Cinta Ketua Geng Motor

Cinta Ketua Geng Motor
Bab 12. Ada yang cemburu


__ADS_3

Shella memeluk ayahnya sambil terus meminta maaf. Shella tahu ayahnya tidak bersalah. Ayahnya adalah sosok ayah yang sangat mencintai keluarga. Tetapi mengapa kakaknya bisa bergabung dengan geng motor?


Ternyata kakaknya salah bergaul dengan mereka. Dia dipaksa ikut anggota geng motor dan melakukan banyak aksi kejahatan. Jika menolak, kakaknya diancam akan dihabisi.


Saat itu, Ferdi meminta dibelikan motor baru yang harganya cukup mahal. Tentunya, dia tidak ingin kalah dengan teman satu gengnya yang memiliki motor yang sangat bagus. Karena mereka tergolong anak-anak orang berada.


Orangtua Shella tidak bisa membelikan Ferdi motor sehingga Ferdi sangat marah dan kecewa pada keluarganya. Malam itu, dia mengikuti balapan liar demi mendapatkan hadiah motor. Meskipun motor bekas, tetapi motor itu masih sangat bagus.


Tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, Ferdi meminjam motor salah satu teman gengnya untuk mengikuti balapan tersebut. Mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Menjelang garis finish, tiba-tiba beberapa polisi menggerebek tempat balapan mereka sehingga mereka lari tunggang langgang, berusaha menyelamatkan diri mereka sendiri.


Ferdi yang panik saat melihat ada polisi, berusaha menaikkan laju motornya dengan kecepatan tinggi. Ferdi tidak bisa menguasai motornya dan saat berada di jalan raya, dia tidak bisa menghindari sebuah truk yang melaju dari depan. Tabrakan itu tidak dapat dihindarkan.


Motor Ferdi jatuh dan tubuhnya terpental dan membentur pinggiran jalan. Meskipun ada beberapa orang yang melihat, tidak ada yang berani menolong. Mereka hanya melihat saat kakaknya meregang nyawa kehabisan darah.


Salah satu dari mereka mengenali kakaknya sebagai anggota geng motor sehingga mereka malah bersyukur saat melihat kakaknya seperti itu.


Saat polisi yang mengejar sampai, mereka segera membawa kakaknya ke rumah sakit terdekat. Sayangnya, karena terlalu banyak kehabisan darah, akhirnya kakaknya meninggal di rumah sakit.


Shella sangat sedih saat itu, dan tidak ingin orang-orang terdekatnya berhubungan dengan geng motor dan mengalami nasib yang sama seperti kakaknya. Tetapi nyatanya, kini dia malah berurusan dengan Galang yang seorang ketua geng motor.


Tanpa mereka sadari, Galang sejak awal mendengarkan pembicaraan mereka. Galang ikut sedih mendengar cerita pak Darman. Ingin sekali Galang memeluk Shella dan mengatakan bahwa dia ingin berubah. Dia tidak akan membuat Shella khawatir dan cemas.


Pantas saja ibunya selalu panik dan cemas setiap kali Galang tidak pulang ke rumah. Sekalinya ada kabar, dia berada di rumah sakit. Mungkin ibunya juga mengalami seperti yang dirasakan Shella. Sedih dan terluka.


Tetapi bagaimana dia akan memulainya?


Shella mulai bisa melepaskan rasa benci dan rasa traumanya terhadap anak-anak geng motor. Meskipun belum seratus persen. Shella tidak ingin hidup dalam kebencian juga tidak ingin mengingat kenangan buruk yang sudah berlalu. Dia ingin mengenang kebaikan kakaknya bukan kejelekannya.

__ADS_1


"Tentang Galang, biarkan saja dia tinggal di sini. Dari pada dia berada dijalanan dengan kondisi seperti itu, akan sangat berbahaya," kata pak Darman


"Aku juga berpikir seperti itu, Ayah. Iya kalau dia kembali ke rumahnya, kalau dia kekeh, dan milih hidup di jalanan. Dengan kondisinya yang seperti itu, dia bakalan meninggal muda," sahut Shella.


"Makanya kamu urus dia. Anggap saja dia kakakmu," pesan Pak Darman.


Shella menemui Galang untuk melihat keadaannya. Galang bergegas kembali ke tempat tidurnya agar Shella tidak curiga, dia telah mendengar alasannya menolak dirinya.


"Shella, ada apa? Apakah ayahmu memarahi kamu, karena aku tinggal di sini?" tanya Galang berpura-pura menebak.


"Tidak. Kamu bisa tinggal di sini dengan tenang. Kami tidak akan mengusirmu," kata Shella meyakinkan Galang.


"Terima kasih."


Sejak saat itu, apapun keperluan Galang, dipenuhi oleh Shela dan ayahnya selama mereka masih sanggup memberikan. Galang juga tidak terlalu merepotkan dan selalu menuruti perintah Shella.


Kedekatan Galang dan Shella berawal dari sini. Shella selalu datang ke resto pagi-pagi sekali. Memberinya sarapan dan minum obat. Melatihnya berjalan sesuai anjuran dokter.


Merek mulai sering bercanda dan saling menggoda satu sama lain.


Suatu hari, Shella membantu Galang berlatih berjalan. Dia memapah Galang dengan sekuat tenaga agar Galang tidka terjatuh. Saat itu, tanpa sengaja, dia melihat wajah Galang secara dekat karena wajah mereka hampir bersentuhan.


Dulu, Shella tidak pernah memperhatikan wajah Galang dengan sedetail itu karena dia membayangkan jika pemuda yang dia selamatkan adalah kakaknya.


Tetapi kali ini, Shella merasa ada sesuatu yang aneh pada dirinya. Dia mulai mengagumi sosok Galang seperti dia mengagumi Rafael. Bedanya, Rafael memberinya inspirasi sedangkan Galang, mampu membuat hatinya berdebar-debar.


Sejak itu, Shella meminta bantuan Didi untuk membantu Galang belajar berjalan. Hal ini membuat Galang agak kecewa. Apalagi saat melihat Shella berduaan dengan Rafael di salah satu meja tamu. Shella dan Rafael membicarakan masalah pekerjaan.

__ADS_1


Disela-sela membicarakan pekerjaan, Rafael yang rupanya sudah jatuh hati pada Shella, meminta Shella untuk mencicipi menu baru buatan ayahnya. Rafael yang sibuk dengan laptopnya, meminta Shella untuk menyuapinya.


Shella tidak menolak meskipun dia merasa agak canggung. Suapan pertama, aman-aman saja. Pada saat suapan ke tiga, Galang tiba-tiba sudah berada di dekat Shella. Galang meraih tangan Shella dan memasukan makanan tersebut ke mulut Galang.


Tentu saja hal itu membuat Shella dan Rafael kaget. Apalagi melihat keberadaan Galang di resto ini.


"Kamu siapa?" tanya Rafael kaget.


"Dia ...," jawab Shella panik karena dia tidak menyangka Galang akan keluar. Shella tidak pernah mengatakan pada siapapun selain pada Didi tentang keberadaan Galang.


"Aku, pacarnya," jawab Galang terlihat tegas. "Aku tidak suka kamu menindas Shella. Kamu punya tangan dan kamu bisa makan sendiri."


"Pacar? Setahu aku, Shella tidak memiliki pacar. Aku meminta dia membantuku karena aku sedang sibuk," jawab Rafael kesal.


"Kamu saja yang tidak tahu dia punya pacar," sahut Galang yang juga kesal. Galang mencoba memegang tangan Shella, tetapi Shella menolak karena merasa malu, banyak yang melihat ke arah mereka. Tetapi Galang terus memaksa.


Rafael melihat keanehan pada hubungan antara Galang dan Shella, tetapi dia tidak ingin membuat Shella malu. Rafael mengalah dan dia bergegas pamit pergi.


"Baiklah, Shella. Kalau begitu aku pamit dulu. Kita bicarakan menu baru ayahmu lain kali saja," pamit Rafael. "Assalamualaikum."


"Wa'alaikum salam." Jawab Galang dan Shella bersamaan.


Setelah Rafael pergi, Shella menatap Galang dengan tatapan marah. Shella tidak suka Galang tiba-tiba muncul didepan Rafael. Tempat ini adalah milik Rafael dan Shella membiarkan orang lain tinggal di resto ini tanpa meminta izin padanya.


"Shella, aku minta maaf." Suara Galang bergetar karena merasa bersalah.


Galang berjalan dengan kaki masih pincang menuju ke ruangannya meninggalkan Shella yang kesal padanya.

__ADS_1


__ADS_2