak mampu bertanya. Dia tidak ada hak untuk bertanya pada Bosnya, terlalu tidak sopan ingin mengetahui pribadi atasan.
"Shella, saat kamu mengambil makan siang, Valeria mengirimkan pesan, kalau dia tidak bisa makan bersama di sini. Ini dia kirim pesan lagi, kalau dia akan mengajak kita makan siang, kalau kita sudah pulang. Apa kamu setuju?" tanya Galang sambil menatap Shella.
"Maksudnya?" tanya Shella kaget. Kalau sudah diluar jam kerja, harusnya ini bukan lagi tugas dia untuk setuju.
"Valeria, mengundang kamu sebagai calon kakak iparnya. Dia memang terlalu berlebihan, tapi aku harap kamu setuju. Dia bilang, dia menyukaimu," jawab Galang penuh harap.
Shella berpikir sejenak. Dia beberapa kali menarik napas panjang.
"Tapi, harusnya Presdir beritahu dia, kalau kita hanya sebatas hubungan kerja saja. Aku rasa, dia tidak akan memaksa untuk makan siang bersama," jawab Shella berusaha santai.
"Shella, kamu masih belum mau memaafkan aku. Aku salah dan aku tidak pantas mendapatkan maaf dari kamu. Aku tidak akan mendekatimu lagi. Pergilah, dan mulai hari ini, kita hanya sebatas hubungan kerja," ucap Galang sedih. Antara kecewa dan perasaan bersalah telah membuat dirinya tidak bisa memaksa Shella lagi. Galang menyerah mengejar cintanya.
Shella sebenarnya sedih mendengar ucapan Galang. Tetapi itu lebih baik untuk mereka saat ini. Shella tidak ingin terluka untuk kedua kalinya. Galang seorang Presdir dan dia harus bersama dengan wanita yang bisa seimbang dengannya dari segi apapun.
Shella melangkah pergi sambil membawa piring menuju meja kedua sahabatnya. Mereka tampak kaget melihat Shella sedih. Tetapi mereka tidak ingin bertanya banyak sebelum Shella menghabiskan makanan di atas piringnya.
Selesai makan, mereka beristirahat sambil mendengarkan musik yang mengalun merdu. Shella memilih untuk kembali ke kendaraan. Hingga bisa berjalan, Shella dan Galang tidak saling menyapa seolah mereka orang asing.
Setelah perjalanan cukup lama, mereka telah kembali ke perusahaan. Di sana, mereka kembali ke rumah dengan kendaraan mereka masing-masing.
__ADS_1
Demikian juga dengan Shella. Dia mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan sedang. Sementara, Galang mengikuti Shella dari kejauhan. Dia ingin memastikan Shella selamat sampai di rumahnya.
...****************...