Cinta Ketua Geng Motor

Cinta Ketua Geng Motor
Bab 14. Panggilan Kakak


__ADS_3

Shella dan ayahnya duduk diatas kursi yang sengaja Shella bawa dari kursi pelanggan. Karena Shella merasa, apa yang akan dibicarakan Galang cukup serius dan membutuhkan waktu.


Suasana tampak hening sesaat. Shella duduk sambil melihat Galang yang terlihat agak gugup untuk memulai pembicaraan. Shella menyadari hal itu, dan dia berusaha membantu Galang berbicara.


"Ayah, Galang ingin bicara sesuatu. Tentang dirinya dimasa yang akan datang," ucap Shella menghangatkan suasana.


"Apakah itu benar, Nak Galang? Apa rencana kamu kedepannya?" tanya pak Darman antusias.


"Begini, Paman. Galang ingin kuliah sambil bekerja. Pekerjakan saya, dan gajinya bisa untuk membayar kuliah saya sendiri. Saya tidak mungkin meminta pada orangtua saya, setelah saya memutuskan untuk pergi dari rumah," ucap Galang.


Untuk sesaat, Pak Darman terdiam. Memang sudah begitu jauh dia membantu Galang. Tinggal selangkah lagi, pemuda dihadapannya akan kembali menjadi anak yang bisa dibanggakan.


"Ayah, bukankah kita masih membutuhkan karyawan? Biarkan dia bekerja dengan kita, jadi kita tidak perlu memikirkan biaya kuliah dia lagi. Pasti, dia akan lebih bangga kuliah dengan hasil keringatnya sendiri," kata Shella berusaha membantu Galang.


"Ayah rasa, kamu benar, Shella. Daripada dia lontang-lantung nggak karuan, mending bekerja di sini. Baik, Nak Galang, kamu diterima bekerja di resto ini. Kamu bisa belajar dari Shella apa yang harus kamu kerjakan. Kapan kamu siap," tanya pak Darman.


"Hari ini juga bisa. Saya akan membereskan pakaian-pakaian ini dahulu," jawab Galang senang.


"Tidak perlu buru-buru. Khusus untuk kamu dan Shella, bisa kalian sesuaikan dengan jadwal kuliah kalian. Yang terpenting, hitungannya 8 jam, dengan catatan satu jam untuk istirahat dan makan," kata Pak Darman menjelaskan jam kerja di resto khusus untuk Galang.


"Jangan lupa, Ayah. Masih ada yang khusus untuk hari spesial. Pesanan untuk anak panti asuhan. Seperti hari ini. Biasanya ini, khusus untuk yang bersedia lembur. Ayah, aku dan dua orang karyawan. Kami akan menerima bonus bukan gaji. Tapi cukup lumayan, bisa ditabung," Tambah Shella.


"Benar, Galang. Paman keluar dulu mau melanjutkan pekerjaan. Jika kamu sudah selesai, kamu bisa membantu kami menyiapkan pesanan. Tenang saja, nanti Paman akan beri bonus ekstra untuk kamu jika kamu mau ikut mengantarkan sampai tujuan. Kamu bisa nyetir?" tanya pak Darman.


"Bisa. Terima kasih, Paman," jawab Galang sambil tersenyum.


Pak Darman bergegas keluar dari tempat istirahat yang sekarang berubah menjadi kamar Galang. Shella mengikuti ayahnya untuk membantu menyiapkan pesanan yang harus segera mereka antarkan sebelum makan siang tiba.


Shella membantu membumbui ayam bersama ayahnya. Sedangkan dua karyawan lain, bertugas menggoreng. Butuh ketepatan besarnya api dan panasnya minyak untuk mendapatkan hasil gorengan yang renyah dan enak. Tidak semua karyawan bisa mendapatkan pelatihan dari ayahnya.

__ADS_1


Shella sebenarnya sudah berlatih menggoreng ayam, tetapi dia belum berani praktek sendiri. Shella masih takut dengan minyak yang kadang muncrat ke segala arah. Shella paling takut kalau mengenai wajahnya.


Tidak berapa lama, Galang keluar dari kamarnya dan langsung mendekati Shela dan Pak Darman. Pak Darman memberi tugas pada Galang, tugas yang lebih mudah. Ayam goreng yang sudah agak dingin, dimasukkan ke dalam mika satu persatu bersama saosnya.


Shella melihat sambil tersenyum. Karena meski pekerjaan itu mudah, Galang masih merasa kikuk dan belum secepat karyawan lama.


"Shella, kamu ajari Galang biar bisa membungkus dengan rapi. Takut pelanggan komplain," titah sang ayah.


"Iya, Ayah."


Shella bergegas mencuci tangan sampai bersih lalu duduk di depan Galang. Shella mulai mengajari Galang, cara mengemas brang pesanan supaya terlihat rapi. Mereka terlihat sangat akrab dan Galang tiada hentinya menatap wajah cantik di depannya.


Saat Shella menyadarinya, Shella berusaha menggoda Galang. Dia membalas tatapan Galang dengan tatapan kematian. Galang cukup syok melihat Shella berani membalas tatapannya. Padahal biasanya dia sedikit pemalu kalau bertemu pandang. Kini Galang yang tampak canggung dengan keadaan ini. Galang menunduk, mengalihkan pandangannya ke barang ditangannya.


"Kakak ...." Suara Shella lembut.


"Kakak ...." Shella kembali memanggil Galang dengan sebutan Kakak.


"Kak Galang ...!" teriak Shella agak keras.


Galang kaget mendapat panggilan mesra dari Shella. Galang mulai baper. Senyum malunya terlihat jelas oleh Shella. Dia tidak menyangka kalau akan mendapatkan panggilan sayang dari Shella yang tidak pernah menyukainya. Ataukah karena kini dia sudah berubah, jadi Shella mulai bisa menerimanya?


"Shella, sudah minta izin belum sama yang punya nama. Nanti kamu bisa dituntut karena mengambil anak orang lain sebagai kakakmu. Apa karena dia memakai pakaian kakakmu, makanya dia harus jadi kakakmu?" tanya pak Darman sambil terkekeh.


"Kakak beneran? Shella, meskipun aku memakai pakaian kakakmu, aku bukan kakakmu," gumam Galang kecewa.


Galang yang tadinya sudah merasa melambung tinggi, tiba-tiba harus jatuh. Sakit rasanya.


"Kak Galang, boleh aku panggil Kak?" tanya Shella agak manja. Shella agak jijik juga dengan sikapnya, dia sengaja supaya Galang tidak berpikir jauh tentang hubungan mereka.

__ADS_1


Galang melihat sikap manja Shella malah merasa Shella aneh. Shella tidak pernah bersikap seperti itu padanya. Apakah dia akan bermanja hanya kepada Kakaknya? Apakah dia lebih nyaman dalam hubungan kakak adik?


"Boleh. Silahkan saja anggap aku kakak kamu. Jika kamu ada kesulitan, bilang saja padaku," jawab Galang sambil menghela napas berat.


"Tuh, Ayah. Kak Galang sudah setuju. Bahkan dia terlihat sangat senang memiliki adik seperti Shella. Shella juga seneng memiliki Kakak seperti Kak Galang," ucap Shella lega.


Galang pasti akan menyerah mengejarnya dengan status baru mereka sebagai kakak adik. Bagiamana dengan Galang?


Galang memang setuju, tapi hanya di mulutnya saja. Dalam hatinya, dia menginginkan lebih dari itu. Terapi untuk saat ini, dia sudah cukup puas bisa menjadi bagian dari keluarga mereka. Tidak buruk menjadi kakaknya Shella.


Setelah semuanya selesai, Galang dan yang lainnya memindahkan paket-paket Fried chicken tersebut ke bak mobil pick up yang ada di luar. Galang merasa dirinya berguna dan bisa menghasilkan uang sendiri.


Galang dan Shella bergegas menuju ke panti asuhan. Mereka hanya pergi berdua sehingga membuat Galang merasa senang. Selama perjalanan, Galang tidak henti-hentinya menarik napas dalam-dalam sambil melirik ke arah Shella.


"Kak Galang, fokus nyetirnya. Shella takut," kata Shella saat pandangan mereka beradu.


"Maaf. Aku membuat kamu takut. Jangan khawatir, biarpun aku tidak memiliki izin mengemudi, aku udah lama bisa nyetir. Kamu tenang saja," jawab Galang.


"Shella tahu, kamu bisa nyetir. Maksudku, jangan melihat kearah aku, lihatlah ke arah jalan di depan," kata Shella lagi.


"Maaf."


Hanya itu keluar dari mulut Galang karena dia sudah ketahuan. Terapi, dia lebih fokus menyetir setelah itu sehingga membuat Shella tersenyum.


Sampailah mereka di panti asuhan. Ternyata, Rafael dan asistennya sudah menunggu di sana. Wajah Galang yang tadinya cerah berubah mendung.


...****************...


Sambil menunggu up, baca juga karya temen aku.

__ADS_1



__ADS_2