
Pintu ruangan terbuka. Seorang dokter perempuan keluar dengan senyum mengembang pada wajahnya.
Raditya dan Monika segera mendekati dokter tersebut diikuti oleh Pratama dan Galang yang didorong oleh Bi Lastri.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dokter?"
"Istri Bapak melahirkan dengan selamat. Bayinya berjenis kelamin laki-laki," jawab dokter Sinta membuat semua orang yang ada di ruangan itu bernapas dengan lega.
"Silakan ke ruangan, Pak Raditya. Suster menunggu Anda untuk mengumandangkan Adzan di telinga anak Bapak," ucap sang dokter sebelum meninggalkan mereka semua.
"Terima kasih, Dokter."
Raditya tersenyum pada Monika dan kedua ayahnya.
"Sekarang, aku sudah menjadi seorang ayah," ucap Raditya dengan kedua mata berkaca-kaca.
"Selamat, Kak." Monika memeluk kakaknya.
"Terima kasih, Monik."
"Selamat Radit, sekarang kamu sudah menjadi seorang ayah." Pratama memeluk Raditya setelah Monika melepaskan pelukannya pada pria itu.
"Terima kasih, Pa." Raditya mengusap air matanya.
Lelaki itu kemudian mendekati Galang dan memeluk lelaki itu.
__ADS_1
"Selamat Radit. Semoga kamu bisa menjadi ayah yang baik untuk putramu. Tidak seperti ayah yang dulu meninggalkan kamu." Galang menangis haru.
"Papa juga Papa terbaik untukku meskipun datangnya terlambat. Aku sayang sama Papa."
"Terima kasih, Nak. Terima kasih karena sudah mau menerima papa." Galang kembali memeluk putranya.
"Pak Raditya." Seorang perawat memanggil Raditya.
"Iya, Suster."
Raditya mengikuti sang perawat menuju ruang bersalin. Di sana, dia melihat Lauren yang terbaring lemah di atas ranjang.
Raditya mendekati istrinya kemudian memeluknya sambil menangis.
"Terima kasih, Sayang. Terima kasih sudah berjuang untuk melahirkan anak kita ke dunia. Terima kasih ...." Raditya menangis sambil memeluk Lauren.
Kegiatan kedua sejoli itu terhenti saat sang perawat memberikan bayi mungil yang baru lahir itu.
Raditya kemudian menjalankan kewajibannya sebagai seorang ayah. Pria itu mengumandangkan adzan di telinga putranya.
Raditya menangis haru melihat bayi mungil itu.
"Terima kasih, Tuhan, karena telah memberikan anugerah yang terindah untukku."
***
__ADS_1
Setelah lebih dari tiga hari di rumah sakit, dokter mengijinkan Lauren dan bayinya pulang. Wanita itu bernapas lega karena karena akhirnya bisa pulang ke rumah setelah beberapa hari menginap di rumah sakit.
Lauren menatap putranya yang saat ini sedang terlelap setelah meminum ASI. Wanita yang kini sudah menjadi ibu itu tersenyum bahagia.
Dia sungguh sangat bersyukur melihat putranya lahir dengan sehat. Bayangan saat dia mengetahui kehamilannya terlintas di kepala Lauren.
Saat itu, dia sangat membenci dan tidak mau menerima kehamilannya. Lauren bahkan sempat ingin menggugurkan kandungannya karena merasa sangat putus asa saat itu.
Lauren sungguh tidak bisa membayangkan seandainya dulu dia mengikuti emosinya untuk menggugurkan bayi itu. Lauren pasti akan menyesal seumur hidup seandainya dulu dia benar-benar menghabisi nyawa putranya saat masih di dalam kandungan.
Wanita itu sangat bersyukur karena dulu Raditya mau bertanggung jawab atas perbuatannya. Lelaki itu bahkan berjuang keras agar Lauren mau menerimanya.
Rasa cinta dan kasih sayang Raditya yang semakin hari semakin besar membuat hati Lauren merasa tergugah. Perhatian pria itu semakin lama semakin membuat hatinya luluh dan akhirnya terjatuh pada pesonanya.
Lauren tidak bisa membohongi hatinya jika dia pun jatuh cinta pada Raditya. Bahkan saat ini, Lauren merasa kalau cintanya terhadap Raditya semakin lama semakin besar. Apalagi, setelah kehadiran putranya.
"Sayang, kenapa kamu melamun?"
Raditya yang baru saja masuk ke kamar merasa heran melihat istrinya yang melamun sambil menatap bayi mungil yang baru empat hari yang lalu lahir ke dunia.
"Aku sedang membayangkan, seandainya dulu aku mengikuti emosiku untuk melenyapkan dia saat masih berada dalam perutku, aku pasti akan sangat menyesal." Lauren menatap Raditya dengan kedua mata berkaca-kaca.
"Sayang, maafkan aku. Aku yang bersalah. Kalau bukan karena aku, kamu pasti tidak akan pernah punya niat untuk menghilangkan dia saat masih dalam kandungan. Maafkan aku, Sayang ...." Raditya memeluk Lauren dengan erat.
"Aku sangat berterima kasih padamu karena kamu tetap mempertahankan dia. Aku sangat bahagia karena sekarang aku bisa melihatnya lahir ke dunia," ucap Raditya membuat Lauren kembali menangis.
__ADS_1
"Terima kasih, Sayang. Aku berjanji padamu kalau aku akan menjadi ayah yang baik untuk anak kita."
BERSAMBUNG ....