CINTA SEMALAM

CINTA SEMALAM
RUMAH SAKIT


__ADS_3

Mobil yang dikendarai oleh Raditya sudah sampai di depan rumah sakit. Hari ini mereka akan melakukan pemeriksaan kehamilan.


Raditya dan Lauren berjalan beriringan. Sesekali, Raditya melingkarkan tangannya pada pinggang istrinya. Menanyakan pada perempuan hamil itu apakah dia merasa lelah saat berjalan atau tidak.


Pasalnya, Raditya melihat wajah Lauren pucat dan terlihat kelelahan. Semakin bertambah usia kehamilan, Lauren semakin terlihat gampang lelah membuat Raditya merasa khawatir.


Mereka berdua duduk di ruang tunggu. Di depan ruangan dokter kandungan itu banyak sekali orang yang sudah mengantre. Beruntung, Raditya sudah terlebih dahulu mendaftar. Jadi, mereka tidak terlalu lama mengantre.


"Ibu Lauren Pratama." Suara sang perawat memanggil Lauren.


Raditya membantu Lauren bangun dari duduknya. Lelaki itu menggandeng istrinya masuk ke dalam ruangan dokter.


Dokter wanita bernama Lusi tersenyum menyambut kedatangan suami istri itu. Setelah Lauren mengatakan beberapa keluhan yang dialaminya, Dokter Lusi menyuruh Lauren berbaring di atas brankar, kemudian dokter kandungan itu mulai memeriksa Lauren.


Selesai Dokter Lusi memeriksa detak jantung sang bayi, seorang perawat membantu membuka baju Lauren sampai ke bagian perut. Sementara, bagian tubuh bawahnya ditutup dengan selimut.


Perawat itu mengoleskan gel pada perut Lauren, kemudian dilanjutkan oleh sang dokter yang langsung menempelkan transducer di atas perut kemudian menggerakkannya.


Gelombang dari transducer direkam dan diubah menjadi gambar pada layar monitor.

__ADS_1


Kedua mata Raditya dan juga Lauren berkaca-kaca saat dokter menjelaskan tentang bayi mereka.


"Perkembangannya sangat bagus, ukuran bayinya juga bertambah, detak jantungnya juga normal," ucap Dokter Lusi sambil tersenyum.


"Posisi plasenta dan juga jumlah cairan ketubannya juga bagus," lanjut Dokter Lusi.


Wanita itu menyelesaikan pemeriksaan. Sang perawat kembali merapikan baju Lauren setelah membersihkan gel yang menempel di kulit perutnya.


Lauren bangkit dari ranjang dengan hati-hati dibantu oleh Raditya.


"Pelan-pelan." Raditya membantu Lauren turun dari ranjang. Mereka berdua kemudian duduk di depan Dokter.


"Bayinya sehat, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kelelahan memang seringkali terjadi pada usia kehamilan ke delapan. Jadi, tenang saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan."


"Saya kasih resep vitamin untuk Ibu Lauren. Jika ada keluhan lagi, segera bawa ke dokter, jangan ditunda. Apalagi, kandungannya sudah berusia delapan bulan."


"Baik, Dokter. Terima kasih." Lauren dan Raditya menyalami Dokter Lusi sebelum keluar dari ruangan itu.


"Kakak lelah?" Raditya memperhatikan Lauren. Tangan pria itu merangkul pinggang Lauren.

__ADS_1


"Kalau Kakak lelah, kita istirahat dulu di rumah sakit, gimana? Kita pesan kamar satu buat Kakak istirahat," lanjut Raditya karena istrinya tidak menjawab pertanyaannya.


Mendengar ucapan Raditya, Lauren menatap jengah pada pria itu.


"Kamu pikir ini hotel?" Lauren berdecak kesal.


"Atau, jangan-jangan, kamu mendoakan aku sakit biar aku dirawat di rumah sakit?"


"Mana ada aku mendoakan Kakak sakit? Justru karena aku tidak mau Kakak sakit makanya aku suruh Kakak istirahat dulu."


"Istirahat di rumah sakit? Kamu sudah gila ya, kamu mau aku istirahat bersama orang-orang yang sedang sakit di sini?" Lauren semakin kesal mendengar ucapan Raditya.


Raditya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Melihat beberapa orang memperhatikannya, Raditya merangkul Lauren kemudian bergegas melangkah keluar dari rumah sakit.


"Dasar menyebalkan!" sungut Lauren kesal.


"Mana ada orang nyewa kamar buat istirahat di rumah sakit. Memangnya aku orang sakit?" batin Lauren. Ia sungguh sangat kesal dengan Raditya.


Raditya membukakan pintu mobil untuk Lauren. Namun, saat dirinya ingin menutup pintu mobil, netranya tidak sengaja melihat seseorang yang sangat dikenalnya.

__ADS_1


"Dara ...."


BERSAMBUNG ....


__ADS_2