
Shella mengikuti langkah Galang yang baru beberapa hari yang lalu, melepas gip di kakinya. Sebenarnya, Shella ingin membelikan Galang, alat penyangga untuk membantunya berjalan. Tetapi dia menolak karena dia juga tidak akan pergi kemana-mana.
Shella mempercepat jalannya dan segera membantu Galang dengan memapahnya. Galang tidak menolak, bahkan dia terlihat tersenyum tipis menunjukan jika dia bahagia dengan perlakuan Shella.
Galang benar-benar cinta mati dengan Shella. Dia tidak bisa hidup tanpa Shella. Bagaimana dengan Shella?
Setelah membantu Galang kembali duduk di tempat tidurnya, Shella lalu duduk di sebelahnya.
"Shella, maafkan aku, karena aku tadi mengaku pacar kamu. Aku tahu, kamu pasti marah padaku. Kamu mencintai dia bukan?" tanya Galang sedih.
"Bagaimana kamu tahu, kalau aku mencintai dia?" tanya Shella.
"Semua orang pasti tahu itu. Dari cara kamu memandang dia dan dari sikap kamu. Tapi kenapa kamu tadi mau saja diminta untuk menyuapi dia. Kalian belum pacaran, dia sudah berani begitu," jawab Galang kesal.
"Kamu ini, seperti sedang cemburu saja," ucap Shella lalu tertawa.
"Kamu tidak tahu atau pura-pura lupa? Bukankah aku pernah menyatakan cinta padamu beberapa waktu yang lalu? Jangan bilang, semua itu nggak ada artinya buat kamu," ucap Galang kecewa.
"Maaf, aku memang lupa," jawab Shella berpura-pura lupa. Dia tidak ingin Galang tahu perasaannya sebelum Galang berubah. Shella ingin Galang bisa lepas dari geng motor dan memiliki masa depan yang lebih baik.
"Shella, kamu kejam sekali padaku. Aku juga bisa lebih baik dari pria itu. Aku bisa menjadi orang yang bisa kamu andalkan. Aku akan berjuang untuk itu. Jadi tolong, pertimbangkan cintaku," ucap Galang penuh keyakinan.
"Benarkah, kamu bisa? Kuliah saja kamu nggak pernah masuk. Bagaimana bisa menjadi orang yang aku andalkan?" tanya Shella sengaja membuat Galang tertantang.
"Kuliah? Benar juga. Sepertinya sudah lama aku nggak masuk kuliah. Shella, setelah kakiku ini bisa berjalan normal kembali, aku akan kuliah. Dan aku akan membuktikan padamu, kalau aku bisa jauh lebih baik dari Rafael itu," kata Galang penuh semangat.
Shella yang tadinya mau marah, berubah pikiran. Dia tampak senang melihat Galang memiliki semangat untuk lebih maju, meskipun niatnya hanya ingin membuktikan diri dihadapannya.
__ADS_1
***
Sesuai janji Galang, setelah kakinya sembuh, dia akan mulai kuliah kembali. Shella mengumpulkan pakaian Ferdi semasa hidupnya, yang masih tersimpan rapi di rumah. Pakaian itu akan diberikan kepada Galang agar bisa dipakai untuk pergi kuliah.
Hal itu membuat ibunya penasaran karena sejak Ferdi meninggal, mereka jarang membuka pakaian Ferdi yang sudah tersimpan rapi di lemari.
Shella memasukan pakaian itu ke dalam tas ransel. Shella kaget saat ibunya mendekatinya.
"Shella, apa kamu tidak apa-apa?" tanya ibunya.
"Shella nggak papa, Bu. Shella sudah mengikhlaskan kak Ferdi," jawab Shella.
"Syukurlah, apa nak Galang mau memakai pakaian kakakmu? Bukankah dia anak orang kaya, dia bisa beli pakaian sebanyak yang dia mau," kata Bu Rasti.
"Dia itu kabur dari rumah. Biaya makan dan perawatan dia saja, Shella harus pakai uang tabungan Shella. Bagaimana dia bisa beli pakaian?" tanya Shella.
"Shella, apa kamu tidak merasa, apa yang kamu lakukan itu tidak berlebihan. Untuk apa kamu menghabiskan uang tabungan kamu untuk dia? Bagaimana dengan masa depan kamu?" tanya Bu Rasti sedih.
"Ya sudah. Ibu hanya bertanya. Kamu harus jaga diri, jangan sampai tertipu. Meskipun uang bisa dicari lagi, ibu takut kamu sakit hati," kata ibunya.
"Terima kasih karena sudah mengingatkan Shella. Maafkan Shella karena hal ini membuat ibu khawatir," ucap Shella terharu. Shella perlahan memeluk ibunya. Merasakan kasih sayang yang tulus dari ibunya.
"Shella, apa kamu yakin kamu tidak jatuh cinta padanya?" Sebuah pertanyaan yang membuat Shella terdiam.
Perlahan Shella melepaskan pelukannya. Dia menarik napas panjang lalu tersenyum pada ibunya.
"Ibu, Shella hanya menganggap dia sebagai pengganti Kak Ferdi. Karena itu, Shella sangat peduli padanya," jawab Shella.
__ADS_1
"Tapi tetap saja, dia bukan kakakmu," ucap Bu Rasti lagi.
"Ibu, Ibu, Ibu ... dengarkan Shella. Shella masih ingin menjadi anak yang dimanja oleh Ibu. Jadi, Shella nggak akan pacaran," jawab Shella manja.
Bu Rasti tersenyum mendengar jawaban Shella. Sebagai seorang ibu, beliau tentu paham betul bagaimana karakter Shella. Perubahan apa yang terjadi pada Shella, bisa dengan mudah dilihatnya. Tetapi, mungkin Shella belum menyadarinya.
Shella pamit pada ibunya untuk mengantarkan pakaian ke resto, tempat Galang tinggal. Keberadaan Galang di resto, ternyata cukup membantu. Dia bisa menjadi penjaga toko menggantikan tugas pak Satpam. Bahkan gratis, tanpa bayar. Dengan ketentuan, setelah resto tutup, dia juga tidak boleh keluar dari resto.
Sejak pindah ke resto ini, pesanan dari Rafael untuk anak-anak panti di kerjakan di resto ini juga. Takutnya di warung lama, Didi tidka bisa handle. Shella datang pagi, selain mengantarkan pakaian ganti untuk Galang, juga membantu ayahnya membuat pesanan.
Shella bergegas menemui Galang dana memberikan satu tas berisi pakaian kakaknya. Galang menerimanya dengan senang hati. Hal ini menunjukkan jika Shella benar-benar wanita yang penuh perhatian. Selama Galang tinggal di resto ini, tidka ada satu kebutuhan penting yang tidak di berikan Shella. Tanpa harus meminta ataupun merengek padanya. Sejak awal kedatanganya, Shella sudah membelikan pakaian ganti yang baru yang modelnya bisa dia pakai untuk kondisi orang yang luka kai dan tangan. Kaos oblong dan celana pendek yang nyaman.
Sekarang, ketika Galang mau kuliah, Shella menyiapkan pakaian yang cocok untuk pergi kuliah meski bukan pakaian baru. Bahkan kali ini Galang merasa menjadi spesial karena Shella tidak akan memberikan barang-barang peninggalan kakaknya pada sembarang orang.
"Ini pakaian untuk kamu pakai saat pergi kuliah. Kalau memang merasa kurang bersih, kamu bisa cuci dulu. Kan sudah ada mesin cuci bukan?" ucap Shella pelan.
"Terima kasih. Oh ya, aku ingin membuat kesepakatan dengan kamu dan ayahmu," ucap Galang serius.
"Kesepakatan apa?" tanya Shella.
"Pokoknya penting. Dimana aku bisa bicara dengan ayahmu?"
"Kamu tunggu di sini aja. Aku yang akan bawa ayahku ke sini," jawab Shella.
Galang mengangguk pelan, dengan perasaan agak sedih juga. Karena sampai saat ini dia masih enggan orang mengetahui keberadaannya di resto ini.
...****************...
__ADS_1
Sambil menunggu up selanjutnya, baca juga karya temen aku.