
Galang mengepalkan kedua tangannya. Rahangnya mengeras menahan amarah yang merasuki hatinya.
"Brengsek! Berani-beraninya kau menculik putraku!" Galang berteriak marah. Lelaki itu menatap ke arah anak buahnya.
"Siapkan uang dan datangi mereka!"
"Papa mau memberikan uang tebusan pada Kinara?" Raditya menatap lelaki paruh baya yang duduk di kursi roda itu dengan tatapan tak terbaca.
"Aku hanya tidak ingin terjadi apa-apa pada adikmu, Radit. Dia masih terlalu kecil untuk mengalami hal seperti ini. Bagaimana bisa Kinara tega menculik anaknya sendiri?"
Galang sungguh tidak menyangka kalau wanita itu bisa berbuat hal rendah hanya demi mendapatkan uang.
Raditya membenarkan ucapan sang papa.
"Pergi temui dia dan laki-laki yang bekerja sama dengan dia. Kerahkan semua orang-orangmu dan tangkap dia. Jangan lupa bawa polisi bersamamu, Radit!"
"Pa!"
"Papa yakin, Kinara dan lelaki itu hanyalah amatiran. Mereka tidak akan macam-macam. Hanya saja, kita harus tetap berhati-hati. Bisa saja mereka nekad melukai Zian."
"Uang yang diminta lumayan banyak. Dua miliar bukan jumlah yang sedikit.
Meskipun uang itu tidak ada apa-apanya dibandingkan keselamatan Zian, tapi, sayang juga jika harus memberikan uang itu pada wanita jahat seperti Kinara."
__ADS_1
Raditya menatap sang papa yang menganggukkan kepala.
"Kamu benar, Radit. Tapi, untuk sekarang yang terpenting adalah keselamatan Zian. Uang itu bisa kamu cari dalam waktu sehari. Tidak apa-apa jika memang kita harus kehilangan uang itu."
Raditya menganggukkan kepala.
"Sekarang pergilah!"
"Baik, Pa."
Raditya berlalu dari hadapan Galang. Lelaki itu pergi bersama dengan beberapa anak buah Galang.
"Jangan salahkan aku jika kali ini aku benar-benar akan menghancurkanmu, Kinara," batin Galang.
Dia tidak pernah menyangka jika wanita yang pernah dicintainya di masa lalu itu bukan hanya licik dan jahat. Akan tetapi, dia juga wanita yang sangat nekad. Bagaimana mungkin seorang ibu kandung tega menculik anaknya sendiri? Kinara bahkan meminta uang dua miliar sebagai uang tebusan.
Dulu, kamu memberikan Zian padaku dan menukar anak itu dengan sejumlah uang sebagai syarat hak asuh Zian. Kini, kau menculiknya demi sejumlah uang. Apa di dalam kepalamu hanya ada uang dan uang saja? Tidakkah terselip di hatimu sedikit saja rasa kasih sayang untuk anakmu?"
Galang menghela napas panjang. Wajah Zian dan tingkah laku anak lelakinya itu kembali terbayang.
"Kamu tenang saja, Zian. Kakakmu akan menyelamatkan kamu." Galang kembali menghela napas panjang. Kedua matanya berkaca-kaca.
"Tuan, sebaiknya Tuan beristirahat dulu." Seseorang yang selama ini merawat Galang mendekati pria paruh baya itu.
__ADS_1
"Seandainya aku tidak cacat, aku pasti akan menyelamatkan putraku dengan tanganku sendiri, Arman."
"Iya, Tuan. Saya tahu, Tuan pasti akan melakukan apapun demi keselamatan putra Tuan. Tuan tenang saja, Den Raditya juga sudah cukup bisa diandalkan. Kehebatannya hampir setara dengan Tuan," terang lelaki yang disebut Arman itu.
"Kamu benar, Arman. Aku yakin, Raditya pasti berhasil menyelamatkan adiknya."
Arman mengangguk mendengar ucapan Galang.
"Ayo kita istirahat, Tuan!"
***
Raditya dan anak buahnya sampai di tempat Kinara. Mereka tiba di sebuah apartemen yang ditunjukkan oleh wanita itu.
Sesuai keinginan Kinara, wanita itu memang membawa Zian tinggal di apartemennya agar bocah lelaki itu merasa aman.
Raditya menekan bel berkali-kali. Beberapa saat kemudian, pintu apartemen terbuka.
Raditya tampak terkejut saat melihat siapa yang ada di hadapannya saat ini.
"Kamu?!
"Selamat datang, Pak Raditya."
__ADS_1
"Jadi, kamu adalah dalang penculikan adikku?"
BERSAMBUNG ....