
Setelah beberapa hari, Shella memutuskan untuk memberitahu teman-temannya tentang pernikahannya. Shella juga sudah menyiapkan, undangan untuk mereka semua.
Hal itu membuat Galang bahagia. Dia bukan lagi suami yang di sembunyikan. Dia cukup bisa diandalkan, dia bukan lagi Galang ketua geng motor.
Pagi itu, Shella membawa setumpuk undangan untuk teman kerjanya yang satu departemen saat acara akad nikah dan resepsi keluarga.
Sedangkan untuk mengundang seluruh karyawan dan kolega, akan dibuatkan acara sendiri.
"Shella, kamu beneran mau nikah? Sudah ada undangannya pula. Kenapa dulu nggak beritahu kami kalau kamu sudah punya kekasih," tanya Mila paling cerewet.
"Iya, Shella. Aku pikir, kamu masih jomblo. Kamu itu tidak pernah ngenalin cowok kamu sama kita-kita. Seperti apa sih, calon suamimu dan kapan nikahnya?" tanya Tanti penasaran sekali.
"Orangnya baik, bertanggungjawab, dan yang terutama, mencintai aku. Ini sudah ada tanggalnya," jawab Shella sambil menyodorkan undangan pada Mila. "Aku bagi satu-satu."
"Baguslah. Coba aku lihat," kata Mila sambil meraih undangan dari tangan Shella.
Shella melangkah menuju ke tempat duduknya. Mila dan yang lainnya tiba-tiba berkerumun dan berkumpul di mejanya. Shella kaget dengan sikap mereka.
"Selamat Shella," ucap mereka bergantian sambil menyalami Shella.
"Terima kasih, terdiam kasih semuanya," jawab Shella senang.
"Tunggu!" teriak Mila.
"Ada apa?" tanya Shella agak panik.
__ADS_1
"Shella, coba jelaskan pada kami. Nama calon suamimu, sama persis dengan nama Presdir perusahaan kita. Apakah ini hanya kebetulan saja?" tanya Mila sangat berapi-api.
Semua tampak diam menunggu jawaban Shella. Shella tersenyum malu, melihat mereka terlihat sangat serius. Shella tidak ingin lagi mengelak.
"Kalian benar. Nama calon suamiku sama dengan nama Presdir kita. Itu bukanlah kebetulan, tapi ... memang dia," jawab Shella sambil tersenyum manis.
"Hah, a-apa aku tidak salah dengar? Kalian dengarkan ucapan Shella. Kalian tidak budeg, kan?" tanya Mila kaget.
Tidak hanya Mila yang kaget, tetapi semua yang mendengarnya. Bahkan Tanti sampai menampar pelan wajahnya sendiri saking tidak percayanya dengan apa yang dia dengar.
"Presdir, calon suamimu?" tanya Tanti.
"Kalian ini kenapa, tidak percaya? Aku halu, gitu?" tanya Shella saat melihat mereka masih bengong mengerumuninya.
"Tidak, kita percaya. Bukan begitu teman-teman? Kita malah senang karena yang akan jadi nyonya Presdir itu teman kita, bukan si Meilana itu. Bisa nggak, kamu cerita sedikit. Kapan kalian kenal, pacaran maksudku," kata Mila sambil tersenyum.
"Bukan. Aku kenal Presdir, 4 tahun yang lalu. Saat dia masih kuliah. Kami pacaran kami ada sedikit masalah karena dia harus pindah kuliah ke luar negeri. Sudah puas?" kata Shella lembut. "Kalian kembali bekerja, sebelum Pak Indar marah."
"Waw, jadi kalian bertemu di perusahaan ini dan kalian seperti sedang marah-marahan, tapi sebenarnya cinta," kata Tanti sambil menggebrak meja.
Saat itu Pak Indar datang dan memarahi mereka.
"Kalian datang ke perusahaan untuk bekerja atau bergosip? Kembali bekerja," kata Pak Indar yang langsung membuat mereka bubar dan kembali ke tempat duduk mereka masing-masing. "Shella, maafkan mereka. Mereka memang suka bergosip."
"Jangan panggil Bu, saya tidak terbiasa dengan itu. Ini undangan pernikahan saya untuk Pak Indar," kata Shella sambil menyerahkan undangan.
__ADS_1
"Terima kasih," ucap pak Indar sambil membuka untuk melihat nama calon pengantin pria.
"Galang. Selamat Shella, akhirnya kalian benar-benar menikah. Saya terus kepikiran saat kejadian itu," kata Pak Indar jadi ikutan bergosip.
"Terima kasih, Pak Indar," jawab Shella tersenyum.
Satu Minggu kemudian.
Acara pernikahan Shella dan Galang berlangsung dengan sederhana. Hanya anggota kedu keluarga dan teman satu departemen Shella yang datang. Rencananya, hanya akan ada akad nikah dan makan bersama saja.
Acara akad nikah berlangsung khidmat dan mengharukan. Karena Shella dan Galang tidak menyangka jika akhirnya mereka bisa sampai menikah. Hubungan yang banyak liku-likunya ini, telah berhasil mereka lewati.
"Sah."
"Sah."
"Saaah."
Satu kata itu membuat suasana sedikit heboh. Mereka telah resmi menikah.
"Terima kasih, Shella. Kamu adalah cahaya yang di kirimkan Tuhan untukku," gumam Galang.
Sekian
...****************...
__ADS_1
Terima kasih untuk semua readers yang sudah meluangkan waktu untuk membaca kisah ini. Semoga menjadi hiburan untuk semuanya.