Cinta Ketua Geng Motor

Cinta Ketua Geng Motor
Bab 6. Kedekatan Shella dan Rafael


__ADS_3

Shella melihat Galang berpamitan pada ayahnya. Setelah itu Galang berganti pakaian kebesarannya. Jaket bertuliskan Starly dan celana penuh sobekan.


"Shella, bisa bicara sebentar?" tanya Galang.


"Maaf, di dapur banyak pekerjaan. Kasihan karyawan yang lain," jawab Shella agak ketus.


Galang hanya bisa bisa menghela napas berat. Baru kali ini dia ingin memperhatikan seorang wanita dan baru kali ini dia dicuekin.


Sebelum pergi, Galang sempat melihat Shella yang terlihat memang sengaja menghindarinya. Shella memang sudah di peringatkan oleh ibunya Galang, untuk menerima Galang. Akan tetapi, shella memiliki cara sendiri untuk menolak Galang secara halus.


"Ayah, Ayah berhutang penjelasan padaku," tagih Shella.


"Duduklah. Kita bicara sebentar sebelum pulang. Galang datang ingin berterimakasih pada kita. Ayah sudah menolaknya tetapi dia masih kekeh untuk ikut membantu di sini. Ayah pikir, biar hatinya tenang dan kita juga memiliki manfaat. Tidak akan ada anak-anak geng motor lain yang berani mengganggu tempat kita. Bukankah itu cukup menguntungkan kita Kita tidak perlu was-was dan khawatir lagi," jawab Pak Darman.


"Ayah benar juga. Tapi, bagaimana jika identitas dia diketahui oleh para pembeli, apa mereka tidak akan ketakutan? Ketua geng motor loh," kata Shella sedikit khawatir.


"Aku sudah wanti-wanti, kalau dia masih ingin membantu kami bekerja, dia harus bersikap seperti karyawan yang lain. Hari ini, dia bisa membuktikan kalau dia cukup bisa diandalkan. Sudahlah, saat nanti kita pindah tempat, dia mungkin akan pergi sendiri," jawab pak Darman.


"Bagaimana dengan tempat ini?" tanya Shella lagi.


"Menurut Ayah, tempat ini akan tetap beroperasi seperti biasanya. Nanti Ayah akan meminta Didi untuk mengelola tempat ini untuk sementara waktu," jawab Pak Darman.


Shella kini fokus dengan perubahan tempat jualan ayahnya. Rafael sudah menyiapkan sebuah tempat yang sangat strategis untuk tempat mereka yang baru. Bergaya restoran dan pasti akan lebih memikat pelanggan dari kalangan menengah ke atas.


Ayahnya menyerahkan penggantian nama kepada Shella. Sehingga Shella hampir semalaman tidak bisa memikirkan nama yang tepat untuk nama restoran mereka.


Akhirnya, Shella memutuskan untuk memberi nama restoran barunya dengan nama Resto Gaul 'Fried chicken.'


Nama yang cukup sederhana, tetapi pasti gampang diingat orang-orang. Baik tua maupun muda.

__ADS_1


Mereka juga merekrut beberapa orang karyawan lagi agar mereka tidak kewalahan saat tempat ini ramai. Dan Galang masih ikut menjadi karyawan tidak tetap di tempat lama.


Pembukaan Resto Gaul , berlangsung cukup meriah. Rafael juga mengundang beberapa koleganya untuk menghadiri acara ini.


Melihat Rafael sangat pandai dalam berbisnis, Shella merasa terinspirasi untuk bisa lebih maju lagi. Tidak salah dia memilih mata kuliah manajemen bisnis, sembari mempraktekkan ilmu yang di peroleh di perguruan tinggi.


Shella merasa lelah, karena itu, dia memutuskan untuk duduk di luar resto. Shella melihat jalanan yang ramai. Tempat ini memang benar-benar sangat strategis dan cocok untuk tempat berjualan.


Tempat ini adalah bagian dari investasi ibunya Rafael untuk Shella dan ayahnya. Sedang asyiknya melamun, Rafael tiba-tiba datang menghampirinya.


"Shella, kenapa kamu malah ada di sini? Aku mau kenalkan kamu pada kolega aku," kata Rafael seraya duduk di samping Shella.


"Pak Rafael. Bukankah ayah saya sudah cukup. Saya mana berani bergaul dengan kolega anda," jawab Shella sekenanya.


"Mereka sebenarnya, penasaran dengan kamu. Seorang wanita, di usia semuda ini, sudah ikut membantu usaha orang tua. Bahkan tidak malu menjadi salah satu karyawan Ayahmu. Aku salut padamu dan bolehkah aku mengagumimu?" tanya Rafael.


"Pasti Pak Rafael yang terlalu memuji saya di depan mereka. Padahal semuanya zonk," kata Shella merendah.


"Tidak Siapa takut?" jawab Shella.


"Kalau begitu, ayo masuk!" ajak Rafael.


Shella dan Rafael bergegas masuk untuk menemui dan memperkenalkan Shella pada koleganya. Mereka tidak menyadari jika sepasang mata menatap cemburu kedekatan Shella dan Rafael.


Dia adalah Galang. Saat ini, dia merasa kesal dan kecewa, karena tidak ada yang memberitahu jika hari ini adalah pembukaan Resto baru Shella. Kalau dia tidak bertanya pada Didi, Didi juga tidak akan memberitahunya secara langsung.


Hati Galang lebih kesal lagi saat melihat keakraban yang terjalin antara Rafael dan Shella. Shella tidak pernah bersikap sebaik itu padanya. Meskipun Shella juga tidak pernah kasar terhadapnya.


Apakah karena Shella tahu identitasnya, sebagai seorang ketua geng motor, makanya dia berusaha menjauhinya?

__ADS_1


Galang mengirimkan pesan singkat pada Shella dan memintanya bertemu. Lama sekali tidak ada balasan dari Shella. Mungkin Shella sedang sibuk dengan Rafael. Pikiran Galang menjadi kacau.


Setelah menunggu cukup lama, balasan dari Shella membuat Galang tersenyum.


[Sebentar lagi aku akan keluar.]


Aku tunggu di luar.] Balasan pesan dari Galang.


Setelah menunggu beberapa waktu, Shella akhirnya keluar. Galang tersenyum bahagia melihat wanita yang dia cintai, tidak mengabaikannya.


"Shella," panggil Galang.


"Hal penting apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Shella lembut.


"Bisakah kita bicara di tempat lain?"


Shella setuju dengan ajakan Galang. Shella akhirnya naik motor Galang menuju ke sebuah cafe terdekat. Disanalah, Galang ingin mengungkapkan perasaanya.


Suasana cafe yang tidak terlalu ramai, membuat Galang siap dengan pernyataan cintanya. Shella pasti akan menerimanya, karena Galang merasa dia pantas mendapatkan Shella.


"Shella, aku tidak tahu sejak kapan, aku telah jatuh cinta padamu. Shella, aku mencintaimu," ungkap Galang.


Shella sangat kaget mendengar pengakuan Galang. Cara bicaranya juga tidak lagi Lo Gue. Setahu Shella, Galang mendekatinya karena ingin membalas Budi bukan karena cinta. Sejak tahu siapa Galang, Shella berusaha menjauhi Galang.


Jalan hidup yang Galang pilih, mengingatkannya pada kakaknya yang telah tiada. Bagaimana setiap hari, seluruh keluarga selalu khawatir dan cemas dengan keselamatan kakaknya. Setiap kali kakaknya pergi, mereka sekeluarga seperti menelan duri. Sakit dan tersiksa.


Untuk berteman saja, Shella tidak mau, apalagi mencintai? Shella tidak ingin masa lalu terulang kembali. Kesedihan ketika ditinggalkan orang yang kita sayangi, sangat menyedihkan.


"Shella."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2