
"Apa Kakak masih mencintainya?" Raditya menatap Lauren yang kini duduk di sofa. Wajah cantiknya terlihat cemberut.
Tampaknya Lauren masih kesal dengan kejadian tadi. Kenapa dia harus ketemu dengan Gama lagi?
"Siapa yang mencintai siapa?" jawab Lauren kesal.
Raditya tersenyum melihat sang istri. Lelaki itu mendekati Lauren, mengusap perut wanita itu yang terlihat membuncit.
Raditya tersenyum kemudian wajahnya mendekat mencium perut Lauren dengan gemas.
"Anaknya papa kalau sudah lahir ke dunia jangan kaya Mama, ya, marah-marah terus. Nanti cepet tua," ucap Raditya menirukan suara anak kecil.
Lauren yang sedang kesal menjewer telinga Raditya membuat pria itu meringis kesakitan.
"Ampun, Kak. Ampun!" Raditya meringis kesakitan, tetapi, bibirnya mengembangkan senyum.
Raditya melepaskan tangan Lauren dari telinganya kemudian mengecup lembut tangan halus Lauren yang baru saja menjewer telinganya membuat Lauren semakin kesal.
"Radit!"
"Halal, Kak. Jangankan cium tangan, cium–"
"Jaga ucapanmu!" Lauren berteriak kesal.
"Maafkan aku." Raditya duduk di sebelah Lauren. Niat hati ingin menghibur wanita itu, tetapi, Raditya justru membuat Lauren bertambah kesal.
__ADS_1
"Kenapa aku harus bertemu dengan dia lagi di sini?" keluh Lauren. wanita itu memaksa ikut dengan Raditya karena dia bosan di rumah dan ingin berjalan-jalan dengan suaminya.
Entah karena bawaan bayi atau dirinya sendiri yang merasakan. Semenjak usia kandungannya semakin bertambah, Lauren sangat tidak suka melihat Raditya pergi dari rumah.
Tidak peduli Raditya pergi ke mana, yang jelas Lauren tidak suka jika melihat lelaki yang berstatus sebagai suaminya itu pergi dari rumah dan meninggalkannya sendirian di kamar.
Namun, tentu saja Lauren tidak mungkin mengatakan pada Raditya jika saat ini dirinya tidak suka ditinggalkan oleh pria itu. Lauren maunya Raditya itu selalu dekat dengan dia. Apalagi, jika Raditya dengan lembut mengusap perut buncitnya. Rasanya sangat nyaman.
"Kita pindah ke dalam. Kakak istirahat dulu di kamar." Raditya menggenggam tangan Lauren, membawa wanita hamil itu ke dalam kamar pribadinya yang berada dalam ruangan itu.
"Berbaringlah! Aku akan mengusap perut Kakak sampai Kakak tidur." Raditya memperhatikan Lauren. Wanita berperut buncit itu naik ke atas ranjang. Terlihat kesusahan karena perut Lauren memang terlihat semakin besar di usia kandungannya tujuh bulan.
Raditya mencopot sepatunya, lelaki itu kemudian ikut berbaring di belakang Lauren yang berbaring miring membelakanginya.
Tangan Raditya terulur mengusap perut Lauren. Lelaki itu merapatkan tubuhnya agar lebih mudah melancarkan aksinya.
Lauren berdecak kesal mendengar ucapan Raditya.
"Sekali lagi kamu bilang mantan pacar, aku tidak mau lagi bicara denganmu!"
Raditya menutup mulutnya. Takut kembali salah bicara. Bisa-bisa wanita hamil itu benar-benar marah dan tidak mau bicara padanya.
"Kenapa kau tidak memecatnya saja?"
"Kalau Kakak mau aku memecatnya, nanti aku akan pecat dia."
__ADS_1
"Beneran?"
"Hmm."
"Apa alasan kamu memecatnya?" Lauren menyandarkan kepalanya pada dada bidang Raditya.
"Aku bosnya. Aku bebas memecat siapapun sesuka hatiku."
Lauren mencibir mendengar ucapan Raditya.
"Kau ingin menggunakan kekuasaanmu?"
"Kenapa tidak?" Raditya meletakkan kepala Lauren pada lengannya. Lelaki itu memeluk istrinya tanpa berhenti mengusap perut wanita itu.
"Kalau dia tidak terima kau memecatnya karena merasa tidak bersalah, apa yang akan kau lakukan?"
"Dia menggoda istri pemilik perusahaan. Apa menurut Kakak itu bukan sebuah kesalahan?"
"Rasanya, aku ingin sekali menghajarnya. Tapi, karena aku ingat Kakak sedang hamil, aku menahannya."
"Kau mengkhawatirkan aku?"
"Tentu saja aku mengkhawatirkan Kakak. Kakak istriku, calon ibu dari anak-anakku. Aku akan melindungi Kakak dengan jiwa dan ragaku."
"Radit, sepertinya kamu lupa. Bukankah kita hanya menikah secara terpaksa? Kalau aku tidak hamil, kita tidak mungkin menikah."
__ADS_1
"Kakak!"
BERSAMBUNG ....