Cinta Ketua Geng Motor

Cinta Ketua Geng Motor
Bab 36. Hukuman atau modus


__ADS_3

Meilani mengetuk pintu dan terdengar suara Galang dari dalam sana, memintanya masuk. Shella mengikuti langkah Meilani dengan perasaan campur aduk. Antara senang dan sedih. Akan tetapi, rasa kecewa itu ternyata lebih mendominasi perasaannya saat ini.


"Ini Shella, karyawan yang bermasalah sudah datang," kata Meilana.


"Tinggalkan kami dan jangan biarkan siapapun masuk, tanpa seizin saya," titah Galang.


"Baik, Pak," jawab Meilana.


Meilana keluar dari ruangan tersebut dengan penuh rasa penasaran. Meskipun begitu, tetapi dia harus bersikap profesional.


Sementara itu, Shella berdiri mematung tepat di hadapan Galang, yang seolah sibuk dengan dokumen di tangannya. Untuk sesaat suasana tampak hening.


Sudah hampir lima belas menit Shella berdiri. Dadanya seakan mau meledak karena sikap Galang yang sama sekali tidak memperdulikannya. Baru saja dia akan membuka mulut, Galang sudah terlebih dulu berbicara.


"Silahkan duduk," kata Galang memecah kesunyian.


Shella yang sudah memendam kata-katanya sejak awal tadi, akhirnya ditelannya kembali. Raut wajah yang tadinya sudah seperti balon mau meledak, kini berubah ramah.


"Terima kasih," ucap Shella sopan.


Bagaimanapun perasaan Shella dan Galang tetaplah atasannya. Jadi dia harus bisa membedakan antara masalah pribadi dan pekerjaan.


"Apakah kamu tahu, kenapa kamu dipanggil ke mari?" tanya Galang menahan rasa rindunya.


"Saya tahu, Pak," jawab Shella sambil menatap Galang.


Tatapan mata yang membuat hati Galang berdegup kencang. Tiga tahun lamanya, mereka tidak saling bertemu. Apakah hanya Galang yang menyimpan rindu? Sedangkan Shella tidak sedikitpun terlihat merindukannya?


"Baik. Berarti kamu sudah siap menerima hukumannya. Atau kamu akan membuat pembelaan?" tanya Galang sambil membalas tatapan Shella.

__ADS_1


"Tidak. Saya tahu saya salah. Jadi berikan saja hukumannya," tantang Shella.


"Baik. Mulai besok, setiap hari, kamu yang akan menyediakan makan siangku. Tapi, aku ingin fried chicken dari Resto Gaul," jawab Galang sambil tersenyum.


"Apa, fried chicken dari Resto Gaul?" tanya Shella kaget.


"Hmm. Apakah kamu keberatan dengan hukumannya? Apa menurutmu itu kurang berat? Atau jika kamu tidak bersedia, kamu masih punya satu pilihan lagi," jawab Galang.


"Apa?" tanya Shella lagi.


"Kamu bisa masak sendiri makan siang untukku. Tapi di rumahku," kata Galang serius.


"Tidak-tidak, lebih baik saya pilih yang pertama saja. Saya tidak bisa masak," jawab Shella panik.


"Baik. Diputuskan begitu, kamu boleh pergi sekarang," ucap Galang sambil menatap Shella yang segera mengangguk hormat padanya.


Shella meninggalkan Galang yang berusaha untuk tidak terbawa perasaan. Berpura-pura seperti orang yang tidak saling kenal, kini terasa melelahkan.


Saat Shella datang, semua segera berkerumun untuk mendengarkan cerita Shella. Dari sekian staf biasa di perusahaan ini, hanya Shella yang beruntung. Meskipun mendapatkan hukuman, dia juga berkesempatan melihat secara langsung Presdir mereka yang baru. Bahkan bisa berbicara langsung.


"Shella, apa kamu bertemu secara pribadi dengan Presdir?" tanya Mila panik.


"Shella, apa Presdir marah padamu?" tanya Kira penasaran.


"Shella, Presdir tampan tidak?" tanya Tanti.


Shella hanya terdiam mendengar semuanya memberikan pertanyaan padanya. Dia menutup telinganya, sambil meringis. Saat melihat reaksi Shella, mereka semakin bertambah panik.


"Shella, apa yang sebenarnya terjadi padamu? Kenapa kamu bisa seperti ini?" tanya Mila bertambah panik.

__ADS_1


"Kejam sekali Presdir kita, kita harus bagaimana?" tanya Kira ikutan panik.


"Ada apa ini, apa kalian tidak punya kerjaan?" tanya Pak Indar dengan nada cukup keras dan tegas saat melihat mereka mengerumuni Shella.


Semua bergegas menuju ke tempat duduknya masing-masing. Mereka diam seribu bahasa agar tidak mendapatkan Omelan dari Pak Indar.


"Kira, katakan ada apa?" tanya Pak Indar lagi.


"Kami mau tahu hukuman dari Pak Presdir untuk Shella. Kami panik dan penasaran juga. Apalagi saat melihat Shella terlihat sangat tertekan, kami bertambah panik, Pak Indar," jawab Kira gak gugup.


"Oh, tidak hanya kalian yang panik, aku juga. Karena bagaimanapun juga, Shella adalah bawahanku. Jadi aku juga ikut bertanggungjawab atas kesalahannya," kata Pak Indar sambil melihat ke arah Shella.


Pak Indar berjalan mendekati Shella yang masih duduk termangu di tempat duduknya. Perlahan namun pasti, Pak Indar juga ikut takut, Presdir menghukum berat Shella. Semua mata tertuju pada Shella.


"Shella, bagaimana?" tanya Pak Indar pelan.


"Shella baik-baik saja. Kalian semua tidak usah panik dan cemas. Tadi aku hanya bingung saja. Mau menjawab satu persatu tapi kalian tidak memberi aku kesempatan untuk menjawab," jawab Shella sambil tersenyum.


"Jadi, hukuman apa yang kamu terima? Di skors, atau dipecat?" tanya Pak Indar lagi.


"Mulai besok, aku harus membelikan makan siang untuk Presdir. Fried chicken dari Resto Gaul," jawab Shella sambil menghela napas berat.


"Ini hukuman atau sindiran, karena kamu dianggap suka pergi cari makan?" tanya Mila kesal.


"Aku rasa, Presdir hanya ingin membuat kamu jera dengan melakukan hal yang sama setiap hari. Tapi bukankah hukuman ini terlalu ringan? Kamu beruntung Shella, memiliki atasan seperti Presdir Galang," ucap pak Indar lega. Berarti dia tidak akan mendapatkan hukuman karena tidak bisa mengatur karyawan baru.


Baru saja Pak Indar merasa bebas, Meilana datang memanggil Pak Indar untuk menemui Presdir.


Semua tampak saling berpandangan.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2