
Galang dibawa kekantor polisi bersama anak-anak geng yang lain. Mereka mendapatkan bimbingan dan mereka harus mendatangkan orangtua masing-masing untuk memberikan jaminan agar mereka bisa dibebaskan.
Shella memberikan penjelasan terkait penculikan dirinya. Tetapi dia tidak mengaku kalau dia tahu orang yang telah menculiknya adalah Jiro dan gengnya. Shella khawatir jika polisi akan menangkap Jiro. Bagaimanapun juga, dia bisa selamat karena Jiro mengenal kakaknya.
Dia juga memberikan keterangan bahwa Galang adalah kakaknya. Tetapi polisi tidak mau percaya karena mereka bukan saudara kandung.
Esoknya, karena khawatir dengan keadaan Galang, Shella pergi ke kantor polisi. Tetapi, ternyata, Galang sudah dijemput oleh orangtuanya.
Antara senang dan sedih, itu yang dirasakan Shella saat ini. Dia harus menerima kenyataan bahwa Galang memang bukan bagian dari keluarga mereka. Shella memutuskan untuk pulang dan bersiap untuk pergi kuliah. Sebelum pergi ayahnya bertanya tentang Galang.
"Shella, bagaimana dengan Galang? Dia sangat khawatir saat kamu hilang. Apalagi saat tahu kalau mereka menculik kamu karena dia. Dia merasa sangat bersalah pada Ayah," tanya Pak Darman.
"Dia sudah dijemput oleh orangtuanya," jawab Shella.
"Kenapa ayah merasa kamu tidak rela dia kembali ke rumahnya?" tanya pak Darman menggoda Shella.
"Bukannya Shella tidak rela, tapi Shella sudah terbiasa dengan keberadaannya. Rasanya ada yang hilang, mungkin karena dia seperti kakak Shella sendiri," jawab Shella jujur.
"Sudahlah, dia memang bukan keluarga kita, bukan juga kerabat. Mengenalnya saja baru beberapa bulan ini. Anggap saja kita tidak pernah bertemu dengan dia," tambah pak Darman.
__ADS_1
"Iya ayah. Shella berangkat dulu. Nanti pulangnya agak telat, karena ada tugas yang harus Shella kerjakan di rumah teman. Assalamualaikum," ucap Shella. Shella lalu mencium punggung tangan ayahnya.
"Wa'alaikum salam. Hati-hati di jalan," jawab Pak Darman.
Setelah berpamitan dengan ayahnya, Shella segera berpamitan juga dengan ibunya yang sedang menyiapkan barang dagangan ayahnya. Mencium punggung tangan ibunya, lalu mengucapkan salam.
Sheila berangkat kuliah tanpa mampir dulu ke Resto, karena Shella yakin Galang tidak ada di sana. Shella berusaha menjalani hari-harinya tanpa Galang. Meski terasa sedikit sulit, tetapi berusaha tetap menjadi Shella yang penuh semangat.
Kehidupan Shella kembali seperti dulu. Kuliah, dan bekerja. Tidak ada waktu untuk memikirkan cinta. Meski terkadang, Shella teringat kebersamaannya dengan Galang beberapa bulan ini. Kenangan itu terus muncul, ketika Shella berusaha melupakan Galang. Bukannya lupa malah terus terbayang.
Untuk menghapus bayangan Galang, Shella menyibukkan dirinya dengan bekerja. Dia sering mengadakan di pertemuan dengan Rafael untuk membahas masalah pengembangan resto.
Selesai membahas pekerjaan, Rafael tiba-tiba menyatakan perasaannya pada Shella.
"Shella, beberapa waktu ini, aku berpikir cukup lama. Entah sejak kapan, aku mulai merasakan jatuh cinta padamu. Tetapi, aku pastikan bahwa kamu adalah wanita yang aku inginkan untuk menjadi ibu dari anak-anakku. Shella aku mencintaimu. Bersediakah kamu menjadi pacarku?" ucap Rafael sambil menatap Shella penuh cinta.
Shella sangat kaget mendengar pengakuan cinta dari Rafael. Pria yang pertama kali membuat hati Shella bergetar. Tetapi itu dulu, sebelum dia bertemu Galang.
Perasaannya pada Rafael yang pernah dia kira sebagai perasaan cinta, ternyata bisa juga dia temukan dalam diri Galang. Shella lebih menghormati dan bersimpati pada Rafael sebagai pria yang pantas dijadikan idola. Bahkan sangat cocok untuk dijadikan suami.
__ADS_1
Tetapi, Shella menyadari bahwa yang dia rasakan pada Rafael, lebih pada rasa kagum bukan cinta. Rafael belum bisa membuatnya terketuk menyisihkan waktu untuk pergi berdua selain masalah pekerjaan.
Shella menarik napas dalam-dalam dan berusaha mencari kata-kata yang tidak akan melukai Rafael.
"Pak Rafael, saya minta maaf. Saya sangat berterima kasih, karena Pak Rafael sudah mau mencintai saya. Gadis yang bodoh ini. Tetapi, saat ini, saya masih belum terpikirkan untuk memiliki pacar. Saya masih ingin fokus pada kuliah dan pekerjaan," jawab Shella perlahan-lahan.
"Aku mengerti. Itu artinya, aku masih ada kesempatan. Aku akan menunggu sampai kamu siap untuk menjalin hubungan," jawab Rafael.
"Ta-tapi, saya ...," ucap Shella kaget dengan jawaban Rafael.
Shella bingung, bagaimana kedepannya jika Rafael masih menunggunya?
Semoga Rafael akan melupakannya dan menemukan gadis yang lain, batin Shella.
...****************...
Sambil menunggu up selanjutnya, baca juga karya teman aku.
__ADS_1