
Seluruh anggota dari dua geng motor telah datang. Akan tetapi, Galang masih belum terlihat batang hidungnya. Padahal pertandingan balap liar akan segera dimulai.
Anggota geng motor Starly tampak gelisah menunggu kedatangan ketua mereka. Mereka berbisik-bisik untuk mengambil keputusan secara langsung jika Galang memang tidak bisa datang. Bagas telah bersiap untuk mengambil tanggungjawab.
"Heh, mana ketua geng kalian yang sok hebat itu? Dia pasti tidak datang karena takut. Hahaha ...," tanya Dewa, ketua geng motor Harimau.
"Jangan meremehkan ketua kami. Lagian, pertandingannya juga belum di mulai," jawab Bagas.
Tidak berapa lama, datanglah Galang dengan sepeda motornya yang sudah siap bertanding. Keenam anggota geng motornya langsung memberi salam semangat dengan menepukkan tangan mereka satu persatu ke tangan Galang. Seperti sedang tos.
Galang dan Dewa bersiap melakukan tanding. Mereka mulai bersiap di start mereka masing-masing. Seorang gadis cantik berdiri di depan mereka sambil membawa bendera. Gadis itu mengayunkan bendera tanda balapan liar dimulai.
Sepeda motor dua ketua geng yang berbeda itu, melaju dengan kecepatan tinggi. Rute yang diambil sudah ditentukan sebelumnya sehingga mereka sudah hafal dengan rutenya.
Sepeda motor mereka saling saling bersalaman secara bergantian. Tetapi memang Galang lebih menang dalam pengalaman sehingga Galang kini bisa lebih menguasai keadaan. Sepeda motor Galang berhasil mendahului sepeda motor Dewa.
Pada menit-menit terakhir, hampir saja sepeda motor Dewa mendahului Galang. Galang sangat panik sehingga dia memutar gas hingga kecepatan yang sangat tinggi. Hasilnya meski dia menang, motornya tidak bisa berhenti di tempat itu.
Sepeda motor Galang melaju cepat dan dia tidak bisa menghentikannya secara mendadak. Sehingga Galang menikmati kemenangannya dengan berseluncur di jalan raya. Tiba-tiba, dari arah berlawanan muncul sebuah truk mobil dengan kecepatan yang tinggi. Galang yang panik, berusaha membanting stang ke kiri, hingga motornya menabrak pembatas jalan dan dia jatuh terpental.
Saat itu yang terbayang dipikirannya, hanyalah wajah Shella. Dia seolah tersenyum melihat Galang yang kini berasa di ujung maut untuk yang kedua kalinya.
"Shella, aku benar-benar mencintaimu. Aku tidak ingin mati sekarang. Aku ingin bersamamu. Jika aku diberi kesempatan hidup kali ini, aku ingin memperjuangkan cintaku padamu," batin Galang.
Untungnya saat itu, Bagas dan Dira mengikuti motor Galang, sehingga mereka bisa segera memberikan pertolongan pada Galang secepatnya.
Mereka membawa Galang ke rumah sakit terdekat untuk menyelamatkan nyawa Galang. Selama perjalanan ke rumah sakit, Galang terus menyebut nama Shella. Sehingga Bagas meminta Dira untuk menghubungi Shella demi ketua geng mereka.
__ADS_1
Galang segera ditangani oleh beberapa dokter ahli yang ternama didalam ruang Unit Gawat Darurat. Sementara Bagas dan Dira menjalankan tugas masing-masing. Bagas menghubungi orang tua Galang sedangkan Dira pergi menemui Shella.
Dira mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan tinggi, seperti anggota geng motor yang sedang balap liar. Meski mendapat umpatan dari pengguna jalan yang lain, Dira sama sekali tidak peduli. Yang ada dipikirannya saat ini adalah secepatnya membawa Shella menemui Galang.
Motor Dira berhenti di depan rumah Shella yang tertutup rapat. Maklum, masih bisa di bilang tengah malam.
Dira ingin berbalik pergi, tetapi panggilan masuk dari Bagas menghentikannya. Bagas meminta Dir agar secepatnya membawa Shella karena saat ini Galang sangat membutuhkan darah dari Shella yang sudah pernah dilakukannnya sehingga tidak perlu menjalani pemeriksaan lagi.
Dengan penuh keraguan, Dira mengetuk pintu rumah Shella. Pertama kali mengetuk, dia melakukannya dengan pelan. Kedua, ketiga dan sampai ke lima, barulah Dira sengaja mengeraskan suaranya. Demi ketua geng motornya, Dira sudah siap dengan resikonya.
Pemilik rumah terbangun setelah mendengar ketukan cukup keras dari Dira. Pak Darman ingin membuka pintu tetapi, dilarang oleh Bu Rasti dan Shella.
"Ayah, jangan buka. Jangan-jangan itu orang jahat," ujar Shella panik.
"Pak, Ibu sangat takut. Bagaimana jika itu perampok?" tanya Bu Rasti juga ikutan panik.
"Tenang saja. Kalian berpikir terlalu jauh. Bagaimana jika ada yang butuh pertolongan, kalian mau bertanggungjawab?" tanya Ayahnya.
"Benar kata Shella, Pak," tambah Bu Rasti.
Pek Darman setuju dengan usulan Shella. Mereka mengintip dari kaca jendela, dan Shella sangat kaget melihat Dira yang datang.
"Ayah, itu Dira. Temannya Galang," ucap Shella.
Pak Darman bergegas membuka pintu. Saat itu, Dira hampir putus asa karena dia sudah lama berdiri di depan pintu dan pemilik rumah sama sekali tidak membuka pintu.
"Nak Dira?" tanya Pak Darman. "Temannya Galang?"
__ADS_1
"Benar. Maaf karena telah mengganggu istirahat Bapak sekeluarga. Gue ... saya terpaksa datang untuk meminta bantuan dari Mbak Shella, anak Bapak," tutur Dira gugup.
"Bantuan apa, memangnya Shella bisa apa?" tanya Pak Darman tidak yakin. "Masuklah dan duduklah dulu."
"Terima kasih," jawab Dira pelan. Dira duduk perlahan mengikuti langkah pak Darman dan Bu Rasti. Dia ingin membangun kekuatan untuk bisa membawa shella.
Shella datang membawa segelas air putih untuk Dira. Setelah itu dia langsung duduk di samping ibunya.
"Dira, apakah ada hubungannya dengan Galang?" tanya Shella tiba-tiba.
"Benar. Bagaimana Mbak Shella bisa tahu?" jawab Dira dengan pertanyaan.
Ayah dan ibunya Shella saling berpandangan dan tidak mengerti dengan apa yang dikatakan putri mereka. Mereka bingung karena mereka tahu, Shella tidak akan mau mengenal apalagi berurusan dengan anak-anak geng motor.
"Apa yang terjadi dengan Galang?" tanya Shella sedikit panik.
"Bos mengalami kecelakaan motor," jawab Dira khawatir.
"Apa, kecelakaan lagi?" tanya Shella panik.
"Sekarang dia berada di rumah sakit. Tapi, dia kehilangan banyak darah dan harus segera mendapatkan donor darah. Kami hanya terpikirkan untuk meminta bantuan Mbak Shella," jawab Dira sedih.
"Shella, meskipun Ayah selalu meminta kamu untuk membantu orang lain, tetapi jika memang kamu tidak ingin membantu, jangan paksakan dirimu. Kita akan mencari jalan keluar yang lain. Kita bisa mencari donor darah lain," kata Pak Darman cemas dengan kondisi Shella.
Shella masih terdiam. Hatinya mengalami Dila yang sangat hebat. Disisi lain, dia ingin membantu tetapi di sisi lain, dia sudah berjanji tidak akan memiliki hubungan dengan anak-anak geng motor. Apalagi memberikan sebagian darahnya untuk salah satu dari mereka.
Shella memejamkan mata, mencoba membaca isi hatinya sendiri. Wajah Galang dan sang kakak datang silih berganti.
__ADS_1
"Oke. Aku akan membantunya. Tapi, jangan pernah bilang padanya, jika aku yang mendonorkan darahku untuknya lagi. Setelah ini, aku harap, kalian semua tidak pernah muncul di hadapanku." Shella mengajukan syarat yang segera di setujui oleh Dira tanpa pikir panjang.
...****************...