
Kedatangan Rafael yang ingin secara langsung membagikan sedekah hari ini, membuat Shella agak kaget. Pasalnya, selama ini, hanya asistennya saja yang datang, atau perwakilannya saja.
Pelanggan tetaplah raja, maka Shella dengan ramah menyapa Rafael. Biasanya, ayahnya yang berbasa-basi dengan asisten Rafael.
"Pak Rafael, tumben datang sendiri?" sapa Shella.
"Ada sedikit urusan dengan ibu panti. Kamu tumben, nggak nggak sama ayahmu. Bukannya dia yang di resto?" tanya Rafael saat melihat Galang yang berdiri di dekat mobilnya.
"Oh, dia kakak angkat aku. Maaf, dia memang agak sedikit posesif sama aku. Nanti aku kenalkan sama dia," kata Shella.
Shella menemui ibu panti dan setelah serah terima, semua paket fried chicken segera di turunkan dan dimasukkan ke dalam rumah.
Shella tersenyum saat melihat Rafael ikut membantu. Wajahnya dipenuhi bunga-bunga di taman. Manis dan berseri. Tetapi Galang kebalikannya.
Wajah tampan Galang berbalut awan hitam. Meski dia masih menjalankan tugasnya menurunkan Barang bawaannya, hatinya dipenuhi jarum.
Setelah selesai menurunkan semuanya, Shella mengenalkan Rafael dan dengan Galang.
"Kak Galang, ini Pak Rafael, pelanggan tetap resto. Ini, kakakku," ucap Shella pada keduanya.
"Rafael."
"Galang."
Mereka saling bersalaman dan saling mengeluarkan kekuatan. Saat itu Shella masih belum menyadari jika mereka berdua, terlibat perang mata. Baru beberapa saat kemudian, Shella menyadari mereka ad ayang tidak beres.
Shella melepaskan jabatan tangan mereka sambil berpura-pura tidak tahu apa yang terjadi. Dengan begitu, dia bisa bersikap biasa dan tidak mau tahu yang terjadi diantara mereka.
"Kakak, ayo kita pulang. Pak Rafael, kami permisi pulang dulu," kata Shella sambil menarik tangan Galang.
Tanpa menunggu jawaban Rafael, Shella bergegas mengajak Galang untuk kembali pulang. Selama perjalanan, wajah Galang masih terlihat kesal. Shella hanya bisa diam tidak ingin bertanya lebih jauh.
__ADS_1
Sesampainya di resto, mereka segera menyibukkan diri dengan pekerjaan. Karena setiap hari libur, banyak pelanggan yang datang. Dengan banyaknya pelanggan, maka resto bisa tutup lebih awal karena kehabisan stok.
Sebelum pulang, Pak Darman memberikan bonus hari ini pada para karyawan yang terlibat. Termasuk Shella dan Galang. Pak Darman memberikan masing-masing satu amplop yang memang tipis. Paling hanya beberapa ratus ribu saja.
Reaksi Galang saat menerima bonus, sungguh tidak terduga. Tangannya gemetar dan ada sebutir airmata menetes diwajahnya. Dia terlihat terharu. Karena ini pertama kalinya dia bisa berguna, bisa menghasilkan uang sendiri.
Galang keluar dari ruangan pak Darman dengan senyum bangga. Dia mendekati Shella yang bersiap pulang.
"Shella, gimana kalau besok, sepulang kuliah, aku traktir kamu makan?" tanya Galang.
"Kak, jangan menghambur-hamburkan uang untuk hal yang tidak penting. Lebih baik uangnya ditabung, untuk biaya kuliah," jawab Shella sambil duduk.
"Shella, ini gaji pertama aku. Tidak bisakah aku menggunakannya sesukaku?" tanya Galang sedih.
"Sebenarnya boleh saja. Tapi, kalau mau traktir aku, kenapa kita tidak makan di sini saja. Sama aja, 'kan?" tanya Shella.
Galang terdiam mendengar ucapan Shella. Dia tidak tahu harus bagaimana meyakinkan Shella agar mau keluar dengannya. Tentu saja Galang ingin mengajak Shella nonton film dan makan berdua.
"Ayah, Ayah tahu sendiri, kalau Shella tidak suka makan di luar. Lebih baik Shella membantu Ayah di resto. Waktu adalah uang, Ayah," jawab Shella.
"Maka itu, sekali-kali berilah waktu untuk dirimu sendiri menikmati masa muda. Asal bisa jaga diri," sahut ayahnya lagi.
"Tenang saja, Paman. Galang akan jaga Shella dengan baik," ucap Galang penuh percaya diri.
"Nah, itu Galang udah janji jagain kamu. Lagi pula, Ayah yakin kamu juga bisa menjaga diri sendiri," tambah pak Darman.
"Baiklah. Tapi, bonus hari ini jangan dihabiskan. Gunakan juga untuk keperluanmu yang lebih penting," kata Shella akhirnya setuju.
"Iya, lagian saat ini aku belum memiliki keperluan yang penting. Terima kasih Paman, atas izinnya," ucap Galang sambil tersenyum.
Galang sudah tidak sabar menunggu esok tiba. Dia tidak bisa memejamkan mata karena membayangkan apa yang akan di lakukan esok hari. Kemana dia harus membawa Shella pergi.
__ADS_1
Banyak pilihan untuk pergi berdua. Nonton bioskop, makan, jalan-jalan di taman atau ke tempat bermain. Memikirkan hal itu, hampir semalaman dia tidak bisa tidur.
***
Keesokan harinya, Shella sengaja berangkat kuliah satu jam lebih awal dari biasanya. Dia mampir ke resto untuk menjemput Galang.
Sesuai perkiraan Shella, Galang masih belum bangun. Dia mengetuk pintu beberapa kali, tetapi Galang belum juga ada tanda-tanda bangun. Shella mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. Dia segera menghubungi ponsel Galang. Berdering, terapi tidak ada yang mengangkat.
Shella sedikit kesal, tetapi saat teringat Galang masih dalam tahap belajar menjadi lebih baik, Shella menarik napas dalam-dalam untuk meredakan emosinya. Setelah beberapa kali panggilan, barulah Galang bangun dan berlari untuk membuka pintu resto.
"Maaf, aku baru bangun. Apa kita akan terlambat. Aku masih belum mandi dan berganti pakaian," ucap Galang ketika pintu terbuka.
"Kalau sudah tahu terlambat, kenapa tidak segera mandi?" tanya Shella kesal.
"Oke, oke. Gue segera mandi. Eh aku, maksudku," ucap Galang memperbaiki bahasanya. Dia selalu menggunakan bahasa setengah resmi, dengan saya atau aku. Bukan Lo atau Gue, seperti yang sering dia gunakan saat bersama teman-teman gengnya.
Shella menunggu Galang bersiap-siap sambil duduk. Sesekali dia melihat ke arah jam ditangannya. Waktu terus berjalan dan tidak mungkin Shella bisa menghentikannya.
Akhirnya, Galang keluar juga dengan memakai pakaian kakaknya. Selintas, Shella melihat sosok Ferdi dalam diri Galang. Tetapi ketika Shella menyadari, bahwa itu bukan kakaknya, Shella bergegas berdiri.
"Dah, ayo cepetan kita berangkat. Jangan lupa kunci pintunya," ajak Shella.
Galang bergegas mengunci pintu samping resto. Lalu dia mengikuti langkah Shella menuju ke arah motornya. Shella memberikan satu helm warna pink pada Galang. Sesaat Galang kaget, tetapi ketika Shella menatapnya tajam, Galang tidak bisa membantah Shella.
Galang duduk dibelakang, sedangkan Shella yang duduk di depan. Mengingat waktu yang sudah sangat mepet, Shella naik motor dengan kecepatan cukup tinggi. Tentu saja Shella tidak ingin terlambat di hari pertama Galang masuk kuliah lagi.
Untung saja, mereka masih memiliki waktu untuk melapor pada pihak fakultas untuk melakukan pengajuan mahasiswa aktif kembali. Karena Shella harus masuk kelas, maka dia meninggalkan Galang melakukan proses pengaktifan kembali dirinya sendirian.
...****************...
Sambil menunggu up selanjutnya, baca karya temen aku.
__ADS_1