
Raditya merasa bahagia dengan kehadiran putranya. Arsenio Putra Pratama adalah nama yang dipilih oleh Raditya dan Lauren. Nama itu adalah perpaduan dari nama panjang dua kakeknya, yaitu Galang Putra Erlangga dan Pratama.
Biar adil, Raditya mengambil nama dari kedua kakeknya untuk nama panjang putranya. Raditya tidak mau kedua papanya itu merasa iri hanya karena salah satu dari mereka saja yang namanya dipakai untuk nama panjang Arsenio, putranya.
Semua orang juga sangat tahu bagaimana antusiasnya kedua laki-laki paruh baya yang sudah menjadi kakek itu. Mereka berdua bahkan tidak segan-segan berebut saat ingin menggendong cucunya.
Entah kenapa, setiap kali Pratama datang ke rumah Raditya untuk melihat Arsenio, Galang juga tiba-tiba datang menjenguk putranya. Alhasil, Galang dan Pratama pasti akan sedikit berdebat dan berebut memberikan perhatian pada Arsenio yang kini sudah berusia hampir dua bulan.
Terkadang, Raditya merasa heran, kenapa kedua kakeknya Arsenio itu selalu datang berbarengan. Jika memang mereka janjian datang bersama-sama, kenapa mereka harus berdebat saat bertemu?
"Sayang, aku heran deh, kenapa mereka selalu bertengkar setiap bertemu?" Raditya memeluk Lauren dari belakang kemudian mencium pipi wanita itu.
"Entahlah! Aku juga heran. Sampai warna mata segala mereka perdebatkan. Bukan hanya itu, mereka juga sama-sama narsis membandingkan ketampanan mereka dengan Arsenio." Lauren mengembuskan napas panjang.
Tidak mengerti dengan kedua kakek yang saat ini sedang berdebat di depan Arsenio yang terlelap setelah meminum ASI. Beruntung, Arsenio tidak terganggu sama sekali dengan suara kedua kakeknya itu.
"Mungkin karena mereka terlalu senang dengan kehadiran Arsen, sampai-sampai mereka begitu antusias." Raditya tersenyum melihat Pratama berdebat dengan Galang.
__ADS_1
"Ini sudah hampir dua bulan, lho, Dit. Masa iya, mereka masih memperdebatkan masalah yang nggak penting sama sekali." Lauren cemberut. Terkadang dirinya merasa terganggu karena kedua lelaki paruh baya itu terkadang tidak tahu tempat saat berdebat. Seperti saat ini, masa mereka berdua berdebat di depan Arsenio yang sedang tertidur.
Lauren merasa kesal. Namun, detik berikutnya dia tertawa pelan saat melihat Pratama dan Galang saling mengejek satu sama lain.
Raditya yang sedang memeluk Lauren dari belakang, mengeratkan pelukannya.
"Tapi lama-lama mereka lucu juga, ya." Raditya ikut tertawa. Lelaki itu mencium pipi Lauren berkali-kali.
"Terima kasih, Sayang. Terima kasih karena sudah memberikan kebahagiaan sebesar ini untukku dan papa kita." Raditya mengecup lembut bibir istrinya.
"Kamu benar, Sayang, Tuhan telah banyak memberikan kita nikmat. Apa kamu tahu? Perusahaanku sekarang semakin maju. Aku bahkan berencana ini ingin membuka perusahaan baru nanti."
"Benarkah?"
"Iya, Sayang." Raditya kembali mencium pipi wanita itu.
"Tapi, kenapa harus membuka perusahaan baru? Bukankah membuka perusahaan baru itu memerlukan modal yang sangat banyak?"
__ADS_1
"Buat persiapan, Sayang. Kamu lupa apa yang dikatakan Zian? Saat dia dewasa nanti, perusahaan itu mau tidak mau akan aku serahkan padanya. Dia juga putranya papa. Zian berhak atas apa yang aku miliki sekarang."
Lauren menganggukkan kepala saat mendengar penjelasan Raditya.
"Aku ingin mempersiapkan masa depan Arsenio dari sekarang. Aku akan bekerja keras agar anak-anak kita tidak kekurangan di masa mendatang."
"Raditya ...." Lauren sungguh tidak bisa berkata apa-apa. Wanita itu menatap Raditya dengan kedua mata berkaca-kaca.
"Terima kasih."
"Aku yang seharusnya berterima kasih padamu. Kamu adalah penyemangatku hingga aku sampai berada di titik ini. Aku bangga dan sangat bahagia karena mempunyai istri seperti kamu," ungkap Raditya dengan penuh cinta.
"Aku mencintaimu." Raditya mempererat pelukannya. Mengungkapkan perasaan cintanya untuk Lauren yang semakin hari semakin besar.
"Berjanjilah padaku kalau kamu akan selalu berada di sisiku, Eren."
BERSAMBUNG ....
__ADS_1