
Shella bangun pagi-pagi sekali seperti biasanya. Menjalankan kewajibannya lalu kembali tidur lagi. Dia sudah berencana untuk terlambat datang.
Ibunya heran saat Shella tidak tampak membantunya, untuk membuat sarapan. Bu Rasti bergegas membangunkan Shella agar segera sholat. Shella yang berpura-pura tidur, menjawab pelan bahwa dia sudah sholat dan ingin tidur lagi karena masih mengantuk.
Bu Rasti baru ingat, jika hari ini adalah akhir pekan. Jadi Shella tidak masuk kerja. Meski begitu, ibunya sebenarnya tidak ingin Shella bermalas-malasan. Bu Rasti akhirnya kembali melanjutkan pekerjaannya di dapur.
Sementara itu, waktu sudah menunjukkan pukul 7. Ponsel Shella terus berdering. Shella tahu jika itu pasti panggilan dari Mila atau Tanti. Shella tahu jika jam keberangkatan telah diubah kembali menjadi jam 7. Shella, pura-pura tidak tahu.
"Shella, coba di angkat. Supaya tidak berbunyi terus!" teriak Bu Rasti dari dapur.
"Iya," sahut Shella ogah-ogahan.
Shella beranjak duduk dan mengambil ponselnya yang tadi ada di atas sampingnya. Ternyata dari Mila. Shella menarik napas berat.
["Assalamualaikum. Ada apa, Mil?" tanya Shella pura-pura.]
["Eh kamu gimana sih, ini sudah jam berapa? Cepatlah, jadi ikut nggak sih?" tanya Mila kesal.]
["Jadi. Tapi ini baru pukul 7, berangkatnya pukul 8 bukan? Masih lama," jawab Shella sambil menahan senyum.]
__ADS_1
["Jam 8 gimana, bukannya kemarin ada pemberitahuan kalau diajukan jam 7 lagi, seperti rencana awal? Jangan bilang kamu nggak tahu?" tanya Mila makin kesal.]
["Sepertinya aku lupa. Ya udah, daripada nunggu aku kelamaan karena aku juga belum mandi belum ganti pakaian, mending kalian berangkat saja," ucap Shella sambil menahan senyum.]
Tiba-tiba panggilan Mila terputus. Shella perlahan meletakkan ponselnya lalu bergegas mandi. Meskipun dia meminta Mila untuk tidak menunggunya, Shella juga tidak ingin terlihat tidak menepati janji untuk ikut acara gathering ini.
Shella berganti pakaian lalu melihat ke arah jam dinding di dalam kamarnya. Jam sudah menunjukan pukul setengah delapan. Masih ada waktu setengah jam untuk bisa sampai di perusahaan. Saat itu pasti bis sudah berangkat. Tidak mungkin mereka akan menunggu selama itu hanya untuknya.
Dengan santai, Shella berpamitan pada ayah dan ibunya, lalu mencium punggung tangan mereka. Shella melangkah pergi dengan tas punggungnya dan segera mengendarai motor kesayangannya menuju perusahaan tempatnya bekerja.
Tepat pukul 08.00 Shella sampai di parkiran perusahaannya. Shella menarik napas dalam-dalam dan berharap semua sesuai perhitungannya. Dia berjalan menuju ke depan perusahaan dengan santainya.
"Shella, ayo cepat naik!" teriak Mila dari jendela.
Shella kembali menarik napas berat dan langkahnya juga ikut berat. Shella berjalan perlahan menuju bis tersebut dan segera naik. Dia mencari tempat duduk yang masih kosong.
Tatap matanya tertuju pada sebuah bangku kosong di jok depan nomor dua. Dia meletakkan tas punggungnya di atas dan dia langsung duduk tanpa bertanya pada yang lain.
Setelah duduk, dia baru menyadari jika orang yang duduk di sebelahnya adalah Galang. Sepertinya, saat Shella naik tadi, wajah Galang tertutup jaket, jadi pantas saja jika Shella tidak tahu jika itu Galang.
__ADS_1
Saat Galang melihat ke arahnya dengan tatapan dingin, Shella berusaha mencarikannya dengan tersenyum. Akan tetapi, Galang sama sekali tidak peduli padanya. Galang pasti marah dan kesal saat ini karena Shella terlambat. Shella akhirnya ikut diam.
"Semua sudah lengkap. Mari kita berangkat," kata Pak Indar dengan microphon.
Bis segera melaju menuju tempat tujuan. Sepanjang perjalanan, mereka mengadakan karaoke dan bermain gitar. Suasananya sungguh sangat meriah. Senyum dan tawa menghiasi wajah mereka selain Shella dan Galang.
Shella tidak bisa terus berdiam diri. Kalau seperti ini terus, dia tidak akan bisa menikmati acara gathering ini. Dan ini percuma saja perjalanan panjangnya.
"Pak Presdir, saya minta maaf. Hari ini saya terlambat karena saya lupa menyalakan alarm," kata Shella sambil menarik baju lengan Galang.
"Aku pikir kamu sengaja," ucap Galang sambil menatap Shella dengan tatapan dingin.
"Tidak-tidak. Saya tidak sengaja, beneran," jawab Shella panik.
"Kalau begitu, untuk menebusnya kamu akan menjadi asisten aku selama acara gathering ini berlangsung," kata Galang.
Shella terdiam sesaat sebelum akhirnya dia mengiyakan perkataan Galang. Setelah Shella setuju, senyum Galang terlihat menambah pesona Galang. Shella hampir tidak bisa mengendalikan diri, terhanyut dalam pesona pria yang dia cintai itu.
Langkah pertama Galang telah berhasil membuat Shella berada di sisinya.
__ADS_1
...****************...