CINTA SEMALAM

CINTA SEMALAM
JANGAN BERGERAK!


__ADS_3

"Bajingan! Lepaskan adikku, Brengsek!" Raditya berteriak marah.


Namun, Gama bukannya menuruti ucapan Raditya, lelaki itu justru semakin menempelkan benda tajam itu pada leher Zian.


Bocah lelaki itu terlihat kaget dan ketakutan. Biar bagaimanapun, Zian baru berusia hampir sembilan tahun. Meskipun terkadang anak itu bersikap dewasa, tetap saja, Zian masihlah anak-anak.


Kedua mata Zian menatap Raditya dengan penuh permohonan. Bocah lelaki itu sangat berharap sang kakak bisa menyelamatkannya. Dia baru saja merasakan kebahagiaan bersama ayah kandungnya. Zian sungguh takut jika dirinya tidak bisa lagi bertemu dengan Galang.


Raditya menatap sang adik dengan rasa panik. Dia takut, Gama benar-benar nekad menghabisi Zian. Lelaki itu terlihat begitu menyimpan dendam pada ayahnya.


"Gara-gara ayahmu, ayahku meninggal dunia! Kalau saja aku masih bekerja di perusahaanmu, aku pasti bisa membayar biaya operasi ayahku. Gara-gara tua bangka itu memecatku, aku tidak mempunyai uang untuk biaya rumah sakit. Sialan! Kamu dan ayahmu memang brengsek!" Gama mengungkapkan kekesalannya.


Sejak dirinya dipecat oleh Galang, Gama susah mencari pekerjaan. Semua uang tabungannya habis untuk biaya hidupnya selama menjadi pengangguran. Saat ayahnya dirawat di rumah sakit dan mengharuskannya dioperasi, Gama yang menjadi tulang punggung keluarga walaupun dirinya sudah menikah, tidak mempunyai uang untuk biaya operasi hingga akhirnya sang ayah dinyatakan meninggal dunia.

__ADS_1


Sementara itu, perempuan yang ia pilih sampai dia tega mengkhianati Lauren justru kabur setelah mengetahui kalau dia jatuh miskin.


Gama menyalahkan Galang atas kejadian yang menimpanya. Seandainya saja Galang tidak memecatnya, dia pasti masih bisa merasakan hidup enak. Bukan hanya Galang yang dia salahkan, Lauren pun ikut dia salahkan karena menjadi penyebab Galang memecatnya secara tidak hormat.


Gama tidak sadar, kalau semua kesalahan berawal dari dia. Seandainya saja dia tidak menggangu Lauren dan berniat melecehkan wanita hamil itu, Galang pasti tidak akan marah dan langsung memecatnya dengan tidak hormat.


"Jadi, kau menyalahkan ayahku atas apa yang sudah menimpa keluargamu?" Raditya menatap tajam ke arah Gama.


"Dengar, Brengsek! Papaku tidak akan marah kalau kau tidak menggangu istriku! Kau hampir saja melecehkan istriku yang sedang hamil sampai-sampai Lauren ketakutan.


Bayangan saat Lauren menangis ketakutan karena hampir saja diperkosa oleh Gama kembali terlintas.


"Seharusnya aku menghabisimu dari semenjak lama, Bajingan!" Raditya kembali berteriak.

__ADS_1


Gama tertawa mendengar makian Raditya.


"Terserah apa yang mau kamu katakan, Raditya! Yang jelas, aku hanya ingin tua bangka itu merasakan apa yang kurasakan saat aku kehilangan papaku dan juga istriku!" Benda tajam mengkilap itu menggores leher Zian membuat Raditya kembali berteriak.


Amarahnya semakin naik saat dia melihat darah yang mengalir pada leher adiknya.


"Sialan, kau, Gama!" Raditya dengan cepat menendang kaki Gama saat Zian yang meringis kesakitan menggerakkan tubuhnya ke samping hingga menyebabkan lehernya kembali tergores oleh benda tajam itu.


Benda tajam itu terlepas dari tangan Gama saat Raditya menendang kaki depannya. Lelaki itu memekik kesakitan kemudian terjatuh sambil memegangi kakinya.


Raditya menarik Zian dan langsung memeluknya. Kinara yang sedari tadi masih syok saat melihat Gama menyandera Zian merasa terkejut saat tiba-tiba dari arah pintu terlihat beberapa orang berseragam polisi masuk ke dalam. Sedangkan pria yang datang bersama Zian dan beberapa saat yang lalu menunjukkan uang tebusan padanya kini sudah menodongkan senjata api ke arah Gama.


"Jangan bergerak!"

__ADS_1


BERSAMBUNG ....


__ADS_2