CINTA SEMALAM

CINTA SEMALAM
MIMPI BURUK


__ADS_3

Kinara dan Gama ditangkap polisi. Mereka berdua resmi ditahan akibat perbuatan mereka. Mereka bukan hanya dituduh atas tindakan penculikan tetapi, juga dituduh atas pembunuhan berencana terhadap sopir pribadi Zian yang mengalami kecelakaan.


Dari hasil penyelidikan polisi, Gama dan Kinara terbukti melakukan pembunuhan berencana terhadap sopir pribadi Galang dan penculikan terhadap Zian.


Galang, sebagai ayah korban menuntut Kinara dan Gama dihukum seberat-beratnya atas perbuatan mereka yang telah menculik Zian dan mencelakai sopir pribadinya.


Pria paruh baya itu tidak akan membiarkan dua orang itu lepas begitu saja. Seandainya mereka berdua sampai selamat dari jeratan hukum, maka Galang sendiri yang akan menghukum mereka dengan tangannya. Kinara dan Gama sudah melukai Zian. Dia tidak akan membiarkan kedua orang itu lolos begitu saja.


Sementara itu, setelah beberapa waktu berlalu, keadaan Zian mulai membaik. Luka pada lehernya memang membaik setelah tiga hari dan bahkan sembuh total kurang dari sebulan.


Namun, luka di hatinya dan rasa trauma akibat perbuatan Kinara dan Zian tentu saja butuh waktu lama untuk menyembuhkannya.


Zian merasa ketakutan setiap kali melihat benda tajam yang sama seperti yang Gama gunakan untuk menyanderanya saat itu. Zian juga selalu ketakutan saat melihat wanita asing seumuran Kinara yang mendekatinya, termasuk asisten rumah tangga yang bekerja di rumah besar Galang.


Akibatnya, Galang memindahkan beberapa asisten rumah tangganya yang berjenis kelamin perempuan ke rumah Raditya untuk sementara dan menggantinya dengan asisten rumah tangga laki-laki termasuk koki yang nantinya akan menyiapkan makanan untuk mereka.


Galang tidak tega memecat asisten rumah tangganya karena mereka sudah bekerja lama di rumahnya. Oleh karena itu, dia menitipkan mereka semua pada Raditya.


Raditya tidak merasa keberatan. Dia malah senang saat Galang memberinya empat orang asisten rumah tangga sekaligus. Raditya memang sedang membutuhkan beberapa orang untuk menemani Lauren dan Arsenio. Dia tidak mau istri cantiknya itu kelelahan mengurus putranya.


Pekerjaannya yang mulai padat membuat Raditya terkadang harus pulang malam. Namun, terkadang dirinya juga membawa pulang pekerjaannya seperti dulu saat dirinya bekerja di rumah karena tidak tega meninggalkan Lauren sendirian.

__ADS_1


Zian berteriak kaget saat mimpi buruk kembali hadir dalam tidurnya. Bocah lelaki itu meringkuk sambil menutupi tubuhnya dengan selimut. Wajahnya terlihat ketakutan.


Bayangan saat sang ibu menyekapnya di kamar hingga akhirnya berakhir disandera oleh Gama dan membuatnya terluka kembali terlintas.


Zian sungguh tidak menyangka kalau wanita yang melahirkannya itu begitu tega menculiknya hanya demi sejumlah uang. Perempuan itu bahkan bekerja sama dengan Gama untuk menyanderanya.


Mengingat itu semua, tubuh Zian bergetar ketakutan.


Seorang lelaki yang bertugas menjaga Zian segera masuk ke dalam kamar saat mendengar teriakan anak majikannya. Lelaki bernama Danu itu mendekati Zian yang meringkuk ketakutan di atas ranjang.


"Den, Den Zian." Danu membuka selimut kemudian memeluk Zian yang terlihat ketakutan.


"Tenang, Den, tenang!" Danu mengusap punggung Zian yang bergetar.


Lelaki berusia tiga puluh tahun itu sungguh sangat prihatin dengan keadaan Zian. Bocah lelaki itu terlihat begitu tersiksa dengan mimpi buruk yang hampir setiap hari menyiksanya.


"Tenang, Den Zian aman bersama saya. Tidak akan ada lagi orang yang akan berani macam-macam sama Den Zian. Saya akan melindungi Den Zian dari orang-orang jahat itu." Danu berkata panjang lebar.


"Kenapa kenangan buruk itu selalu datang menggangguku? Aku sudah berusaha melawannya, tapi aku terlalu lemah!"


"Den Zian tidak lemah. Den Zian kuat, karena itu Den Zian harus terus melawan rasa takut yang menyerang. Orang-orang jahat itu sudah menerima balasan atas perbuatannya.

__ADS_1


Den Zian harus bangkit, harus kuat. Lawan terus rasa takut itu. Bukankah Den Zian selama ini tidak takut pada apapun kecuali papa Galang?"


Zian mengangguk. Dia memang masih kecil, tetapi, sebelum kejadian itu, Zian memang tidak pernah takut pada apapun kecuali pada Galang. Zian akan menuruti semua keinginan papanya. Anak lelaki itu sangat penurut saat di depan ayahnya.


Galang adalah kebahagiaan yang Zian dapatkan setelah sang ibu meninggalkannya. Oleh karena itu, Zian selalu menurut pada pria paruh baya itu karena dia takut Galang akan meninggalkannya seperti saat Kinara meninggalkannya.


Zian sangat menyayangi Galang. Dalam hati, dia selalu berjanji kalau dia tidak akan membuat Galang marah padanya.


"Zian."


"Papa." Zian bangkit kemudian mendekati sang papa yang datang menggunakan kursi roda ditemani seseorang yang biasa merawatnya.


Zian memeluk pria paruh baya itu dan menumpahkan tangisnya di sana.


"Ada apa? Apa mimpi buruk itu datang lagi mengganggumu?" Galang mengusap punggung putranya. Membiarkan jagoan kecilnya itu menangis.


Dalam hati, ia mengutuk Kinara dan Galang habis-habisan karena telah menyebabkan putra kesayangannya menjadi seperti ini.


Zian mengangguk pelan dalam tangisnya. "Kenapa aku tidak bisa melawannya, Pa? Aku sudah berusaha untuk melawan rasa takut itu, tapi aku tetap saja tidak bisa."


"Kamu pasti bisa, Sayang, kamu kuat. Memang rasanya sangat berat, tapi papa yakin, kamu pasti bisa."

__ADS_1


"Papa."


BERSAMBUNG ....


__ADS_2