
Gama tertawa mendengar ucapan Raditya.
"Jadi, bocah menyebalkan itu adalah adikmu?" Gama kembali tertawa mengejek.
"Bagaimana rasanya berhubungan dengan perempuan yang juga ditiduri oleh ayahmu sendiri? Apa rasanya sangat menyenangkan?"
"Brengsek!" Raditya mengepalkan tinjunya. Rasanya, dia ingin sekali menonjok pria di hadapannya itu.
"Bagaimana kabar Lauren? Apa dia baik-baik saja?" Gama kembali berucap membuat Raditya mengeraskan rahangnya saat mendengar lelaki itu menyebut nama istrinya.
"Jangan sebut nama istriku dengan mulut kotormu itu, Brengsek!" teriak Raditya.
"Kenapa? Apa kamu cemburu?" Gama tertawa membuat Raditya semakin kesal.
"Perempuan yang menjadi istrimu itu adalah mantan pacarku. Dia begitu tergila-gila padaku. Aku sungguh sangat menyesal karena dulu pernah meninggalkannya." Gama kembali tersenyum saat melihat wajah Raditya yang memerah menahan amarah.
"Aku ke sini karena ingin bertemu dengan Kinara dan Zian. Bukan untuk membahas istriku!"
"Gara-gara istrimu, tua bangka itu memecatku! Kalau bukan karena Lauren, aku pasti masih bekerja di sana sekarang. Apa kau tahu, tua bangka sialan itu telah memasukkan aku ke daftar hitam hingga semua perusahaan yang aku datangi tidak mau menerimaku!" teriak Gama.
"Kamu sendiri yang terus mengganggu Lauren. Kalau kamu tidak mengganggunya, papaku juga tidak akan memecatmu! Seharusnya kamu merasa beruntung karena papaku memecatmu, kalau tidak, aku pasti sudah melenyapkan kamu karena telah berani mengganggu istriku dan membuatnya ketakutan!" Raditya menatap tajam pada lelaki di hadapannya.
Amarahnya bangkit saat mengingat bagaimana lelaki itu mengganggu istrinya tanpa dia ketahui. Seandainya saat itu tidak ada Galang, Lauren pasti sudah dilecehkan oleh pria yang dulu pernah menjadi kekasihnya.
__ADS_1
"Aku merindukan istrimu karena itu aku selalu mendekatinya Biar bagaimanapun dulu Lauren sangat mencintaiku. Aku yakin, dalam lubuk hati yang paling dalam istrimu itu pasti masih sangat mencintaiku aku masih ingat dengan benar saat dia menangis karena mengetahui aku menikah dengan perempuan lain saat dia masih berstatus sebagai kekasihku."
Wajah Gama terlempar ke samping saat tinju Raditya mengenai wajahnya.
"Bajingan! Lelaki sialan! Setelah ini, aku akan benar-benar membunuhmu!" teriak Raditya.
Laki-laki itu sudah ingin menerjang Raditya. Tetapi, seseorang yang datang bersamanya sambil membawa koper, menahan lengan Raditya.
Ditambah lagi, Kinara juga datang bersama dengan Zian di sampingnya. Anak lelaki berusia hampir sembilan tahun itu terlihat baik-baik saja. Namun, dari tatapan matanya, Raditya sangat tahu jika adiknya itu sedang menyimpan amarah.
"Akhirnya, kamu datang juga, Raditya." Kinara tersenyum menatap Raditya. Perempuan itu merangkul Zian yang menatapnya tajam.
Zian sangat marah karena telah dibohongi oleh wanita yang telah melahirkannya itu. Bocah lelaki itu sungguh tidak mengira kalau ibu kandungnya itu tega menculiknya.
Ya! Zian menyadari jika dirinya diculik saat dia tahu-tahu sudah berada di dalam sebuah kamar yang terkunci.
Lelaki itu meminta Kinara menaikkan uang tebusannya yang awalnya hanya satu miliar menjadi dua miliar. Mendengar itu, Zian sangat marah. Bocah lelaki itu mengamuk hingga membuat Gama murka. Lelaki yang pernah menjadi kekasih Lauren itu kemudian mengikat Zian agar anak itu tidak lagi berteriak dan mengamuk.
"Aku datang untuk memenuhi keinginanmu, wanita sialan!" Raditya menatap Kinara dengan penuh kebencian.
Dulu, dia sangat membenci wanita itu karena telah mengkhianati cintanya. Kini, kebencian Raditya bertambah saat wanita itu kembali membuat ulah dengan cara menculik Zian. Anak lelaki yang merupakan anak Kinara sendiri.
Kejahatan wanita itu sudah tidak bisa dimaafkan.
__ADS_1
Kinara tersenyum mendengar ucapan Raditya yang menghinanya.
"Terima kasih atas pujianmu, Raditya. Kamu jangan lupa, wanita sialan ini adalah ibu dari adikmu. Itu artinya, aku adalah ibu tirimu," ucap Kinara dengan percaya diri.
"Ibu tiriku? Kamu jangan bermimpi, Kinara. Kamu bahkan belum menikah dengan ayahku!" Raditya tersenyum sinis.
"Lagipula, tidak ada ibu kandung yang tega menculik anaknya sendiri. Binatang saja masih jauh lebih baik dari kamu, Kinara. Mereka menyayangi anaknya, tidak seperti kamu, manusia tapi kelakuan kamu bahkan jauh lebih buruk dari binatang!"
"Kau!" Kinara berteriak marah.
"Serahkan Zian padaku, aku sudah membawa uang yang kamu minta." Zian melirik pada lelaki di sebelahnya yang menganggukkan kepala.
Lelaki itu menenteng koper berisi uang tebusan yang diminta Gama dan Kinara. Koper itu diletakkan di atas meja kemudian dia buka.
Kedua mata Kinara berbinar saat melihat uang yang sangat banyak dalam koper tersebut. Perempuan itu kemudian melepaskan rangkulannya pada pundak Zian dan menyerahkan bocah kecil itu pada Raditya.
Namun, sebelum Zian sampai pada Raditya, Gama terlebih dahulu menarik bocah itu kemudian mengancamnya dengan benda tajam yang diam-diam dia keluarkan dari saku celananya.
Benda tajam itu berkilat menempel pada leher Zian.
Zian dan Kinara yang tidak menyangka kalau Gama berbuat nekad sangat terkejut melihat pria itu menyandera Zian.
"Brengsek! Lepaskan Zian! Aku sudah memberikan apa yang kamu minta, kenapa kamu masih menganggu Zian, Brengsek!" Raditya berteriak marah.
__ADS_1
"Kau pikir, aku menculik adikmu hanya demi uang? Aku menculiknya untuk membalas dendam pada ayahmu! Anak ini harus mati di tanganku agar lelaki itu tahu bagaimana rasanya ditinggal oleh orang yang kita sayangi!"
BERSAMBUNG ....