Cinta Ketua Geng Motor

Cinta Ketua Geng Motor
Bab 41. Masih cinta


__ADS_3

Bis berhenti di sebuah tempat wisata yang cukup terkenal di kota ini. Mereka akan menuju ke sebuah air terjun yang letaknya cukup jauh dan jalan menuju ke sana cukup sulit.


Mereka semua tampak gembira dan mereka saling bercanda. Melupakan sejenak semua kesulitan saat bekerja. Mereka saling tertawa dan membahas hal-hal yang manis.


Sementara itu, Galang menarik tas punggung Shella saat Shella hendak pergi dan menyusul teman-temannya.


"Mau kemana?" tanya Galang.


"Mau bersama mereka," jawab Shella panik. Dia tahu, Galang pasti menagih janjinya untuk menjadi asistennya selama kegiatan ini.


"Sudah lupa dengan janjimu?" tanya Galang lagi.


Shella hanya tersenyum, pura-pura polos. Galang lalu memberikan tas punggungnya pada Shella. Shella menerima dan menggendongnya di depan. Jadilah Shella seperti badut dengan dua tas punggung, depan dan belakang.


"Ikuti aku!" ucap Galang kemudian dia berjalan menuju ke arah yang berbeda dari yang lain.


Shella menurut saja apa yang perintahkan Galang kepadanya. Dia yakin Galang masih sama seperti dulu. Meskipun dia bad boy, dia tidak pernah melecehkan wanita.


Baru beberapa langkah, Galang berhenti dan membuat Shella yang berjalan di belakangnya menabraknya. Shella berjalan dengan memegangi tas punggung Galang, makanya dia tidak melihat jika Galang berhenti mendadak.


Meskipun Shella menabraknya, Galang tidak marah. Dia malah tersenyum melihat Shella yang tampak kesal padanya. Galang merasa, meskipun Shella sudah bertambah dewasa, Shella masih tetap terlihat imut saat kesal. Lebih terlihat manja.


"Sini, biar aku yang bawa," ucap Galang sambil menarik tas punggungnya dari tubuh Shella.

__ADS_1


"Apaan, sih. Katanya aku yang harus bawa?" tanya Shella kaget dengan sikap Galang yang tiba-tiba berubah.


"Udah, ini perintah. Kemarikan juga tas punggungmu, biar aku yang bawa dua-duanya," kata Galang tanpa peduli dengan Shella yang masih bengong melihat Galang. "Ayo, mana tas kamu?"


Shella tersadar dan dengan senang hati memberikan tas bawaannya pada Galang. Senyum manisnya terlihat bak madu surgawi yang memabukkan Galang. Galang bagai melihat bidadari dari surga dengan rambut tergerai diterpa angin.


"Pak Presdir, iler-nya jatuh," goda Shella memberanikan diri.


"Hah, lier? " tanya Galang panik. Galang bingung, Shella menuduhnya pembohong. Berarti Shella masih marah padanya.


Shella malah tertawa melihat Galang panik. Haruskah dia menjelaskannya?


"Shella, kenapa kamu malah tertawa? Aku bohong apa sama kamu?" tanya Galang lagi dengan wajah bingung.


"Katakan!" perintah Galang sambil terlihat serius. Galang menunggu jawaban Shella dengan mengerutkan keningnya. Penasaran.


"Artinya, air liur," jawab Shella sambil menahan tawa.


"Hah, iler, air liur? Mana, mana, nggak kok," ucap Galang seperti Anka kecil sambil mengusap kedua sudut bibirnya.


Shella tertawa, dan sesekali menahannya dengan menutup mulutnya. Perutnya sampai sakit karena tertawa melihat tingkah Galang. Galang juga ikut tertawa melihat Shella bisa tertawa lepas kembali setelah sekian lama bersikap dingin padanya.


"Sudah puas tertawanya? Ayo kita segera melihat pemandangan, jangan sampai gathering ini tidak ada kenangan sama sekali," kata Galang sambil meninggalkan Shella yang masih berusaha agar tidak tertawa lagi.

__ADS_1


Shella mengikuti Galang dari belakang sambil menjaga jarak agar tidak menabrak Galang lagi saat Galang berhenti. Sebenarnya Galang ingin menggoda lagi dengan hal itu, tetapi, Shella ternyata lebih cerdik darinya.


Mereka berhenti di sebuah taman dan Galang mengajak Shella untuk beristirahat sejenak. Galang meletakkan kedua tas mereka di sampingnya. Saat itu ada beberapa karyawan yang melihat mereka. Tetapi mereka hanya tersenyum dan menyapa Galang saja, lalu melanjutkan perjalanan mereka kembali.


"Pak Presdir, apakah tempatnya masih jauh? Kenapa memilih di tempat seperti ini? Ini namanya bukan bersantai, tapi menguras tenaga. Di perusahaan sudah capek, waktu healing juga tempatnya bikin capek. Capek deh," tanya Shella sekalian berkeluh kesah.


"Kamu nyaman sekali panggil aku Pak Presdir. Ini memang bukan sekedar healing, tapi juga sebuah pembelajaran. Untuk mencapai hal yang indah tidka semudah membalik telapak tangan. Butuh perjuangan dan usaha. Lain kali, kita akan adakan makan bersama," jawab Galang sambil tersenyum.


"Bukankah kamu memang Presdir. Nyaman ataupun tidak, aku akan tetap melakukannya. Soal makan bersama, boleh juga," kata Shella setuju.


"Shella, tidak bisakah, kita kembali seperti dulu? Atau bisakah kita berkenalan sekali lagi?" tanya Galang sambil menghela napas berat.


"Waktu itu, sudah kau lewatkan. Waktu yang sudah terlewat, tidak akan bisa kembali lagi. Untuk berkenalan, aku merasa tidak pantas. Jadi, lebih baik kita seperti ini saja. Menjadi atasan dan bawahan," jawab Shella sangat jelas.


Galang sedih mendengar jawaban Shella. Galang menyesal telah memulai pembicaraan tentang mereka saat ini. Suasana menjadi berubah dingin dan sunyi. Mereka terbawa dalam pikiran masing-masing.


Saat itu, muncul seorang wanita yang sangat cantik. Wajahnya yang cerah ditambah senyuman yang sangat manis, membuat Shella kaget. Dia bukan bagian dari karyawan perusahaan milik keluarga Galang.


"Gege, aku datang!" teriak wanita itu sambil berlari dan memeluk Galang.


Galang bukannya menolak, tetapi dia membalas pelukan wanita itu.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2