CINTA SEMALAM

CINTA SEMALAM
DITANGKAP POLISI


__ADS_3

Kinara sangat terkejut saat beberapa petugas berseragam polisi kini menodongkan senjata ke arahnya. Wanita itu terlihat panik dan ketakutan.


"Jangan bergerak! Anda kami tangkap atas tuduhan penculikan!" Seorang polisi berusia sekitar tiga puluh tahunan menodongkan senjata ke arah Kinara, sementara dua orang lainnya langsung meringkus perempuan itu kemudian memborgol kedua tangannya.


Kinara meronta sambil berteriak histeris karena tak menyangka kalau polisi tiba-tiba datang menangkapnya. Kinara sungguh tidak tahu kalau Raditya membawa polisi saat memberikan uang tebusan yang ia minta.


Kinara menatap Raditya dengan penuh amarah. Perempuan itu terus mengumpat dan memaki Raditya.


"Brengsek, kau, Raditya!"


Raditya tersenyum sinis. "Kau pikir, aku akan membiarkanmu menikmati uang papaku dengan cara menyandera adikku? Wanita sepertimu lebih pantas membusuk di penjara daripada hidup bebas tapi hanya bisa menjadi sampah masyarakat!


Aku sungguh menyesal karena pernah mengenal wanita keji seperti kamu! Wanita yang tega menculik anaknya sendiri hanya demi uang. Kau benar-benar wanita iblis!"


"Radit–"

__ADS_1


"Kau lihat akibat perbuatanmu? Lihat!" teriak Raditya sambil menunjuk ke arah leher Zian yang terluka. Darah bahkan masih mengalir dari kulit lehernya yang tergores benda tajam.


Kinara menangis.


"Radit, aku sungguh tidak tahu kalau Gama akan melukai Zian. Aku hanya menyuruhnya untuk membawa Zian ke apartemen. Aku sungguh tidak tahu kalau dia mempunyai dendam pribadi pada Galang. Aku–"


"Tutup mulutmu, Kinara! Mulai hari ini dan detik ini juga, aku tidak akan pernah mengijinkanmu menyentuh Zian! Anggap saja, mulai hari ini hubungan kalian sebagai ibu dan anak putus!"


"Radit." Kinara menggeleng pelan. Dia sungguh sangat menyesal karena telah melakukan sesuatu yang membahayakan Zian. Kinara memang ingin menculik Zian, tetapi, dia tidak ada niatan mencelakai anak itu. Dia hanya ingin memanfaatkan Zian untuk mendapatkan uang dari Galang.


Raditya menggendong Zian dan bergegas keluar dari apartemen Kinara.


"Zian, maafkan mama, Nak. Maaf!" ucap Kinara saat Zian menatapnya dengan tatapan kecewa dan terluka.


"Zian!"

__ADS_1


Kinara menangis menatap Raditya dan Zian yang menjauh dari pandangannya. Kedua lelaki beda generasi itu pergi meninggalkan rasa penyesalan di hati Kinara.


Penyesalan memang selalu datang terlambat. Seandainya penyesalan datang duluan, mungkin tidak akan ada orang yang akan melakukan kesalahan.


"Maafkan mama, Zian." Air mata Kinara turun. Perempuan itu berhenti memberontak saat polisi menggelandangnya keluar dari apartemen miliknya.


Di belakang Kinara, Gama terus memaki Raditya dan Galang. Sama seperti Kinara, dia pun tidak menyangka kalau Raditya membawa polisi saat datang ke apartemen. Lelaki yang membawa koper itu ternyata adalah seorang polisi yang menyamar sebagai orang suruhannya Raditya.


Awalnya, Gama memang sudah menduga seberapa kuat pengaruh Galang. Lelaki itu pasti tidak akan membiarkan orang yang menculik putranya lolos begitu saja. Namun, saat dirinya menyandera Zian, Gama merasa di atas angin sehingga dia lupa kalau saat ini dirinya sedang berhadapan dengan siapa.


Apalagi, saat melihat Raditya yang begitu cemas saat melihatnya menyandera Zian. Bocah lelaki yang tidak bersalah sama sekali, tetapi, justru menjadi korban keserakahan ibunya dan menjadi pelampiasan amarahnya karena ingin membalas dendam pada ayah anak itu.


"Brengsek, kau Raditya!"


BERSAMBUNG ....

__ADS_1


__ADS_2