Cinta Ketua Geng Motor

Cinta Ketua Geng Motor
Bab 47. Akhirnya ketahuan


__ADS_3

Shella sudah tidak dapat menahan rasa ingin tahunya tentang gosip yang ada. Dia menyelinap masuk kantor Presdir, tanpa sepengetahuan orang lain. Tampak meja kerja Meilana kosong yang berarti dia memang sudah tidak bekerja lagi.


Shella mengetuk pintu kantor Galang dengan sedikit pelan. Dia tidak ingin sekretaris Galang mengetahui jika dia datang menemui Galang.


"Masuk." Terdengar suara Galang dari dalam ruangannya.


Shella perlahan membuka pintu dan bergegas menutupnya. Haka itu membuat Galang kaget. Karena, karyawan biasa tidak akan berani menutup pintu secepat itu, tanpa perhitungan. Saat melihat Shella, dia tersenyum geli.


Shella berlari kecil mendekati Galang yang sedang menertawakan tingkah laku calon istrinya itu. Banyak wanita yang ingin menjadi istrinya, agar bisa pamer. Lah ini, malah seperti pencuri yang takut tertangkap warga.


"Kenapa kamu malah tertawa?" tanya Shella agak kesal.


"Bagaimana aku nggak tertawa, kalau kamu seperti ini. Nggak bisa apa, bersikap biasa saja. Masuk ya masuk saja," jawab Galang yang kini berusaha menahan tawanya.


"Apa nanti kata orang. Aku itu nggak ada akses ya, buat datang ke ruangan kamu," kata Shella sambil duduk di depan Galang.


"Kamu sendiri yang menolak akses itu. Ada apa, apa segitu pentingnya hingga nggak bisa menunggu sampai kita pulang? Membicarakan masalah pribadi di kantor, rasanya kurang pas," kata Galang bijak.


"Dikit aja. Boleh ya?" tanya Shella manja.


"Katakan," titah Galang ragu. Penasaran juga apa yang ingin ditanyakan Shella.


"Meilana di mana?" tanya Shella dengan muka serius.


Galang tersenyum mendengar pertanyaan Shella.


"Cara kamu bertanya itu salah. Aku ajarin. Galang, apa benar, Meilana merayu kamu?" ucap Galang memberi contoh.


"Kenapa harus nanya seperti itu?" tanya Shella.


"Yah, kali aja kamu cemburu. mendengar gosip yang beredar. Sebenarnya, aku juga ingin memberikan penjelasan padamu. Karena hari ini kamu sudah bertanya, maka aku jelaskan sekalian," ucap Galang menarik napas panjang.

__ADS_1


" ... "


"Beberapa hari yang lalu, Meilana datang dan mencoba merayuku. Kamu tahu sendiri, aku paling tidak suka ada orang lain yang merayuku. Karena hanya kamu yang boleh merayuku," Galang berhenti sesaat. "Saat itu juga, aku memecatnya."


"Oh," gumam Shella.


"Oh, hanya Oh? Reaksimu tidak sesuai yang Akau harapkan," ucap Galang kecewa.


"Reaksi seperti apa yang kamu inginkan? Wah, amazing. Atau, Kamu jahat sekali, langsung memecat karyawan," jawab Shella bercanda.


Galang berdiri dari tempat duduknya. Mendekati Shella yang mulai gugup. Galang mendekatkan wajahnya ke wajah Shella. Sangat dekat dan Shella semakin tidak bisa bernapas.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Shella. Shella semakin gugup dan mendorong tubuh Galang. Shella berdiri dengan tubuh gemetar.


"Shella, kenapa wajah kamu merah. Kamu pikir, aku tadi mau apa, mencium kamu?" tanya Galang abil tersenyum.


"Nggak, aku nggak berpikir begitu," jawab Shella sambil menggelengkan kepalanya.


"Nggak, tapi bagaimana jika aku benar-benar ingin menciummu. Kita sebentar lagi menikah. Berciuman juga tidak ada salahnya," ucap Galang sambil mendekati Shella lagi. "Kalau aku bisa menangkapmu, ciuman dua kali."


Shella terjatuh dan Galang berusaha menangkap tubuh Shella dan mereka jatuh bersamaan di atas sofa. Posisi Shella berada diatas Galang. Untuk sesaat mereka saling beradu pandang. Mereka terbawa suasana.


Galang mengangkat kepalanya dan mencium pipi Shella. Saat itu, pak Indar masuk.


"Shella, apa yang kamu lakukan?" tanya Pak Indar saat melihat kejadian itu. Pak Indar kaget sekaligus ketakutan. Meilana saja sampai dipecat, apalagi Shella yang hanya karyawan biasa.


Shella dan Galang juga kaget dengan masuknya pak Indar. Mereka langsung berdiri dan saat Shela hendak pergi karena malu, Galang menahannya dengan menarik tangan Shella. Di genggamnya erat agar Shella tidak perlu lagi kucing-kucingan terhadap orang lain di perusahaan ini.


"Pak Indar, kenapa masuk tidak ketuk pintu dulu?" tanya Galang datar.


"Maaf, Pak Galang. Tadi saya sudah beberapa kali ketuk pintu. Tetapi tidak ada jawaban. Maaf, atas kelakuan bawahan saya. Saya pasti akan memberinya hukuman. Pak Presdir tidka perlu turun tangan menghukumnya," jawab Pak Indar gugup. Dia merasa kasihan pada Shella. "Shella, cepat keluar. Tunggu hukuman dari saya!"

__ADS_1


"Pak Indar tidak perlu ikut campur. Ini urusan keluarga saya. Bagaimana saya menghukumnya, saya sendiri yang akan menentukannya," ucap Galang tidka begitu jelas bagi pak Indar.


"Urusan keluarga, maksudnya?" tanya pak Indar kaget


"Shella ini ...," ucap Galang terhenti karena Shella memberi isyarat pada Galang untuk tidak mengungkapkan hubungan mereka. Tetapi Galang sudah yakin jika saat inilah waktu yang tepat untuk Galang mengungkap identitas Shella.


"Shella, calon istriku. Kami akan menikah Minggu depan," jawab Galang sambil terus berusaha meyakinkan Shella untuk yakin dan percaya diri.


"Apa, Shella, Pak Presdir menikah? Saya sangat kaget, tapi saya ikut bahagia mendengarnya," ucap pak Indar hampir pingsan.


"Aku kembali dulu. Aku gugup," bisik Shella pelan di telinga Galang. Pak Indar agak gugup melihat kemesraan mereka.


"Baiklah. Tenangkan dirimu. Kalau tidak nyaman, jangan kerjakan apapun, jangan sampai kamu sakit," ucap Galang sambil melepaskan tangan Shella.


Sebelum pergi, Shella melihat ke arah pak Indar. Dia pamit dan memberi hormat dengan menganggukkan kepalanya. Sementara pak Indar juga membalas dengan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


"Siang ini, kalian semua bisa makan siang gratis. Saya akan membayar tagihannya. Tapi jangan bilang apapun pada mereka. Aku ingin Shella sendiri yakin dengan keputusannya," kata Galang sedikit mengancam pak Indar.


"Jangan khawatir, Presdir. Sesuai keinginan anda dan Bu Presdir," jawab Pak Indar.


Pak Indar menyerahkan dokumen yang harus ditandatangani oleh Galang. Setelah itu, pak Indar keluar dengan hati yang masih syok.


Sementara itu Shella yang masih gugup karena ketahuan Pak Indar, dia duduk diam di tempat duduknya. Mila dan yang lainnya sempat heran, melihat sikap Shella. Tetapi mereka sedang ada tugas penting, jadi tidak ada waktu bertanya pada Shella.


"Tolong dengarkan sebentar. Siang ini, kita akan makan bersama di resto sebelah. Ini gratis dari Presdir langsung. Semua bersiap pergi, tepat jam makan siang. Jangan ada yang telat!" perintah pak Indar.


Mereka semua kaget sekaligus senang, mendapatkan makan siang gratis dari Presdir mereka.


"Shella, biar pekerjaan kamu dikerjakan Mila saja. Untuk sementara kamu istirahat saja. Mila ambil alih tugas Shella," ucap pak Indar lagi.


"Tapi, aku ...," ucap Shella gugup.

__ADS_1


"Ini perintah dari Presdir. Kamu istirahat saja," potong pak Indar.


Shella memasang wajah cemberut. Dia kepala pada Galang. Tetapi memang benar, jika hati dan pikirannya saat ini tidak fokus untuk bekerja. Bisa-bisa, pekerjaannya tidak maksimal dan akan membuat kacau perusahaan.


__ADS_2