
Raditya baru saja masuk ke dalam kamar sambil membawa sarapan untuk istrinya. Namun, dia dibuat terkejut saat melihat sang istri kini sedang duduk sambil meringis kesakitan. Tangannya mengusap-usap perut dan pinggangnya.
"Sayang, kamu kenapa?" Raditya meletakkan nampan berisi makanan itu di atas meja. Lelaki itu bergegas mendekati istri tercintanya.
"Sa–Sakit ...," ucap Lauren lirih.
"Perut kamu sakit?"
Lauren mengangguk.
"Kita ke rumah sakit sekarang!" Raditya memapah Lauren. Lelaki itu berteriak memanggil asisten rumah tangga dan sopir pribadinya.
Kedua orang yang dipanggil oleh Raditya itu dengan sigap mendekati Raditya dan segera melakukan apa yang majikannya itu perintahkan.
Bi Lastri duduk di depan sambil membawa tas berisi perlengkapan bayi dan beberapa baju Lauren. Sementara Ivan, sang sopir pribadi sigap di belakang kemudi.
Sedangkan Raditya dan Lauren duduk di kursi belakang.
Mobil mereka meluncur menuju rumah sakit. Raditya merangkul pundak istrinya yang tengah kesakitan.
"Sabar, Sayang, aku yakin, kamu pasti kuat." Raditya membisikkan kata-kata untuk menyemangati istrinya. Padahal, dalam hati, dia juga merasa sangat panik.
__ADS_1
Panik melihat wajah istrinya yang terlihat pucat dan meringis kesakitan. Seandainya bisa, Raditya ingin sekali menggantikan Lauren merasakan rasa sakit itu.
Beberapa menit kemudian, mobil mereka sampai di rumah sakit. Beberapa petugas berlarian menyambut kedatangan Raditya karena sebelumnya mereka sudah menelepon agar petugas medis bersiap karena Raditya sangat khawatir melihat keadaan istrinya.
Lauren dibaringkan di atas brankar kemudian segera dibawa menuju ruang bersalin. Raditya menunggu dengan cemas ditemani oleh Bi Lastri. Lelaki itu tidak diperbolehkan masuk ke dalam karena dokter juga Lauren melarangnya. Raditya sangat cemas dan ketakutan melihat Lauren kesakitan. Lauren takut, jika Raditya menemaninya masuk ke dalam, lelaki itu justru pingsan saat melihatnya melahirkan, apalagi, Lauren melahirkan secara normal.
Pratama dan Galang datang setengah setelah Raditya sampai di rumah sakit. Kedua pria paruh baya itu menenangkan Raditya yang terlihat kacau dengan wajah pucat. Di sebelahnya, terlihat Bi Lastri menenangkannya.
Zian tidak ikut karena bocah itu saat ini masih di sekolah. Seandainya Zian ikut, saat ini pasti dia menertawakan keadaan Raditya yang terlihat seperti anak kecil yang sedang ketakutan.
Hal itu jelas wajar akan dialami oleh para suami yang sedang menunggu istrinya berjuang antara hidup dan mati di ruang persalinan. Namun, bagi bocah tengil itu melihat penderitaan Raditya tentu saja sebuah hiburan untuknya. Kapan lagi dia melihat abangnya yang menyebalkan itu menderita.
"Papa." Raditya mendekati Pratama dan langsung memeluknya.
"Lauren, Pa. Lauren ada di dalam sana dari tadi dan belum keluar-keluar," ucap Raditya sambil menangis.
"Tenang, Radit. Kamu doakan saja semoga istri dan anakmu baik-baik saja," ucap Pratama menenangkan putranya.
"Benar, Raditya. Kamu harus tenang. Doakan Lauren agar dia bisa melahirkan anakmu dengan selamat." Galang menimpali.
Galang menatap Raditya yang justru terlebih dahulu memeluk Pratama dibandingkan dirinya yang merilis ayah kandungnya. Namun, lelaki itu tidak marah. Dia sangat tahu bagaimana Raditya sangat menyayangi Pratama karena lelaki itulah yang merawat Raditya dari bayi sampai dewasa.
__ADS_1
"Papa!" Pratama melepaskan pelukannya saat mendengar suara putrinya.
Di depan sana, terlihat Monika yang baru saja datang dengan napas terengah-engah. Sepertinya, gadis itu berlari sepanjang koridor karena itu dia terlihat kelelahan.
"Gimana, Pa? Apa kak Eren sudah melahirkan?" tanya Monika mendekati sang papa.
"Kakakmu masih di dalam sana," jawab Pratama. Netranya menatap wajah putrinya yang juga terlihat cemas.
"Semoga kak Eren dan Dede bayinya baik-baik saja."
"Amiin." Pratama dan Galang menjawab ucapan Monika bersamaan.
Raditya mendekati Galang yang duduk di kursi roda.
"Doain Lauren ya, Pa. Semoga dia bisa melahirkan anakku dengan selamat." Raditya menekuk lutut kemudian membaringkan kepalanya di pangkuan Galang.
"Iya, Nak, papa doakan semoga istri dan bayimu selamat. Papa sudah tidak sabar ingin melihat cucu papa."
"Aku juga sudah tidak sabar melihat anakku lahir ke dunia, Pa.
BERSAMBUNG ....
__ADS_1