CINTA SEMALAM

CINTA SEMALAM
KELUAR KOTA


__ADS_3

Raditya mencium kening Lauren dan mencium bibir wanita itu sekilas.


"Aku pergi dulu. Hati-hati di rumah." Raditya memeluk istrinya. Lelaki itu kemudian berlutut mencium perut buncit istrinya.


"Sayangnya papa, kamu jangan nakal ya, sama mama. Papa pergi dulu, jagain Mama ya, Sayang." Raditya kembali mencium perut Lauren setelah berbicara dengan anak dalam perut istrinya.


"Monika dalam perjalanan ke sini. Kakak tunggu saja nanti di rumah ya," ucap Raditya mengusap rambut Lauren.


"Aku berangkat." Lauren mengangguk.


"Hati-hati." Raditya kembali mendekat kemudian mencium bibir Lauren yang tidak ditolak sama sekali oleh Lauren.


"Aku pasti akan merindukan Kak," ucap Raditya setelah melepaskan ciumannya.


Lauren tersenyum tipis. Dia juga merasa berat berpisah dengan Raditya. Selama menikah dengan pria itu, Raditya selalu bersamanya. Pekerjaan kantor saja sampai dibawa ke rumah kecuali kalau ada meeting yang mengharuskannya hadir di kantor.


Raditya masuk ke dalam mobil. Hatinya merasa berat meninggalkan Lauren. Namun, Raditya juga tidak bisa mengabaikan pekerjaan penting yang harus segera ia selesaikan.


Sebagai pemilik perusahaan, tanggung jawab Raditya sangat besar. Ribuan pegawai bergantung padanya. Raditya tidak boleh melakukan kesalahan yang nantinya akan merugikan perusahaan dan berdampak pada semua pegawainya.

__ADS_1


Mobil Raditya melaju meninggalkan Lauren yang langsung tertunduk lesu. Wanita itu merasa sedih karena Raditya pergi ke luar kota. Lauren mengusap perutnya sambil bergumam.


"Nanti malam, kita tidur tanpa papa. Kamu yang sabar, ya, papa cuma pergi dua hari. Lusa, papa akan kembali," ucap Lauren lirih.


***


Lauren dan Monika sedang asyik menonton Drakor di kamar Lauren. Lauren yang begitu hobi menonton drama semenjak kehamilannya merasa senang karena adik iparnya ternyata sama seperti dirinya, sama-sama pecinta Drakor.


"Kak, lahirannya kapan sih? Aku sudah tidak sabar pengen lihat dede bayinya." Monika mengusap perut buncit Lauren.


"Sekitar sebulanan lagi mungil. Ini 'kan baru masuk bulan ke delapan," jawab Lauren sambil membuka toples berisi camilan yang baru saja dia ambil dari kulkas. Lauren memang menyetok segala macam camilan. Hampir setiap hari dia merasa lapar, padahal terkadang dia baru saja selesai makan.


"Dede bayinya laki-laki apa perempuan Kak?" Monika kembali bertanya. Kali ini, tangannya ikut mencomot keripik kentang di tangan Lauren.


"Benarkah?" Kedua mata Monika berbinar-binar mendengar ucapan Lauren.


Lauren mengangguk sambil tersenyum.


"Ya, ampun, jadi pengen punya anak juga," celetuk Monika yang langsung dijitak kepalanya oleh Lauren.

__ADS_1


"Sakit, Kak." Monika mengusap kepalanya.


"Lagian kamu tuh, ngomongnya asal saja."


"Dih! Siapa yang asal. Setelah lulus nanti, aku 'kan mau menikah," ucap Monika sungguh-sungguh.


"Ih, kamu tuh masih kecil, tapi pikiran kamu sudah pengen nikah aja. Harusnya mikirin tuh belajar bukannya mikirin nikah." Lauren merasa heran. Remaja seumuran Monika itu seharusnya masih berpikiran bebas. Bebas melakukan apa saja yang dia mau asal tidak menjaga martabatnya sebagai perempuan dan bisa menjaga dirinya sendiri.


"Kekasihku mengajak menikah."


***


"Halo, Sayang, kamu belum tidur?" Wajah Raditya muncul pada layar ponsel Lauren.


"Aku belum mengantuk," ucap Lauren. Namun, dalam hatinya ia berkata lain. Lauren tidak bisa tidur karena sudah terbiasa tidur sambil diusap perutnya oleh Raditya. Lauren merindukan Raditya.


Sedari tadi dia gelisah memikirkan suaminya. Raditya memang sudah sampai dari tadi siang, tetapi, dia baru sempat menelepon malam harinya karena harus menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu.


"Aku merindukanmu."

__ADS_1


"Aku juga," batin Lauren.


BERSAMBUNG


__ADS_2