Cinta Ketua Geng Motor

Cinta Ketua Geng Motor
Bab 18. Canggung


__ADS_3

"Aku hanya bercanda, kenapa kau buat serius? Aku janji, aku akan lulus dengan nilai baik. Jika nanti aku bisa lulus dengan nilai baik, apakah kamu akan memberi aku hadiah?" tanya Galang penuh harap.


"Hadiah? Oh, tentu. Saat itu, aku akan mengabulkan satu permintaan kamu. Asal jangan yang melanggar norma," jawab Shella.


"Oh, siap. Kamu janji, aku nggak mau jika saat itu tiba, kamu berbohong padaku," kata Galang.


"Baik, aku berjanji. Puas?" tanya Shella.


"Tentu saja. Oh, tunggu sebentar."


Galang berdiri lalu mengambil surat-surat di dari dalam laci mejanya. Setumpuk amplop berwarna merah jambu masih terbungkus rapi ditangan Galang. Galang memberikan surat-surat itu pada Shella.


"Ini, surat-surat yang kamu berikan padaku. Belum satupun yang aku buka," kata Galang.


"Kenapa kamu berikan padaku?" tanya Shella.


"Bukannya tadi kamu takut kalau ini akan mengganggu belajar aku? Makanya kamu ambil saja semuanya," kata Galang.


Shella terpaksa menerima surat-surat yang ini diberikan Galang. Ada sedikit rasa penasaran dihati Shella. Dia ingin melihat isi surat-surat itu. Galang menyadari hal itu, dan dia tersenyum melihatnya.


"Kenapa kamu tidak coba buka satu?" tanya Galang.


"Benarkah, boleh aku membacanya?" Shella balik bertanya.


Galang tersenyum seraya menganggukkan kepalanya pelan. Dia ingin sekali melihat Shella cemburu. Mungkinkah kali ini akan berhasil?


Shella membuka salah satu surat berwarna merah jambu dengan bunga mawar dipojok sampulnya. Hati Shella agak berdebar, meskipun itu bukan surat untuknya.


Shella tertawa saat membaca isinya. Ternyata ada juga anak yang iseng membuat surat cinta yang hanya bertuliskan beberapa kalimat langsung to the point.


I love you, Galang. Bersediakah kamu menjadi imamku?


Dariku, Shinta.


"Shella, kamu kenapa tertawa? Kelihatannya senang banget," tanya Galang penasaran.


"Aduh, ini ada anak gadis sedang melamar kamu. Coba baca sendiri," jawab Shella sambil menyodorkan kertas ditangannya pada Galang.


"Apa, melamar? Coba kamu bacakan saja!" titah Galang.

__ADS_1


Shella agak ragu untuk membacakan tulisan di selembar kertas yang berbau wangi itu. Dia harus bisa mengendalikan diri agar tidak tertawa.


"I love you, Galang. Bersediakah kamu menjadi imamku? Dariku ...."


"Tunggu, ini beneran lamaran?" Sahut Galang yang mulai timbul niat untuk menggoda Shella.


"Beneran," jawab Shella.


"I love you, too. Menjadi imammu adalah impianku. Sungguh berkah bagiku bisa memiliki hatimu, Shella," jawab Galang penuh keyakinan.


Shella yang mendengar jawaban Galang, sedikit khawatir karena dia menerima gadis itu sebagai calon istrinya. Tetapi saat mendengar diakhir kalimat dia menyebut namanya, Shella menjadi panik.


"Apa yang kamu katakan? Kenapa harus bermain-main dengan mengunakan nama aku?" tanya Shella kesal.


"Loh, siapa yang main-main? Itu tadi kamu yang ngelamar aku, udah aku jawab. Harusnya senang dong, kok malah sewot," jawab Galang sambil tersenyum senang karen bisa menggoda Shella.


"Mana ada aku yang melamar? Aku itu tadi bacain surat dari penggemar kamu," kata Shella tidak mau kalah.


"Aku nggak denger kamu ucapkan nama orang lain. Jadi aku pikirnya, kamu sendiri yang sedang melamar aku," jawab Galang.


"Eh, itu tadi kamu yang memotong kalimat terakhir aku," ucap Shella.


"Nggak."


"Ya."


"Nggakkkkk."


"Yaaaaa."


"Minta di cubit? Ayo, sini!" ucap Shella kesal. Dia berusaha mencubit pinggang Galang yang segera berlari menjauh. Terjadilah saling kejar mengejar antara Shella dan Galang.


"Ayo, coba saja kalau bisa," tantang Galang.


"Jangan lari!" terima Shella semakin kesal karena merasa dipermainkan.


Shella kembali mengejar Galang setelah berhenti sejenak. Shella yakin, dia akan bisa menangkap Galang. Kali ini dia harus bisa memberi pelajaran Galang, agar lain hari tidak akan menggodanya lagi.


Benar saja, entah karena Galang yang menyerahkan diri atau memang Shella yang jago berlari, Shella berhasil meraih salah satu tangan Galang. Shella menarik tangan Galang dan Galang tidak mau kalah tenaga. Galang berbalik menarik tangannya hingga Shella tidak dapat menjaga keseimbangan tubuhnya.

__ADS_1


Tubuh Shella ketarik sehingga dia jatuh menimpa tubuh Galang. Anehnya, Galang tidka merasakan sakit ditubuhnya melainkan dia terkesima melihat wajah Shella yang begitu dekat dengan wajahnya. Mereka saling berpandangan untuk beberapa menit.


Suasana menjadi tampak ambigu dan canggung bagi keduanya. Shella bergegas berdiri dan mengucapkan maaf.


"Maaf, aku tidak sengaja jatuh dan mengenai tubuhmu. Apakah ada yang sakit?" tanya Shella meski canggung.


"Nggak eh ada. Pinggangku sakit banget. Kamu ini anak gadis, tapi berat badan kamu, lumayan," jawab Galang.


"Jangan mengolok-olok aku, mau aku cubit lagi?" tanya Shella kembali kesal.


"Nggak, aku nggak ketimpa tubuh kamu lagi," jawab Galang sambil tersenyum. "Tolong bantu aku berdiri."


Shella membantu Galang berdiri dan membantunya duduk kembali. Shella juga kembali duduk disamping Galang. Mereka tampak diam karena keduanya masih teringat saat jatuh tadi.


Tidak berapa lama, pak Darman datang untuk menyiapkan barang-barang, untuk menu hari ini. Shella dan Galang bergegas membereskan buku-buku dan segera membantu Pak Darman.


"Kalian sudah selesai belajarnya?" tanya pak Darman.


"Ayah, nanti kita bisa lanjutkan lagi belajarnya. Kami bantu ayah dulu," jawab Shella gugup.


"Benar, Paman," sahut Galang.


"Ya sudah."


Shella dan Galang hanya membuat alasan saja. Padahal mereka tidak ingin suasana canggung diantara mereka tetap berlangsung. Mungkin nanti atau besok, perasaan canggung itu akan hilang dengan sendirinya.


Setelah selesai membantu ayahnya, ponsel Shella yang ada dimeja belajar, berdering agak keras. Galang yang kebetulan ada di sana, mencoba melihat. Ternyata yang menghubungi Shella adalah Rafael. Galang tidak tahu harus bagaimana menekan rasa cemburunya.


"Siapa?" tanya Shella agak keras.


"Rafael," jawab Galang kesal.


Shella bergegas berlari dan mengambil ponselnya dari tangan Galang. Dia memilih tempat yang agak sepi, untuk bisa berbicara dengan Rafael. Galang memperhatikan apa yang dilakukan Shella dengan hati kesal. Apalagi saat melihat Shella berbicara dengan Rafael, sangat santai dan nyaman, seolah mereka adalah teman baik.


Benarkah hanya sekedar teman? Batin Galang.


...****************...


Sambil menunggu up selanjutnya, baca juga karya temen aku.

__ADS_1



__ADS_2