
Shella berusaha mencari waktu yang tepat, untuk berbicara pada ayahnya. Dia tidak mungkin akan membiarkan semua akan berjalan di luar kendali. Dia keluar dari kamar Galang dan langsung menuju ke dapur.
Saat baru beberapa melangkah, Mbak Desi memanggilnya untuk menemui ayahnya.
"Mbak Shella, dicari Pak Darman. Langsung temui di ruangannya."
"Makasih, Mbak Desi," ucap Shella ramah.
"Sama-sama," balas Mbak Desi.
Shella bergegas menuju ke ruangan ayahnya. Dia agak ragu ketika sampai di depan pintu. Dia cemas, apa yang akan dia lakukan jika Rafael masih ada di sana. Tetapi, ini sudah menjadi resiko yang harus dia hadapi, sesuai janjinya pada Galang untuk menyelesaikannya sendiri.
Perlahan dia mengetuk pintu dan setelah terdengar suara ayahnya memintanya masuk, dia mendorong pintu perlahan. Dan benar saja, Rafael masih berada di sana dengan seikat mawar di tangannya.
Shella menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan hatinya. Dia harus bisa berpikir dewasa untuk menghadapi masalah ini. Shella mengalami dilema yang akhirnya membuat dia lebih memilih bersikap kekanak-kanakan.
"Ayah memanggilku? Selamat siang Pak Rafael," sapa Shella berpura-pura kaget.
"Siang, Shella," jawab Rafael.
"Duduklah. Pak Rafael yang ingin bicara padamu. Silahkan, Pak Rafael," ucap Pak Darman. "Bapak keluar dulu. Ingat, pesan Ayah."
Shella menatap kepergian ayahnya. Dia tidak mengerti apa maksud ayahnya membiarkan dia berdua dengan Rafael. Jelas-jelas bukan ingin bicara masalah pekerjaan. Tetapi ayahnya percaya begitu saja pada Rafael.
Shella duduk di tempat duduk ayahnya, tepat di depan Rafael. Senyum manis Shella menebarkan percikan bunga cinta yang membuat hati Rafael semakin tidak bisa melepaskan diri dari pesona Shella.
__ADS_1
Bagi sebagian orang, mungkin Shella adalah gadis yang biasa saja. Seperti anggapannya dulu, waktu belum mengenalnya. Mereka hanya berteman selintas saja. Pesona itu muncul saat dia bisa mengenal Shella lebih dalam.
"Shella, ini untukmu," ucap Rafael. Dia memberikan bunga yang dibawanya pada Shella.
Shella terdiam sesaat, lalu mulai menjalankan aksinya untuk membuat Rafael mundur.
"Maaf, Pak Rafael. Saya tidak bisa menerima bunga dari Bapak. Apa nanti kata orang. Kita tidak dalam hubungan yang sedekat itu, sampai harus diberi bunga," kata Shella.
"Anggap saja, ini hadiah pertemanan kita. Selain sebagai rekan bisnis, bukankah kita masih bisa berteman?" tanya Rafael.
"Tentu saja," jawab Shella ragu.
Shella akhirnya menerima bunga dari Rafael, meski dengan berat hati. Sedangkan Rafael tampak tersenyum bahagia. Rafael bergegas pamit pergi, setelah bunga mawar itu berpindah tangan.
Setelah Rafael pergi, Shella meletakkan bunga diatas meja ayahnya. Dia tidak mau Galang melihat dan menimbulkan kecemburuan di hati Galang. Shella bergegas keluar dan melakukan pekerjaannya seperti biasa.
"Ayah, Shella ingin bicara," ucap Shella saat mereka masih di teras rumah.
"Ada apa, Shella? Ayah capek, ayah ingin segera beristirahat. Kita bicara besok pagi saja," jawab pak Darman.
"Baik, Ayah."
Meski agak kecewa, tetapi Shella memang harus memahami kondisi ayahnya saat ini. Hampir seharian bekerja di resto, dengan pelanggan yang cukup ramai, pasti tubuh ayahnya sangat lelah dan butuh istirahat.
Shella bersabar menunggu esok hari. Dia membersihkan diri lalu mencoba untuk tidur. Dia mencoba untuk tidak memikirkan apa yang terjadi hari ini. Dia hanya akan ingat jika dia dan Galang sudah menjadi pasangan kekasih. Jadi, meskipun hubungan ini masih rahasia, seharusnya dia bahagia bisa bersama pria yang dia cintai.
__ADS_1
Keesokan harinya, Shella menemui ayahnya yang sedang minum kopi bersama gorengan. Shella mengambil satu untuk mengganjal perutnya.
"Sebenarnya apa yang ingin kamu bicarakan dengan Ayah? Masalah pekerjaan atau masalah lain?" tanya pak Darman. Pria paruh baya itu, lalu menyeruput kopi yang masih panas.
"Begini, Ayah. Shella tidak ingin, Ayah salah paham tentang Pak Rafael dan aku. Shella tidak pernah setuju ataupun memberikan harapan padanya. Kami benar-benar tidak memiliki hubungan khusus," kata Shella.
"Shella, Ayah memang pernah melarang kamu untuk pacaran. Karena ayah takut akan mengganggu kuliah kamu. Pacaran yang tidak tahu ujungnya. Tapi, Rafael ini berbeda. Dia memiliki tujuan pasti untuk menikahi kamu. Jadi, kalau sama dia, Ayah setuju saja," jawab Pak Darman.
"Ayah, Shella tidak mencintai Pak Rafael," ucap Shella.
"Kamu jangan membohongi Ayah. Dia sendiri yang mengatakan kalau kamu juga setuju dia mengejarmu. Itu artinya kamu ada rasa sama dia," kata Pak Darman.
"Itu karena saat itu Shella tidak tahu cara menolak dia dengan halus. Shella tidak ingin dia sakit hati pada Shella. Terlebih saat itu Shella belum memiliki orang yang Shella cintai," jawab Shella.
"Maksudmu, sekarang kamu sudah ada orang yang kamu cintai?"
"Benar, Ayah."
"Siapa?" tanya Pak Darman penuh selidik.
"Galang."
...****************...
Sambil menunggu up selanjutnya, baca juga karya temen aku.
__ADS_1